Butera, Friedman, Umar Thalib

Oleh Sirikit Syah

Butera, Friedman, Umar Thalib, tiga nama yang sangat berbeda. Honore Butera adalah penyiar Radio Television Libre des Mile Collines di Rwanda pada tahun 1994-1995, Thomas L. Friedman adalah pengamat kebijakan luar negeri, kolumnis The New York Times, Djafar Umar Thalib adalah pimpinan Lasykar Jihad di Ambon tahun 2000an. Apa persamaan ketiga orang itu? Mereka menggunakan media massa untuk memprovokasi publik!

Bagi penggemar film, silakan menonton film Hotel Rwanda atau Sometimes in April, kisah pembantaian antara suku Huttu dan Tutsi di Rwanda tahun 1994-1995. Honore Butera adalah penyiar radio yang terus menerus memprovokasi/menghasut rakyat untuk saling bunuh-bunuhan. Lebih dari satu juta orang tewas –dari kedua suku. Butera telah diadili sebagai penjahat kemanusiaan di Mahkamah Internasional pada tahun 2004.

Djafar Umar Thalib dituduh melakukan provokasi dan penyebaran kebencian di Ambon, saat dia berceramah melalui radio dan mengajak rakyat Ambon melawan RMS dan antek-anteknya yang kerap mengibarkan bendera RMS (Republik Maluku Selatan) di wilayah NKRI. Dia diciduk dan dibawa ke Jakarta. Meskipun sulit dibuktikan, dia didakwa menyuburkan kebencian antar golongan di Ambon, memelihara konflik, dan menghambat perdamaian.

Thomas L. Friedman adalah komentator, analis, atau pengamat kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Dalam kolom-kolomnya di surat kabar dan wawancaranya di televisi, dia antara lain mendorong militer Amerika untuk “bomb Iraq over, over, and over again.” Agresi yang disarankan oleh Friedman itu telah menelan korban 2.600 tentara AS dan puluhan ribu warga Irak tak berdosa.

Bila Butera telah diadili, demikian juga dengan Umar Thalib, apakah Friedman dibiarkan saja? Banyak pengamat media di AS mulai menyoroti sepak terjang Friedman dan mempertanyakan hal ini. Robert Parry menulis di Consortium News “Why does Tom Friedman still have a job?” Apalagi setelah Friedman akhirnya mengakui bahwa invasi George W. Bush ke Irak bukan ide yang baik. “Semakin jelas bahwa kita ternyata tidak membidani demokrasi di Irak. Kita malah menjadi baby sitter sebuah perang sipil,” tulisnya di awal Agustus.

Toh, Friedman tak berhenti menghasut. Dua minggu kemudian, di koran yang sama –The New York Times- dia mengecam rakyat Amerika yang anti-perang. Kata Friedman, orang-orang anti-perang itu tak sadar bahwa mereka berada dalam perjuangan berskala lebih besar –mungkin yang dimaksudkannya adalah ancaman dari “ekstrimis Islam”. Dengan kata lain, kata Friedman, rakyat AS masih bodoh dan tak sadar pada ancaman yang lebih besar, sementara para politikus yang menyerang Irak –meskipun keliru- patut mendapat pujian karena kewaspadaannya.

Pandangan orang-orang media seperti inilah yang dapat membahayakan perdamaian dunia. Bila Napoleon lebih takut pada koran Paris daripada ribuan bayonet yang ditujukan padanya, atau Winston Churchill lebih takut pada pena daripada meriam, kita sekarang mesti takut pada orang-orang media yang bertindak provokatif seperti Butera dan Friedman. Dapat dibayangkan bila media mendapatkan kebebasan mutlak, kebebasan tanpa nilai dan rambu-rambu. Itu sebabnya, pers bebas tetap berada dalam koridor kode etik dan hukum media. Provokasi –meskipun dilakukan oleh media- termasuk kejahatan pidana (KUHP). Dalam Mahkamah Internasional, penyiar radio divonis sebagai penjahat kemanusiaan.

Orang-orang seperti Friedman, yang mengakui bahwa provokasinya terhadap agresi ke Irak ternyata keliru, masih saja meracuni pikiran orang bahwa ada ancaman lebih besar, dan pemerintah AS berhak curiga dan berhak melakukan serangan lebih dulu, meskipun nanti terbukti keliru. Friedman yang kerap muncul di PBS dan TV swasta AS lain dalam program-program terkenal seperti “Meet the Press”, “Face the Nation”, bahkan “Late Night with David Letterman”, dengan mudah meracuni pikiran rakyat AS untuk takut pada “ancaman-ancaman” yang mengarah pada golongan tertentu. Kepada Diane Sawyer dalam “Good Morning America”, Friedman mengatakan “Give war a chance”.

Itulah kesamaan Butera dengan Friedman: melakukan propganda yang menewaskan banyak sekali rakyat tak berdosa. Sejuta lebih di Rwanda, puluhan ribu di Irak. Perbedaannya: Butera tengah menjalani hukumannya, sementara Friedman masih menulis dan bercuap-cuap dengan bebasnya.

September 2006

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s