Menjadi Jurnalis Televisi

Oleh Sirikit Syah

Ketika saya memutuskan untuk mundur dari SCTV pada tahun 1996, seorang teman dari TV Kroasia, Tena Perisin, merespon dengan cepat. Dalam emailnya dia bertanya, “Mengingat pengalaman kita waktu belajar bersama di AS, saya tidak menduga kamu akan mundur dari televisi. Bukankah televisi sebuah dunia yang sangat menyenangkan sekaligus menantang? Apa yang dapat membuatmu mundur dari dunia itu?”
Tentu, bagi kebanyakan orang, dunia televisi sangat menyenangkan dan menantang. Kebanyakan orang media cetak pindah ke televisi. Seperti Chris Kelana yang pindah dari Kompas ke RCTI, Yuli Sumartono dari Tempo ke SCTV, dan Arief Suditomo. Di ruang kerja saya di SCTV Surabaya, tahun 1996, Arief yang masih tergolong baru di SCTV berkata, “Aneh Mbak, saya dari Jakarta Post pindah jadi orang televisi. Mbak Sirikit malah dari SCTV jadi penulis lepas di Jakarta Post.”

Sebaliknya, jarang ada orang televisi pindah ke media cetak. Yang “kembali” seperti saya mungkin agak lebih banyak. Budiono Darsono, pimpinan detik.com, pernah mampir di SCTV beberapa bulan. Mantan orang Surabaya Post, Tempo, dan Detik itu malah mundur sebelum kontraknya di SCTV habis. Tena Perisin yang mengawali karir jurnalistiknya di televisi tentu tak dapat membandingkan beda keasyikan menjadi jurnalis televisi dan media cetak. Arief Suditomo yang memang –katanya- ingin menjadi orang televisi, dan ternyata dia memang berbakat besar di situ, sudah dengan tegas menentukan pilihan. Saya, setelah mengalami 6 tahun di Surabaya Post, 6 tahun di SCTV (tahun-tahun terakhir juga bekerja untuk RCTI), akhirnya memutuskan bahwa saya seorang penulis, bukan orang televisi.

Perbedaan Perlakuan

Suatu hari yang terik di jalanan menuju Gresik, tahun 1990, untuk pertamakalinya saya “turun lapangan” sebagai wartawan televisi. Saya dan kameraman berdiri di sebuah tenda yang disiapkan secara darurat bersama beberapa petugas. Sebentar lagi, jalan tol Surabaya Gresik akan diresmikan. Para pejabat dan konglomerat pemegang proyek akan tiba. Meskipun peliputan agak berbau KKN (pemilik proyek adalah pemilik SCTV juga), saya pikir ini toh layak berita. Jalan ini akan mengatasi kemacetan jalur super padat Surabaya Gresik pp.

Beberapa wartawan media cetak yang juga sudah datang, dan sudah saya kenal karena pengalaman saya menjadi wartawan Surabaya Post sejak 1984, terheran-heran melihat saya dan kameraman sudah datang. Pada tahun 1990-an itu, wartawan televisi swasta dianggap seperti selebriti (mungkin berkat bakat selebriti Desi Anwar). Bagi saya yang berasal dari wartawan koran, ini membuat risih. “Aneh juga ya, wartawan televisi tidak datang terlambat,” sindir kawan-kawan. Oohh, rupanya mereka mengeneralisir wartawan televisi, berdasarkan pengalaman mereka dengan TVRI.

Ketika menjadi wartawan koran tahun 1984-1990, saya mengalami dan merasakan yang sama dengan kawan-kawan itu. Seringkali kami –wartawan cetak- sudah tiba di tempat acara tepat waktu, demikian juga para pejabat atau tokoh yang berkepentingan, namun acara tidak segera dimulai. Mengapa? Menunggu crew TVRI. Mereka sedang dijemput dengan mobil khusus. Begitu kentalnya favoritisme pada TVRI (maklum, satu-satunya) di kalangan masyarakat, terutama penyelenggara kegiatan, kami merasa “diabaikan”. Wartawan TV tumbuh menjadi arogan. Acara benar-benar tidak dimulai tanpa kehadiran mereka. Mereka menjadi lebih penting dari pejabat.

Jadi, ketika menjadi wartawan televisi swasta, saya yang “trauma” dengan pengalaman itu bertekad tidak akan membuat kawan-kawan saya menunggu dan menjadi jengkel. Saya berusaha datang tepat waktu dan dengan tekun menolak setiap tawaran “antar jemput” dari pengundang. Saya selalu berusaha datang sendiri dengan kendaraan yang disediakan kantor. Demikian pula para yunior dan anak buah saya selanjutnya, saya tekankan untuk tidak menggunakan fasilitas pengundang atau nara sumber.

