Michael Moore vs Bush

Sirikit Syah

Untuk pertamakali dalam dunia perfilman, film dokumenter merebut penghargaan tertinggi di Festival Film Cannes yang bergengsi (berskala internasional), tahun 2004. Film itu berjudul “Farenheit 9/11” karya Michael Moore. Film ini juga memecahkan rekor sepanjang masa sebagai film dokumenter terlaris di bioskop, dan satu dari film yang paling banyak ditonton (bersama “The Passion” karya Mel Gibson).

Pada penghargaan piala Oscar tahun 2003 (untuk karya-karya tahun 2002), film dokumenter Moore yang lain “Bowling Over Columbine” mendapatkan penghargaan juga sebagai film dokumenter terbaik. Pada saat pidato –waktu itu Bush sedang gencar menyerbu Irak dan banyak artis tidak menghadiri acara, di antaranya Sean Penn- Michael berkata (terjemahan bebas): “Repot kalau punya presiden fiktif, dari hasil pilihan yang fiktif, kemenangan fiktif. Sekarang dia menyerang negara lain berdasarkan alasan fiktif.”

Reaksinya campur aduk. Sebagian hadirin memberi applause sambil berdiri, sebagian lagi ngedumel, tak rela acara anggun dan glamour itu dinodai semangat politik anti Amerika oleh orang Amerika sendiri.

“Bowling Over Columbine” tidak masuk Indonesia. Ceritanya tentang bebasnya peredaran senjata genggam di kalangan masyarakat. Konon, jumlah sejata genggam (hand gun) di AS sama dengan jumlah penduduk (hampir 300 juta?) dan kepemilikannya bebas. Orang Amerika mesti punya izin bila hendak memancing atau memelihara anjing, tapi tak perlu punya izin untuk punya senjata. Senjata ini, saking bebasnya, masuk sekolah-sekolah. Maka, terjadilah tragedi di SMU Columbine itu. Siswa menembaki guru, teman-temannya, lalu dirinya sendiri. Penembakan di sekolah kerap terjadi di AS, Moore memfokus pada peristiwa di SMU Columbine, sambil mengkritik kebijakan pemerintah yang tak juga mengeluarkan pembatasan kepemilikan senjata.

Sehari sebelum pemilihan presiden di AS, Michael Moore mengirim surat kepada warga negara AS baik yang pro Bush, Kerry, Nader, maupun yang masih ragu-ragu. Membaca suratnya yang sangat passionate, saya berkesimpulan, he takes it personally. Mengapa tidak? George Bush membuat 6 film dokumenter yang menyerang kredibilitas Michael Moore, dan hanya membuat 1 film negatif tentang John Kerry. Menurut Michael, Bush agak kebakaran jenggot ketika jutaan rakyat AS memadati gedung bioskop yang memutar “Farenheit 9/11”.

Film yang sudah diputar di Indonesia itu mengungkap kebobrokan Bush: bagaimana reaksi bloonnya ketika mendapat kabar WTC diserang, bagaimana koneksinya dengan keluarga kerajaan Arab Saudi, bagaimana dia menyelamatkan keluarga Arab termasuk keluarga Osama Bin Laden keluar dari AS sehari setelah 9/11, padahal bandara tertutup untuk semua pesawat keluar dan masuk, bagaimana perusahaannya bermitra dengan perusahaan Osama, bagaimana para senator tidak mau mengirim anaknya maju perang, bagaimana kebiasaan Bush yang cuma berleha-leha sebagai presiden, dsb. Banyak orang Amerika terbuka matanya pada informasi-informasi yang tentu saja tak dimuat media massa itu.

Namun jumlah rakyat AS yang terbuka mata belum cukup banyak untuk menurunkan Bush. Masih lebih banyak orang yang suka cara-cara Bush. Atau, banyak orang AS sebetulnya memiliki kesamaan pandangan, pikiran, perilaku, seperti Bush. Sering kita baca kritik bahwa demokrasi tidak menjamin lahirnya pemimpin yang baik. Biasanya kritik ini ditujukan pada negara demokrasi baru seperti Indonesia. Namun, hal itu terjadi juga di AS. Bila bicara perihal kualitas rakyat, ternyata sama saja, di Indonesia atau Amerika. Begitulah pilihan rakyat: rakyat Amerika memilih Bush. Mau apa lagi?

Bush menang. Kemarin Michael Moore berkirim surat lagi kepada semua yang dapat menangkap emailnya. Judulnya: “17 alasan mengapa Anda tak perlu memotong urat nadi Anda sendiri”. Dia menyemangati orang-orang yang kalah. Di antaranya disebutkan: ini kesempatan terakhir bagi Bush, ini kememangan paling tipis yang diperoleh seorang presiden yang sedang menjabat sejak presiden Woodraw Wilson tahun 1916, young adults (kaum muda) lebih banyak memilih Kerry (54%) daripada Bush (44%). Kata Moore: “Hai anak-anak muda, ini satu bukti lagi bahwa orangtua kalian selalu membuat kesalahan dan tak patut ditiru.”. Meski Bbush menang, 56% rakyat AS masih berpendapat mereka dipimpin ke arah yang salah (56%). Dan, “Asyik juga masih bisa melihat si kembar Bush.” Itulah sebagian dari 17 alasan untuk tidak bunuh diri karena Bush menang.

Bush dan aparatnya telah bersiap-siap untuk memenjarakan Moore atas dasar menyebarkan kebencian pada pemerintah. Seperti diketahui, sebelum memenangkan Festival Film Cannes, “Farenheit 9/11” tidak diputar di AS. Film itu akhirnya dibeli oleh distributor independen dan diedarkan ke seluruh dunia, termasuk di AS sendiri.

Buat saya yang paling menarik dari perseteruan Moore vs Bush adalah bagaimana seorang creator menghasilkan karyanya. Gambar-gambar dalam film dokumenter Moore adalah gambar genuine, original, asli, dan langka. Itu adalah footage dari liputan berbagai station televisi atas kegiatan Bush, yang tak dipublikasikan. Betapa hebat Moore bisa mendapatkan itu semua (telaten dan rela keluar biaya besar), lalu merangkainya menjadi cerita yang memiliki alur koheren dan relevan. Apakah pembuat film dokumenter di Indonesia tidak bisa membuat karya seperti itu? Kendalanya mungkin: apakah station televisi di Indonesia menyimpan footage penting dan akan merelakannya diambil/dibeli orang? Apakah ada perekam independen yang begitu profesional menyimpan footage-footage berharga dan bernilai sejarah? Apakah harganya terjangkau? Apakah ada peminat film dokumenter? Setelah diproduksi dengan mahal, siapa yang akan menonton?

Michael Moore tidak hanya membuat film dokumenter. Dia juga menulis buku. Salah satu bukunya berjudul Stupid White Men (2001). Di halaman pertama ditulisnya kalimat yang diucapkan George W. Bush pada tanggal 14 Juni 2001 (baru jadi presiden setengah tahun) kepada PM Swedia Goran Perrson. Tak sadar ada kamera TV sedang siaran ‘live’, Bush berkata: “It’s amazing I won. I was running against peace, prosperity, and incumbency.”

Itulah sosok Bush. Ucapannya, tindakannya, gesturenya, mimiknya, mencerminkan karakter dan kepribadiannya yang tidak simpatik. Toh rakyat AS tetap memilihnya. Apa boleh buat. Itulah pilihan rakyat. Tapi kita mesti menghargai perjuangan tak kenal lelah seorang seniman seperti Michael Moore.

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s