Bahasa Membentuk Dunia

Kolom antaranews.com

Ya. Bahasa membentuk dunia, tidak mencerminkannya. Bahasa tak lagi sekadar alat menyampaikan kabar, pesan, informasi. Bahasa adalah pesan itu sendiri. Bahasa dapat menyampaikan peristiwa konflik secara damai (membentuk dunia yang damai) atau secara penuh kebencian (menciptakan dunia yang saling bermusuhan). Roger Fowler, dosen bahasa di Universitas East Anglia, mengingatkan para mahasiswanya, pembaca media, dan juga para jurnalis, bahwa “Language can shape, rather than mirror, the world”.

Fowler memang melakukan studi yang cukup intens tentang bagaimana bahasa digunakan oleh media massa untuk membangun gagasan dan kepercayaan. “Language is not neutral, but a highly constructive mediator,” katanya dalam pengantar bukunya Language in the News, Discourse and Ideology in the Press (1991). Sebetulnya studi ini bukan hal baru di kalangan linguist (ahli linguistik). Noam Chomsky sudah lama menyoroti bagaimana media membelokkan makna sebenarnya dari realita, bagaimana media dipenuhi agenda setting dari para pemiliknya, dan bagaimana media –melalui bahasa yang digunakan- dapat menyesatkan pengetahuan atau opini publik (misleading). Baca tulisan ini lebih lanjut

Bahasa Media dan Pengaruhnya pada Masyarakat

Artikel Kolom
antaranews.com

Media massa dikenal sebagai pilar keempat demokrasi. Tapi tak banyak yang tahu bahwa media massa juga pilar keempat pendidikan. Pendidikan memiliki pilar-pilar utamanya: keluarga, sekolah, lingkungan. Pendidikan generasi muda dimulai dari dalam keluarganya, terutama dalam membangun karakter. Kemudian, dia mendapatkan pengayaan pengetahuan dari pendidikan formal di sekolah. Namun, lingkungan sebagai pilar ketiga tak sedikit membentuk bagaimana seseorang menjadi.

Lalu, dimana letak posisi media massa? Seberapa pentingkah media massa dalam membentuk pribadi seseorang dan –secara lebih luas- membangun sebuah bangsa? Mari kita berfokus pada bahasa, ya … karena ini bulan bahasa. Pertama-tama kita mesti mensyukuri adanya sumpah ketiga dalam Soempah Pemoeda, yaitu “Berbahasa Satoe, Bahasa Indonesia”. Sumpah ini menyatukan kita semua, beratus ras dan etnis dan bahasa. Dengan Bahasa Indonesia rakyat Aceh dapat berkomunikasi dengan rakyat Papua yang jaraknya ribuan kilometer. Orang Batak dapat bercengkerama dengan orang Madura dengan lelucon yang sama. Baca tulisan ini lebih lanjut

Kabar yang Tak Terkabarkan

Kolom antaranews.com

Kira-kira dua minggu yang lalu, dua warga negara Amerika Serikat dilepas dari penjara Iran  setelah ditahan selama dua tahun. Joshua Fattal dan Shane Bauer adalah pendaki gunung yang ditahan oleh pemerintah Iran dengan dakwaan melakukan spionase.

Di acara Jumpa Persnya di Manhattan, New York, keduanya menceriterakan pengalaman mereka sejak dituduh, ditahan, dan dipenjara selama dua tahun. Apapun alasan pemerintah Iran menahan keduanya, bagi Bauer jelas: “Alasan utamanya adalah adanya rasa permusuhan antara AS dan Iran yang telah berlangsung selama 32 tahun.” Jadi, mereka merasa menjadi korban dari hostility antar kedua negara. Baca tulisan ini lebih lanjut