Harapan saya agar kami diperlakukan sama dengan wartawan media cetak ternyata tidak kesampaian. Yang terjadi, crew TV swasta mengambil alih peran favorit dan selebriti itu dari tangan crew TVRI. Pada awal tahun 90-an itu saya mendengar cerita-cerita crew RCTI yang membuat jengkel rekan-rekan media cetak di Jakarta. Konon kabarnya, kegiatan tak akan dimulai sebelum crew RCTI datang. Di Surabaya dan di Bali, pengundang atau nara sumber atau subyek berita selalu berusaha mengistimewakan kami. Pernah dalam liputan ke Singaraja, Bali, pulang-pulang mobil kami dipenuhi peti-peti anggur. Oleh-oleh itu saya bawa langsung ke kantor dan dibagi rata. Beberapa bulan kemudian, ketika panen anggur, masih ada lagi kiriman anggur-anggur dari Singaraja, meskipun kami tidak melakukan liputan.

Pengalaman saya di dunia televisi memang baru dimulai tahun 1990. Saya dapat menggolongkan diri saya, bersama rekan-rekan redaksi di RCTI yang lahir tahun 1989, sebagai generasi pertama televisi swasta Indonesia. Saya keluar dari Surabaya Post (jabatan terakhir kalau tidak salah redaktur bidang Budaya atau Internasional) dan melamar di SCTV yang baru berdiri di Surabaya, sebagai Program Manager. Saya penggemar film, pecinta seni, dan merasa yakin dapat menyusun program/acara televisi yang baik. Tetapi jabatan itu ternyata sangat tinggi dan hanya diberikan kepada “internal cycle” seperti anak jendral siapa, keponakan komisaris yang mana, dan seterusnya. Alhasil, terlanjur keluar dari Surabaya Post dan dapur harus terus berasap, saya menerima lowongan sebagai staf Humas (bayangkan! Seorang mantan redaktur surat kabar menjadi bawahan seorang fresh graduate di bidang yang bukan menjadi tujuannya). Saya benar-benar mulai dari zero point.

Syukurlah, dalam perkembangannya, SCTV kemudian memiliki Departemen Produksi, dimana ternyata pengalaman saya sebagai wartawan diperlukan. Di Departemen Produksi kami memproduksi berita yang dikirim ke RCTI untuk disiarkan di program Seputar Indonesia. Sebelum memiliki Liputan 6, SCTV merelay siaran itu. Mula-mula ditayangkan seminggu sekali, Seputar Indonesia kemudian ditayangkan dua kali seminggu, hingga 5 hari seminggu.

Perkembangan selanjutnya adalah lahirnya program Nuansa Pagi yang panjangnya 2 jam dan disiarkan langsung (live) setiap pagi. Saya masih ingat betapa paniknya kami di redaksi menyiapkan 2 jam berita setiap pagi. “PFG (Peter F Gontha) mau meniru Good Morning America rupanya,” kata seorang kawan redaksi bersungut-sungut. Mengetahui tidak mudah menyiapkan berita sepanjang 3 jam setiap hari (setengah jam lagi di Buletin Siang dan setengah jam di Seputar Indonesia), PFG memutuskan Nuansa Pagi boleh diisi berita yang diulang-ulang.

Biasanya kami di Surabaya/SCTV mengirimkan news pieces (berita yang sudah diedit), yang kasetnya dikirim lewat udara dengan dititipkan pada awak pesawat. Staf RCTI akan mengambilnya di Bandara Soekarno Hatta. Tentu sebagai “orang daerah”, ada kisah-kisah kekecewaan saat kaset kiriman kami tidak diambil dan berita-berita dari Surabaya dan Bali tidak ditayangkan. Untuk menutupi kekecewaan, kami kemudian membuat newscast sendiri, yang kami beri nama Jurnal SCTV. Ini program berita yang independen dari Seputar Indonesianya RCTI, dan ditayangkan mula-mula seminggu sekali (setengah jam), kemudian seminggu dua kali.

Jadi, pada kurun waktu 1991-1994 itu SCTV memiliki program berita nasional (relay dari RCTI, yang sebagian beritanya adalah kiriman kami juga), dan berita daerah yang independen. (Kalau dipikir sekarang, SCTV sudah melakukan desentralisasi dan memproduksi local oriented news beberapa tahun yang lalu. Kemudian manajemen memutuskan memusatkan kegiatan siarannya di Jakarta. SCTV yang semula dapat siaran langsung dari dua kota sekaligus –satu-satunya TV swasta yang mampu berbuat demikian- mencabut kewenangan stasiun Surabaya dan bahkan menutup kantor redaksi Surabaya. Bukankah itu sebuah kemunduran?).

