Immersion Journalism

Oleh Sirikit Syah

Saya terpaksa menggunakan istilah asing dalam judul tulisan kali ini. Ini suatu aliran baru dalam jurnalisme, dan mungkin belum ada terjemahan bahasa Indonesianya yang tepat. Immersion journalism adalah pendekatan jurnalistik yang dipraktikkan oleh seorang jurnalis melalui ‘menjadi’ subyek yang diliputnya, ‘immerse’ (berbaur) dengan lingkungannya, agar dapat lebih menghayati dan menghasilkan karya jurnalistik yang realistis dan menyuarakan kebenaran.

Di penghujung tahun 2005, dunia jurnalistik dihebohkan oleh seorang anak 16 tahun bernama Farris Hassan, pelajar Amerika Serikat, yang ingin melakukan praktikum jurnalistik di tempat paling berbahaya di dunia: Irak. Terlepas dari latar belakang orangtuanya yang asal Irak, Hassan lahir dan besar di AS, tak bisa berbahasa Arab, bergaya anak muda AS pada umumnya, lengkap dengan sepatu Nike dan celana jeans. Ulahnya itu bukan saja mencemaskan kedua orangtua yang tak dipamitinya, tetapi juga militer dan pemerintah AS, yang saat ini tengah sibuk memproses kepulangannya ke Florida.

Farris Hassan boleh saja dianggap sembrono, tetapi saya mengagumi keberanian dan idealismenya. Dia bukan sekadar mencari sensasi. Dia ingin melihat dan memotret kebenaran mengenai apa yang terjadi di Irak. Mungkin dia telah membaca banyak buku Noam Chomsky dan Robert Fisk. Mungkin keingintahuannya, atau nalarnya, tak terpuaskan dengan pemberitaan media barat mengenai Irak atau wilayah Timur Tengah umumnya.

Baru-baru ini Robert Fisk, wartawan Inggris yang menerapkan journalism of attachment (jurnalisme yang membolehkan subyektifitas perasaan wartawan terhadap subyek atau obyek liputannya), mengungkap lagi pendapatnya yang tajam tentang bagaimana media barat memanipulasi informasi melalui penyesatan penggunaan kata-kata. Wilayah Palestina yang diduduki para pendatang Yahudi sebetulnya sama dengan ‘jajahan’ (colony), tetapi pemerintah AS dan Israel lebih suka menyebutnya ‘wilayah sengketa’ (disputed land). Bahkan media Israel yang diikuti mainstream media barat belakangan menyebutnya ‘wilayah hunian’ (settlement) dan para pendatang ilegal itu disebut ‘penduduk’ (settlers), bukannya ‘penjarah lahan’. Ironisnya, media Indonesiapun mengikuti pola ini.

Robert Fisk juga mencatat, media barat menyebut tembok raksasa di Yerusalem yang lebih tinggi daripada Tembok Berlin itu sebagai ‘pagar’ (fence), bukannya ‘dinding’ (wall). “Memang menyebutnya ‘wall’ tidak masuk akal. Selain terlalu panjang sebagai sebuah dinding, ‘wall’ juga bermakna negatif bagi pemerintah Israel. Dengan menyebutnya ‘fence’ (pagar), seolah-olah itu bangunan yang ramah dan memang diperlukan untuk menjaga keamanan rumah kita,” tulis Fisk.

Yvone Ridley, wartawati Inggris yang tahun 2002 menghebohkan dunia karena disandera Taliban di Afghanistan, juga mempraktikkan semacam ‘immersion journalism’. Dia mengenakan burqa ketika tinggal di Afghanistan. Ketika disandera oleh kelompok yang oleh barat disebut sebagai ‘brutal’ atau ‘pemerkosa kaum perempuan’, Yvone malah dibuat takjub pada bagaimana para lelaki ‘sangar’ itu lebih meributkan cara dia menjemur pakaian dalamnya daripada ancaman serangan bom militer AS. Apapun yang dialaminya, Yvone kini telah menjadi Muslimah/Mualaf dan mengenakan busana Muslim tidak untuk menyamar.

Farris Hassan, menurut sang ayah, bercita-cita menjadi diplomat perdamaian. Dia menghabiskan libur Natalnya di kancah berbahaya dengan tujuan, “Ingin merasakan bagaimana kesulitan rakyat Irak, supaya saya lebih bisa mensyukuri apa yang saya miliki di AS.” Ada berapa anak Indonesia 16 tahun yang ingin melakukan hal yang sama, setidaknya di skala domestik –misalnya ke Aceh?

Yvone Ridley yang dulu ‘immersed’ dengan lingkungannya untuk melaporkan berita, kini ‘immerse’ sungguhan karena panggilan jiwanya. Bersama Islamic Channel yang dibangunnya, dia telah banyak membantu derita Muslim di dunia, termasuk rakyat Aceh yang sempat dikunjunginya.

Dunia membutuhkan lebih banyak jurnalis yang tidak sekadar ingin mendapatkan julukan ‘war correspondent’ atau ‘war observer’ dan kemudian menjadi selebriti seperti Christiana Amanpour (CNN) dan Judith Miller (New York Times). Dunia membutuhkan lebih banyak Robert Fisk, Yvone Ridley, bahkan Farris Hassan, yang tindakannya dapat mengilhami perubahan perilaku dan pola pikir kita semua.

Surabaya Post, Desember 2005

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s