Pasukan Berani Mati di Mata Media

“Kenangan Era Gus Dur”

Wacana kekerasan tak pernah lepas dalam konstruksi berita, bahkan dapat dikatakan telah menjadi hegemoni media massa. Berbagai permasalahan di kaji dalam wacana kekerasan, dan telah membentuk steroptip dalam masyarakat. Termaksuk dalam hal ini perilaku pers dalam konstruksi fenomena Pasukan Berani Mati.

•••••••••••••••••••••••

ADANYA isu dijatuhkannya Memorandum oleh DPR mendapat reaksi keras masyarakat, terutama para pendukung Gus Dur. Akibatnya, beberapa ulama membentuk Front Pembela sebagai Pasukan Berani Mati. Kelompok ini dibentuk untuk mendukung kepimpinan Presiden Abdurrahman Wahid dan melindunginya dari usaha orang-orang yang ingin menjatuhkannya. Mereka berasal dari kota-kota Jawa Timur seperti Banyu Wangi, Jember, Malang dan Surabaya. Sebagai kelompok pembela Gus Dur mereka dilatih ala militer, dan dibekali kemampuan “khusus” untuk menghadapi para musuh Gus Dur. Baca tulisan ini lebih lanjut

SBY dan RCTI Langgar Aturan Kampanye?

(Dandhy D Laksono, freelance journalist)

Sabtu sore (13/6/09) setelah program Seputar Indonesia di RCTI, calon presiden nomor urut 2, Susilo Bambang Yudhoyono tiba-tiba muncul di layar, melakukan orasi dalam rangka kampanye. Durasinya kira-kira 30 menitan.

Berkemeja biru di atas podium berlogo “SBY Presidenku”, kandidat incumbent ini berkampanye dan mengkritik pesaingnya yang memanfaatkan forum deklarasi kampanye damai, untuk menyindir-nyindir pemerintahannya. Tak hanya pidato SBY, forum kampanye yang disiarkan RCTI itu juga memuat pidato Boediono, tanya jawab dengan hadirin, dan acara menyanyi yang dilantunkan Mike Idol (finalis Indonesian Idol).

Siaran itu jelas berbeda dengan talkshow-talkshow atau paparan visi-misi para capres yang dilakukan di televisi-televisi lain seperti dalam program Ring Politik (ANTV), Satu Jam Lebih Dekat (TV One), Kick Andy (Metro TV), atau Barometer (SCTV). Dalam program-program tersebut, capres memang berkampanye, tetapi ada pihak lain yang mengomentari, menggali, mengkritisi, bahkan mendebat. Ada proses dialog. Bukan monolog. Baca tulisan ini lebih lanjut

Media Surabaya Meliput Ponari

Di bulan Februari, banyak kejadian yang menjadi sorotan berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Di antaranya bencana banjir di Jawa Timur, kunjungan Hillary Clinton ke Indonesia, hingga persiapan pemilu legislatif bulan April mendatang. Di antara berita-berita penting di atas, masih menonjol pemberitaan tentang fenomena dukun cilik asal Jombang, Jawa Timur.

Ponari saat ini telah dicap oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai dukun yang sangat fenomenal. Tidak saja karena usianya yang masih sangat muda, namun terutama karena kemampuannya, yang menurut ribuan pasiennya, dia dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Setiap hari dia melayani ribuan pasien yang memenuhi halaman rumahnya. Baca tulisan ini lebih lanjut

Ekonomisasi Bahasa Berita

Oleh Suhartono*

Pentingnya ekonomisasi bahasa berita barangkali bukan lagi topik baru jika dikaitkan dengan bahasa dan komunikasi. Sudah lama orang mengerti, terutama di kalangan media massa, bahwa pemakaian bahasa yang ekonomis sangat penting. Masalahnya, menjadi baru jika hal itu dikaitkan dengan bidang ekonomi, karena pemakaian bahasa berita yang tidak ekonomis ternyata sangat merugikan konsumen. Hal itu secara ekstrim bahkan dapat dipersepsi sebagai sebuah bentuk kejahatan ekonomi. Jika persepsi itu benar, masalahnya menjadi panjang karena dari perspektif hukum, konsumen dapat mengajukan tuntutan hukum atau sejenisnya.

Sebuah sigi kecil yang saya lakukan terhadap bahasa berita, dalam headlines Jawa Pos, Surabaya Post, dan Surya edisi 9 Februari 2001 menghasilkan data seperti yang akan saya paparkan berikut ini. Ketiga koran itu dipilih dengan pertimbangan ketiganya merupakan koran terbitan Jawa Timur yang paling berpengaruh di Jawa Timur. Edisi 9 Februari dipilih karena edisi itu bertepatan dengan Hari Pers Nasional yang pada hari itu secara teoretis perhatian insan pers terhadap seluk beluk berita, khususnya headlines, berbeda dengan hari-hari lainnya. Baca tulisan ini lebih lanjut

Pers Lokal di Era Otonomi Daerah

Wahyu Dhyatmika*

Posisi apa yang kiranya diambil pers lokal kita dalam carut marut pelaksanaan otonomi daerah saat ini? Ambivalen. Kegamangan pers lokal dapat dilihat dari porsi dan tema pemberitaan media massa terbitan Surabaya soal otonomi daerah. Beberapa media massa memang memberikan ruang khusus untuk membahas kekurangan dan kelebihan konsep desentralisasi kewenangan pusat daerahnya. Potensi daerah yang bisa dikembangkan melalui implementasi otonomi daerah pun digeber habis di media massa. Ulasan pakar, day to day preparation birokrat pemerintah  menyambut 1 Januari 2001, tanggapan kalangan LSM, mahasiswa, rakyat kebanyakan, dimuat hampir setiap hari.

Di balik semua itu, tersirat kebingungan pers lokal dalam menentukan pilihan posisinya dalam era otonomi daerah. Bacalah headline harian terbitan Surabaya setiap hari selama seminggu, dan hitung beberapa kali sebuah peristiwa lokal menjadi berita utama di halaman pertama? Atau baca berita lokal yang dimuat di halaman pertama, lihat apakah narasumbernya tokoh  lokal atau bukan? Baca tulisan ini lebih lanjut