Salah satu presenter dan asisten produser Jurnal SCTV, Edy Wahyudi, kini menjadi produser berita di Metro TV. Pada masa itu, SCTV telah memiliki Departemen Pemberitaan yang beranggotakan 30 staf redaksi yang memasok 30-40% materi Seputar Indonesia, Bulletin Siang, dan Nuansa Pagi. Sebagian besar –kalau tidak semua- staf Pemberitaan di SCTV mendapat gaji dari PT Sindo yang berkedudukan di RCTI. Baru pada kira-kira tahun 1995, SCTV benar-benar lepas dari RCTI. Staf redaksi terpecah, ada yang ikut RCTI, ada yang tetap di SCTV.

Team Work

Bagi orang yang baru memasuki duni televisi, ini benar-benar sebuah pekerjaan yang menyenangkan dan menantang. People look up to you. PT Sindo mewajibkan reporternya on camera (saya sangat setuju dengan kebijakan ini karena ini seperti tanda tangan dalam lukisan atau by line dalam tulisan; artinya, yang bertanggungjawab kelihatan). Namun ini malah memberikan efek yang tak pernah saya perkirakan. Para reporter yang mula-mula malu-malu dan ragu-ragu on camera (atau melakukan stand up), lama-lama keasyikan karena menjadi dikenal publik. Mereka tampak menikmatinya; ada yang on cameranya kelamaan, ada yang over acting, dll.

Bagi saya yang bukan pemain baru di dunia media massa, menjadi reporter televisi adalah pekerjaan yang sangat, bahkan terlalu, gampang. Saking gampangnya sehingga membosankan, dan saking remehnya menjadi menjengkelkan. Yang sulit adalah: menjaga hubungan team work. Dalam pelatihan-pelatihan (terimakasih pada PT Sindo/RCTI yang banyak mendidik saya), dengan mengundang para ahli dari Amerika, selalu ditekankan bahwa cameraman and reporter are husband and wife. Harus kompak. Tetapi kenyataannya, justru bukan unsur kekompakan suami istri yang keluar, melainkan unsur pertengkarannya. Reporter mau kemana, kameraman mau kemana. Reporter sok pinter, kamareman sok tahu. Jarang sekali keduanya ketemu. Ini bukan sekadar pengalaman pribadi. Membawahi sekitar 30 staf liputan, tidak jarang saya mendapati reporter pulang dari liputan menangis (biasanya reporter cewek) dan mengeluhkan ulah kameraman. Atau, kameraman yang mengeluhkan perilaku reporter. Siane Indriani, mantan reporter/produser di RCTI, kini di Lippo.Com, pernah gagal liputan karena kameramannya pulang sendiri, tak sabar menunggu nara sumber. Kasus-kasus seperti ini harus dirapatkan dan diselesaikan antara Department Heads (saya dari News dan Rachmat Akbari dari Tehnik yang menyediakan tenaga kameraman).

Saya pun mengalami professional schock dan sempat stress ketika setiap kali liputan saya harus mencari-cari kameramannya (pada tahun-tahun awal, untuk meliput, kameraman masih pinjam dari Departemen Tehnik), yang seringkali sengaja sembunyi. Mereka tidak suka menjadi kameraman liputan di lapangan. Mereka lebih suka menjadi kameraman studio (musik, sinetron, dll). Setelah kameramannya ketemu, cari sopirnya. Setelah semua ketemu, berangkat, kami terlambat tiba di tempat. Hal-hal seperti ini membuat kami, reporter televisi, merasa dependent dan powerless. Di dunia televisi, tak ada liputan tanpa kameraman. Tak ada tayangan tanpa gambar.

Mungkin juga pada dasarnya saya seorang pekerja individu. Konsep team work di televisi membingungkan saya. Ketika menjadi wartawan koran, saya bebas melakukan liputan dengan berkendaraan sepeda motor atau naik bemo (angkutan kota khas Surabaya). Saya bahkan membawa tustel sendiri. Saya tidak tergantung pada siapa-siapa. Hari-hari pertama menjadi wartawan baru di Surabaya Post, saya menulis 3 sampai 4 berita sehari, tergolong wartawan paling produktif dan menulis secara press klaar. Baru 1,5 tahun, almarhum Ibu Toety Azis menghadiahi saya “jalan-jalan” ke Jepang dengan fasilitas eksekutif. Dua tahun kemudian saya ke Jepang lagi (lebih lama) atas sponsor Confederation of Asean Journalist dan Serikat Penerbit Jepang. Itu karena saya dianggap penulis yang baik.

Ketika di televisi, saya harus tergantung pada orang lain. Dan ini menjengkelkan. Saya tidak tahan bekerja di lapangan dengan anggota tim yang “sulit”, “enggan”, dan tidak memiliki “jiwa reportase”. Untung, saya segera masuk kotak, menjadi koordinator liputan untuk Indonesia Timur (untuk SCTV & RCTI). Ternyata konsep team work ini juga sulit diterapkan pada orang-orang lain.

