Tugas Media

Salah satu tugas media adalah mengungkapkan percikan-percikan kebenaran.
Media massa tak dapat menjanjikan kebenaran, tetapi media massa wajib melaksanakan prosedur jurnalistik yang benar dan melaporkan percikan kebenaran.
Dari situ akan muncul kebenaran yang utuh dengan sendirinya.

Sirikit Syah

Iklan

Logika Bahasa Terbalik

Di Koran Jawa Pos hai ini 11 November 2011 halaman 3 ada bahasa yang janggal. Sebuah caption foto di berita utama halaman ini berbunyi; “HAJI BONEK: Para jamaah haji backpacker ketika keleleran di Mina. Mereka rela berhaji meski harus bermalam di pinggir jalan.”

Kalimat di atas seolah-olah haji itu berraaatt banget, sampai disebutkan “mereka rela berhaji meski .. …”.

Entah yang logika bahasanya terbalik reporter atau redakturnya?

Mungkin maksudnya: ” …… Mereka rela bermalam di pinggir jalan, demi bisa menunaikan ibadah haji.”

Bahasa Membentuk Dunia

Kolom antaranews.com

Ya. Bahasa membentuk dunia, tidak mencerminkannya. Bahasa tak lagi sekadar alat menyampaikan kabar, pesan, informasi. Bahasa adalah pesan itu sendiri. Bahasa dapat menyampaikan peristiwa konflik secara damai (membentuk dunia yang damai) atau secara penuh kebencian (menciptakan dunia yang saling bermusuhan). Roger Fowler, dosen bahasa di Universitas East Anglia, mengingatkan para mahasiswanya, pembaca media, dan juga para jurnalis, bahwa “Language can shape, rather than mirror, the world”.

Fowler memang melakukan studi yang cukup intens tentang bagaimana bahasa digunakan oleh media massa untuk membangun gagasan dan kepercayaan. “Language is not neutral, but a highly constructive mediator,” katanya dalam pengantar bukunya Language in the News, Discourse and Ideology in the Press (1991). Sebetulnya studi ini bukan hal baru di kalangan linguist (ahli linguistik). Noam Chomsky sudah lama menyoroti bagaimana media membelokkan makna sebenarnya dari realita, bagaimana media dipenuhi agenda setting dari para pemiliknya, dan bagaimana media –melalui bahasa yang digunakan- dapat menyesatkan pengetahuan atau opini publik (misleading). Baca pos ini lebih lanjut

Swedish journalists accused of terrorism face trial in Ethiopia

Martin Schibbye and Johan Persson were arrested travelling with rebels in a case that has prompted outrage in Sweden

Xan Rice in Nairobi
guardian.co.uk, Wednesday 19 October 2011

The Swedish journalist Martin Schibbye, who is charged with terrorism along with the photojournalist Johan Persson. Photograph: Kontingent Agency/EPA

Two Swedish journalists charged with terrorism in Ethiopia after being arrested during a battle between government troops and rebels will go on trial on Thursday.

The reporter Martin Schibbye and photojournalist Johan Persson, both freelancers, were detained in July while travelling with the Ogaden National Liberation Front (ONLF), a outlawed separatist movement. Ethiopia’s government insists the Swedes are terrorists, not journalists, and claims to have video footage of the two men training with the rebels. Baca pos ini lebih lanjut

Bahasa Media dan Pengaruhnya pada Masyarakat

Artikel Kolom
antaranews.com

Media massa dikenal sebagai pilar keempat demokrasi. Tapi tak banyak yang tahu bahwa media massa juga pilar keempat pendidikan. Pendidikan memiliki pilar-pilar utamanya: keluarga, sekolah, lingkungan. Pendidikan generasi muda dimulai dari dalam keluarganya, terutama dalam membangun karakter. Kemudian, dia mendapatkan pengayaan pengetahuan dari pendidikan formal di sekolah. Namun, lingkungan sebagai pilar ketiga tak sedikit membentuk bagaimana seseorang menjadi.

Lalu, dimana letak posisi media massa? Seberapa pentingkah media massa dalam membentuk pribadi seseorang dan –secara lebih luas- membangun sebuah bangsa? Mari kita berfokus pada bahasa, ya … karena ini bulan bahasa. Pertama-tama kita mesti mensyukuri adanya sumpah ketiga dalam Soempah Pemoeda, yaitu “Berbahasa Satoe, Bahasa Indonesia”. Sumpah ini menyatukan kita semua, beratus ras dan etnis dan bahasa. Dengan Bahasa Indonesia rakyat Aceh dapat berkomunikasi dengan rakyat Papua yang jaraknya ribuan kilometer. Orang Batak dapat bercengkerama dengan orang Madura dengan lelucon yang sama. Baca pos ini lebih lanjut

Kabar yang Tak Terkabarkan

Kolom antaranews.com

Kira-kira dua minggu yang lalu, dua warga negara Amerika Serikat dilepas dari penjara Iran  setelah ditahan selama dua tahun. Joshua Fattal dan Shane Bauer adalah pendaki gunung yang ditahan oleh pemerintah Iran dengan dakwaan melakukan spionase.

Di acara Jumpa Persnya di Manhattan, New York, keduanya menceriterakan pengalaman mereka sejak dituduh, ditahan, dan dipenjara selama dua tahun. Apapun alasan pemerintah Iran menahan keduanya, bagi Bauer jelas: “Alasan utamanya adalah adanya rasa permusuhan antara AS dan Iran yang telah berlangsung selama 32 tahun.” Jadi, mereka merasa menjadi korban dari hostility antar kedua negara. Baca pos ini lebih lanjut