Seorang kameraman SCTV di Surabaya pernah ikut kapal perang ALRI yang hendak melakukan latihan perang di perairan pulau Jawa, tanpa wartawan! Ceritanya, mereka sudah janjian berangkat dari kantor. Pada jam yang sudah riskan, reporter tidak datang. Kameraman berangkat duluan dengan pesan, bertemu di pangkalan Armatim. Kapal tak dapat menunggu wartawan, bukan? Ini kapal perang dan berhubungan dengan negara lain (kalau tidak salah Australia). Lama menunggu rekan wartawan tidak datang juga, kameraman memutuskan masuk kapal. Ketika kapal merenggang dari pelabuhan Tanjung Perak, hanya beberapa meter, sang reporter baru datang, berteriak-teriak, melambai-lambai. Persis drama. Semua wartawan lain di atas kapal ketawa melihatnya, termasuk para awak kapal. Mana mungkin kapal balik lagi menjemput reporter SCTV? Reporter bernama Benito Lopulalan itu tidak tahan lama di SCTV. Latar belakangnya sebagai penulis freelance tidak cocok dengan ketatnya timing dan team work di SCTV. Dalam kasus itu, untung kameraman yang ada di kapal. Gambar lebih penting, bukan? Bagaimana kalau kameraman yang terlambat?

Kejutan kedua yang saya alami adalah betapa tidak pentingnya narasi dibanding gambar. And I am a writing person! Kalau biasanya menulis paling sedikit 3 kolom, bahkan tak jarang bersambung, kini hanya diperlukan 3 paragraf (maksimal!). Wawancara mendalam dengan nara sumber, yang digunakan hanya 30 detik! (ini standar kutipan dalam news piece). Bayangkan betapa repotnya kalau nara sumber bicara di kamera, “Kami tidak setuju karena pertama …, kedua …., ketiga …” Aduh, kaki kameraman sudah menjejak kaki saya karena kelelahan menahan kamera seberat 20 kg. Apalagi kami tahu pasti itu semua tak akan dipakai.

Ketika saya menjadi wartawan lapangan, tak ada yang mengajari saya hal-hal seperti ini, karena bukankah saya angkatan pertama wartawan televisi swasta di Surabaya? Yunior dan anak buah saya mendapatkan pelajaran dari pengalaman saya. Kalau mewawancarai nara sumber, beritahu yang bersangkutan agar tak berbicara terlalu panjang. Toh nanti diedit. Saya pernah marah ketika seorang reporter membawa setumpuk kaset untuk sebuah feature tentang Reog Ponorogo dan seorang nara sumber berbicara sepanjang tiga kaset (@ 30 menit). Ini menyulitkan editing dan tidak efisien. Perbandingan standar antara pengambilan gambar di lapangan dan kebutuhan tayang adalah 10:1. Bila programnya berita (1 menit), gunakan kaset 10 menit saja untuk mengambil gambar dan wawancara. Bila program feautre 10 menit, gunakan kaset sepanjang 100 menit (3 kaset @ 30 menit atau 1 @ 90 menit).

Yang paling tidak menyenangkan adalah bila reporter memiliki berita in depth yang menarik, tetapi kameraman gagal mendapatkan gambar. Hasil news gathering yang lengkap dengan enteng didrop alias dibatalkan. Jadi, berita TV adalah gambar, gambar, gambar! Tentu ada televisi yang memaksakan hanya ada laporan suara (misalnya TVRI, berita dari jauh). Menurut standar jurnalisme televisi, itu tidak bagus. Apa bedanya dengan radio? Namun televisi tak kekurangan akal. Agar telepon dari lokasi jauh itu dapat diudarakan, maka diberi gambar peta lokasi atau foto atau sketsa.

Uniknya, kalau saya –sebagai mantan wartawan cetak- mengalami “penyusutan naskah”, para reporter baru yang berasal dari radio mengalami “perluasan naskah”. Orang-orang radio yang terkenal di Surabaya, seperti Bambang Purwadi dan Driantama (sekarang di RCTI), masuk SCTV dengan konsep radio. Saya harus sering mengembalikan mereka ke lapangan karena data gatheringnya lemah sekali, tak mencukupi untuk membuat narasi yang baik. Sepertinya, untuk wartawan radio, yang penting merekam suara. Tidak mencatat data. Di radio, suara Pangdam 3 kalimat sudah bisa jadi berita. Di TV, gambar Pangdam bicara lebih dari 1 menit tanpa dukungan gambar lainnya adalah tidak layak tayang. Wartawan radio cenderung merekam tokoh berbicara. Tanpa narasi yang berkedalaman, tanpa cukup data, dan tanpa dukungan gambar lain.

Beberapa wartawan yang pindahan dari media cetak seperti Siane Indriani (dari harian Surya ke SCTV lalu RCTI) dan Edy Wahyudi (dari Surabaya Post ke SCTV dan kini di Metro) mungkin mengalami kesulitan seperti saya, tetapi kalau mereka menyukai profesi baru ini (tidak seperti saya), mereka akan dengan cepat tune in, dan tak mengalami kesulitan berarti.

Amplop

Soal amplop, terdapat perbedaan antara wartawan cetak dan televisi. Kata kawan-kawan: “Wartawan televisi amplopnya lebih tebal!” Yang saya maksud bukan itu, melainkan, sebagai wartawan TV, kami tak dapat mengambil keputusan sendiri. Berdasarkan pengalaman sendiri maupun pengalaman anak buah, reporter yang anti amplop akan mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari anggota tim yang lain, misalnya kameraman dan sopir. Kameraman dan sopir melakukan praktik like and dislike terhadap reporter berdasarkan sedikit/banyaknya rezeki yang mereka terima. Itu mengganggu kinerja dan, tentu saja, sangat menyulitkan reporter. Di lain pihak, tak sedikit kameraman merasa diperalat oleh reporter yang “main mata” dengan nara sumber, lalu “amplop”nya tidak dibagi rata pada crew liputan. Ini jelas menganggu kepercayaan tim. Ada juga kameraman yang curiga, padahal reporter tidak menerima amplop, lalu menolak permintaan mengambil gambar-gambar yang dikehendaki cerita.

Saya pernah meliput penggunaan pesawat baru Bouraq. Saya tidak menerima amplop. Lalu berita yang ditayangkan adalah gambar-gambar yang kelihatan sangat kentara dipaksanakan agar tidak muncul tulisan Bouraq sedikitpun. Itu tentu sangat sulit. Jadi tak ada gambar pesawat dari luar (padahal beritanya tentang pesawat baru), tak ada gambar kursi pesawat (karena ada tulisan Bouraq), dan lain-lain. Yang ada adalah gambar orang-orang (medium close up) dan suasana di Bandara Juanda. Menurut saya, secara standar jurnalistik, berita itu gagal karena tidak menceritakan yang dimaksudkan oleh narasi. Itu karena kameraman (Edy Gendut, dari SCTV ke RCTI) curiga kepada saya dan secara sepihak “membantai” liputan saya.

Saya juga pernah menolak amplop, namun ketika mengedit gambar di editing room, kameraman menunjukkan amplopnya, “Mbak, saya tadi diberi ini.” Saya protes, kok diterima? Dia bilang dipaksa. Wajahnya cukup memelas, dan membuat saya mengizinkannya membagi uang itu dengan sopir (seharusnya kami mengembalikan kepada nara sumber atau kepada pimpinan). Itulah bedanya. Di media cetak, keputusan sepenuhnya di tangan Anda. Di televisi, seorang anggota tim bisa menolak amplop, anggota yang lain belum tentu.

Padahal persoalan amplop ini sangat menyulitkan. Sebagai koordinator Surabaya, saya juga sering menerima telepon dari orang yang pernah memberi amplop pada crew liputan. Sehari bisa 3 kali telepon, orang yang sama, selama 7 hari seminggu. “Kapan ditayangkan, saya tunggu-tunggu ….” Sampai bosan menjawabnya, bahwa keputusan penayangan ada di tangan produser berita di Jakarta (Seputar Indonesia).

Saya dengar sekarang di Metro TV ada pedoman, “Lebih baik menolak amplop daripada dipecat Metro.” Krisma Al-Banjar, presenter freelance di Metro, mengakui Metro membayar honor dan gaji tinggi. “Sehingga kalau dipecat dari Metro, belum tentu dapat pekerjaan dengan gaji yang sama baiknya,” kata cewek yang meloncat dari SCTV ke Anteve, BBC, lalu hinggap di Metro ini.

PT. Sindo/RCTI juga sudah lama menerapkan peraturan itu. Yang ketahuan terima amplop, tanpa ampun, dipecat. Tapi memang pada kenyataannya, jauh lebih banyak yang tidak ketahuan dan aman-aman saja, meskipun wartawan televisi menerima amplop. Ada yang bilang, tertangkap atau tidak, tergantung pada keadilan kita membagi rezeki dengan anggota crew. Reporter anak buah saya pernah dipecat karena dilaporkan rekan timnya, kameraman dan sopir. Ternyata, anggota tim sakit hati karena reporter suka mengantungi amplop sendiri.

Satu-satunya stasiun televisi yang secara resmi dan terbuka mengatakan “tak dapat menerapkan kebijakan anti amplop” adalah TPI. Dalam sebuah seminar HUT AJI di Jakarta tahun lalu (2000), Haris Jauhari, salah seorang pendiri IJTI dan kalau tidak salah juga anggota/pengurus IJTI dan AJI, dan juga komandan Newsroom TPI, mengatakan dalam ceramahnya, “Mohon maaf, anti amplop tak dapat diterapkan. Saya dimusuhi anak buah.”

Di Surabaya, reporter Metro yang anti amplop, Asvin, mengaku sering dimusuhi kawan-kawannya dari station TV lain karena menolak amplop. Kadang-kadang juga dicurigai. Ketika meliput Pasukan Berani Mati di hutan-hutan Banyuwangi saat mereka berlatih berhari-hari, rekan-rekannya bertanya, “Dapat berapa?”. Padahal dia hanya menjalankan tugas dan tidak menerima apa-apa dari NU atau PKB.

Baru-baru ini ketika mengajar tentang program dan produksi televisi di Kalimantan Timur (mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Univ. Dr. Soetomo), saya dikejutkan informasi bahwa para koresponden TV swasta di Kaltim pun sangat suka amplop. Para mahasiswa yang hampir semua pejabat di Kaltim itu punya kisah-kisah nyata. Kalau TVRI memungut biaya, memang sudah menjadi pengetahuan umum. Mengundang, bayar dulu, dengan tanda bukti pembayaran resmi. Lalu, jangan lupa, amplopnya untuk crew, karena yang tadi masuk administrasi station. Tapi TV swasta? Untuk mengundang koresponden TV swasta di daerah, ternyata harus ada amplopnya juga (ini pengetahuan yang baru bagi saya).

Sebagai aktivis media watch yang mendukung kampanye anti amplop, saya katakan pada para nara sumber itu, “Ya, para wartawan TV swasta itu jangan diberi uang Pak.” Mereka menjawab, “Nanti berita kami tidak ditayangkan.” Saya bilang, kalau memang tidak menarik atau penting ya jangan dipaksakan untuk ditayangkan dengan menyuap wartawan. Itu sama dengan membohongi pemirsa televisi. Para nara sumber itu tidak sepakat dengan saya. Ya, mereka mau juga memberi amplop, asal bisa ditayangkan Padahal kewenangan tayang berada di tangan redaktur nasional atau koordinator daerah? Bagaimana berita-berita berbau amplop tadi memiliki jaminan untuk tayang? Ini sebuah misteri bagi saya.

Profesionalisme

Pernah nonton Up Close and Personal? Di film itu Michelle Pfeiffer yang baru diterima menjadi staf di sebuah Newsroom digambarkan pada awal-awal masa kerjanya lebih difungsikan sebagai go buffer. Menonton film itu saya jadi teringat pengalaman magang di WHTV-5 di kota Syracuse, New York State, Amerika Serikat, yang berafiliasi dengan CBS, dan ketika magang di CNN Biro Washington DC pada tahun 1995.

Sebagai mahasiswa magang, jangan mimpi langsung mendapat peran sebagai reporter yang muncul di muka kamera –meskipun pengalaman saya menjadi wartawan televisi sudah 5 tahun! Di WHTV-5 Syracuse, saya menjadi go buffer juga; itu istilah untuk “orang yang disuruh-suruh mengerjakan apa saja, termasuk menyobeki kertas naskah presenter atau membuatkan kopi produser”. Baru ketika bulan Ramadhan tiba, saya dimintai pendapat dan terlibat aktif dalam perencanaan liputan. Saya juga ikut tim liputan sebagai asisten reporter. Maklum, itu pertamakalinya Universitas Syracuse memberi warna merah (libur) pada kalender akademiknya. Bagi warga kota berpenduduk 2 juta jiwa yang mayoritas Yahudi itu, ini berita menarik.

Maka saya masuk tim yang melakukan liputan ke masjid dan kampus dan membuat satu feature tentang Ramadhan. Selain saya jadi lebih dicintai para jemaah masjid Syracuse (dikiranya ide TV Syracuse meliput Ramadhan itu datang dari saya), saya juga berhasil memprovokasi tim liputan untuk mengambil gambar pada hari di mana warga Indonesia menjadi tuan rumah takjil. Dengan demikian, jenis makanan yang disajikan dan suasananya jelas berbau Indonesia.

Di CNN Washington D.C., sebagai intern, saya juga cuma datang pagi-pagi, ikut rapat 3 kali sehari (pagi, siang, sore menjelang pulang), menyimak pekerjaan koordinator liputan, dan kadang-kadang saja boleh ikut liputan atau memilihkan gambar di ruang edit. Saya dikirim ke Gedung Putih hanya karena mengirim barang yang ditunggu reporter CNN di sana, dan ternyata masuknya mudah sekali. Bilang saja ‘CNN Intern’, dicek ID-nya, lalu pintu gerbang dibuka. Maka masuklah saya ke ruang pers Gedung Putih yang kursi-kursinya sudah ditulisi nama-nama media besar seperti CNN, The Washington Post, Reuter, BBC, dll (yang tak termasuk, silakan berdiri saja di pinggir). Saya juga berkelana ke bilik-bilik sempit di belakang ruang pers itu, yang hanya dimiliki media-media besar sebagai kantor cabang mereka di Gedung Putih.

Seringkali sebagai intern sesungguhnya tugas saya cuma mengumpulkan footage dokumentasi yang akan dipakai untuk melengkapi laporan reporter. Asal tahu saja, reporter Gedung Putih itu cuma ngomong di depan kamera tentang apa yang terjadi. Gambar selebihnya? Silakan produser melengkapinya. Produser inilah yang menyuruh-nyuruh saya mencari kelengkapan gambar, baik dari perpustakaan (berupa tape) maupun minta dari kantor pusat Atlanta lewat satelite. Semuanya dibawa ke ruang edit dan saya dipercaya memilih gambar, bersama editor, yang sesuai dengan informasi yang diterima dari sang reporter gedung putih. Reporter, yang luar biasa terkenal seperti selebriti itu, tak usah repot-repot cari gambar dengan kameraman kesana kemari. Datang-datang tinggal isi suara (voice over) pada gambar yang telah diedit, lalu pergi lagi.

Yang paling menarik bagi saya adalah membandingkan profesionalisme crew TV Amerika dan Indonesia. Saat pertama liputan dengan crew WHTV-5 Syracuse, secara natural dan otomatis saya hendak mengangkat barang-barang (microphone, gulungan kabel, baterai, dll). Dengan keras kameraman membentak saya. “Don’t touch. That’s my responsibility.” Lalu saya kemukakan bahwa saya ingin membantu. Dia menegaskan, “Thank you, but don’t.” Lalu kameraman itu dengan cekatan mengangkut kamera di pundaknya sambil kedua tangannya membawa segala macam peralatan tadi.

Saya teringat di Indonesia. Reporter harus bersedia membantu kameraman membawa apa saja kecuali kamera. Kalau tidak, kameraman tak akan dengan senang hati mengambil gambar sesuai arahan reporter. Jadi, di Indonesia, kameraman hanya membawa kamera. Kalau reporter juga keberatan membawa-bawa barang, harus ada crew lain yang membantu. Di AS, saya terkagum-kagum dengan profesionalisme kameraman tersebut.

Di NY1, sebuah stasiun khusus berita di New York, saya juga mengalami kejutan profesional ini. Memasuki ruang edit, saya bermaksud ikutan memutar-mutar tombol mencari gambar. Pemandu saya mengingatkan, “Jangan Sirikit. Kita para reporter dilarang keras menyentuh barang-barang tehnik. Union (Serikat) tak akan senang dengan tindakan itu.” Jadi, ada Union untuk crew Tehnik yang menjaga profesionalisme dan memberikan perlindungan pada karyawan.

Namun praktik di SCTV/RCTI ada positifnya juga. Kelonggaran kawan-kawan Tehnik mempersilakan kami (reporter) memegang kamera dan alat edit serta mengoperasikannya, membuat kami lebih trampil. Di Newsroom SCTV, para reporter saya anjurkan belajar mengoperasikan kamera dan alat edit. Ketika terjadi kekurangan kameraman, reporter dapat pergi sendiri membawa kamera. Dalam beberapa kasus, micropohone untuk wawancara dipegang oleh nara sumber sendiri atau minta tolong rekan wartawan lain. Ketika crew Tehnik memboikot atau mogok mengedit, staf News bisa melakukannya sendiri.

Sekitar tahun 1992, di Kalimantan Tengah, saya dipuji-puji orang karena begitu cekatan seusai wawancara beberapa nara sumber dan reporting on camera, saya menggulung kabel dan membereskan peralatan. “Hebat ya Mbak Sirikit ini, reporter merangkap pembantu kameraman. Kok hanya berdua saja meliput kegiatan ini.” Tentu dia membandingkan dengan TVRI, yang kebetulan saya temui juga dan malah menginap di tempat yang sama, yang beranggotakan 8-9 crew. “Kami TV swasta, Pak. Harus hemat biaya. Jadi harus dua saja yang berangkat,” kata saya. Setelah pengalaman di AS, saya menyadari bahwa sesungguhnya saya telah melakukan hal-hal yang dianggap tidak profesional. Dan saya melakukan itu agar disukai kameraman, agar pekerjaan berjalan lancar. Itulah, antara lain, yang membuat saya kembali ke media cetak.

Di media cetak, seseorang dapat menjadi dirinya sendiri, dapat menulis lebih lengkap dan komprehensif, lebih ekspresif. Tentu banyak juga kelebihan media televisi; antara lain lebih cepat, lebih ringkas, dan jelas lebih berpengaruh. Pernah saya datang dengan kameraman ke sebuah pertemuan para sopir taksi Zebra yang mogok dengan pimpinan perusahaan. Melihat kami, ratusan sopir itu overacting di depan kamera dan situasi yang seharusnya dalam tahap penyelesaian itu di kamera (layar kaca) kelihatan riuh lagi. Bahayanya, televisi yang dianggap eye witness (saksi mata) ini kelewat dipercaya. Padahal ada juga gambar yang direkayasa. Seorang mantan anak buah saya yang berinisial VJ pernah mengaku telah memprovokasi siswa SMEA melalui pembicaraan telepon untuk demonstrasi keesokan harinya dengan janji diliput SCTV/RCTI.

Di televisi, reporter dapat lebih cepat terkenal daripada wartawan cetak. Di Amerika, gaji reporter yang juga presenter setaraf News Director, karena jatuh bangunnya sebuah program dan naik turunnya rating terletak pada para presenter/reporter. Meskipun demikian, posisinya pun paling riskan (mudah diganti/dicopot).

Bagaimanapun, ada hal-hal yang berkesan dari karir saya di televisi yang cuma 6 tahun itu. Saya ikut mengalami ketegangan ketika Adolf Posumah (RCTI) nyaris dipecat karena membacakan opening (pengantar berita) yang intinya “Perkawinan anak Sudwikatmono ini termahal di Indonesia”. Seorang koresponden di Makassar harus dipecat karena mengirim berita wawancara dengan M Yusuf tentang keberadaan dan keaslian Supersemar. Tayangan itu ternyata membuat berang para “Big Boss”. Saya protes pada keputusan itu karena menurut saya tugas koresponden/reporter di lapangan adalah mencari berita sebaik-baiknya dan sebebas-bebasnya. Tugas redaktur dan produserlah untuk menentukan/menyaring yang layak tayang atau tidak. Jadi, tanggungjawabnya terletak pada produser berita, bukan pada koresponden. Dalam rapat di RCTI itu ketika saya berdiri dan mengajukan protes, PFG mengatakan, “Anda harus tahu bekerja di mana, di perusahaannya siapa, apa saja jaringannya. Kalau tidak setuju, silakan, pintu terbuka lebar.” PFG menunjuk pintu keluar. Kawan-kawan yang merasa terinspirasi oleh “orang daerah yang nekad” ini terdiam. Memikirkan kebutuhan hidup, saya duduk kembali dan menerima nasib.

Namun itu hanya permulaan. Keengganan meliput atau menugasi crew meliput perjalanan dan kegiatan Harmoko (entah sebagai Menpen atau Ketua Golkar) yang tak henti-hentinya membuat saya sering berseteru dengan pimpinan. Apalagi ketika Chris Kelana, Direktur PT Sindo yang menggaji kami, menjadi pimpinan Golkar dan sering mendampingi Harmoko. Seremeh apapun kegiatannya, Golkar adalah topik wajib liput. Seperti halnya pada Pemilu 1992, Pemilu 1997 membuat layar kaca televisi dipenuhi warna kuning. Kalau warna kuning di TVRI, maklum, karena TV pemerintah. Tapi warna kuning juga memenuhi layar RCTI dan SCTV. Syukurlah, tahun 1997 itu saya sudah tidak di situ.

Sirikit Syah untuk Pantau 1999

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

6 Responses to Menjadi Jurnalis Televisi

  1. Florentina mengatakan:

    Hey there have you been with Fb?? Will be excellent to read any future posts

  2. Audrea mengatakan:

    Dazzling article. Exactly what your own resources?? Always find it a little difficult to start

  3. bmw mengatakan:

    The design is a real gem. This kind of thing makes a massive difference when reading a blog.
    You’ve certainly got me returning for You’ve definitely got my
    seal of approval.

  4. We Sell Any Car mengatakan:

    Yo, extremely fantastic guide.

  5. iphone mengatakan:

    Back in December, a French Web site dug up alleged photos
    of the iphone to everyone on January 9, 2007, by Steve Jobs himself.

    It is currently for sale in the UK, come complete with preloaded maps, meaning they will
    work when roaming is switched off or in poor signal coverage areas.

    Current iPad models do not have any earlier experience of developing
    apps.

  6. iphone mengatakan:

    The revelation led many tech journalists to speculate that the Apple iphone is
    more reliable than another is hard for me to do.

    Yet unlike many competitors, this isn’t a plastic, insubstantial-feeling device. The iphone 4 has a bigger display. The winner: Samsung Galaxy S3ScreenThe iphone 4 S launch did not come until October, after Apple is expected to be called Galaxy S IV.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s