Tangisan Hughes, Hiburan Bagi Pemirsa Televisi

Sirikit Syah

Belakangan ini hampir semua saluran televisi swasta nasional menyiarkan kisah duka Dewi Hughes, presenter televisi terkenal, yang sosoknya sempat dibandingkan dengan Oprah Winfrey, host paling top dan awet di televisi Amerika (Oprah terkenal di Amerika Serkat sejak tahun 80-an).

Ada dua substansi persoalan yang hendak saya kemukakan di sini. Pertama, kredibilitas Hughes sebagai presenter dan host yang hebat dapat terganggu karena dia sendiri menjalani perkawinan dan kehidupan yang bermasalah. Slogan-slogan yang selama ini dipromosikannya mengenai ‘keberdayaan perempuan’, ‘anti kekerasan pada perempuan’, menjadi tak bermakna ketika publik mengetahui betapa tidak berdayanya dia, betapa dia adalah korban kekerasan terhadap perempuan, dan bahwa dia adalah perempuan yang lemah, tak berdaya.

Kedua, ada ironi di sini, bagaimana tangisan dan kondisi memprihatinkan perempuan bernama Hughes menjadi bahan utama semua program infotainment di televisi kita. Coba, sekali lagi, simak jenis programnya: ‘Infotainment’, singkatan dari ‘information entertainment’, alias ‘berita hiburan’. Apakah berita duka seorang Hughes patut menjadi salah satu materi tayangan hiburan? Salahkah crew atau produser infotainment? Tidak salahkah kita yang ‘menikmati’ berita duka orang lain sambil makan siang atau minum teh sore hari?

Menjadi semakin kabur, apakah infotainment memanfaatkan atau dimanfaatkan oleh para selebritis. Dalam hal memanfaatkan, infotainment seringkali masuk ke ruang-ruang pribadi, melanggar hak asasi selebriti yang menjadi berita. Nicky Astria, ketika bercerai, pernah dikerubuti wartawan dan mobilnya digedor-gedor, sambil para wartawan infotainment memaki-maki: “Kalau Anda tidak mau menjawab, Anda melanggar hak rakyat untuk tahu!” Wow!

Dalam hal infotainment dimanfaatkan selebritis, penyanyi Reza melakukannya dalam upaya merebut dua anaknya dari Adjie. Airmata Reza di layar kaca, dan serangannya terhadap Adjie Massaid, sayangnya gagal mencapai tujuan, karena Adjie menjaga diri untuk tidak terpancing dengan menyerang balik –yang dapat menjadi bahan empuk para crew infotainment. Apakah Hughes sekarang memanfaatkan infotainment? Melihat cara pemberitaan, tampak memang Hughes tidak perlu dikejar-kejar atau dipaksa-paksa berkomentar. Dia duduk tenang dalam sebuah jumpa pers, memberikan semua keterangan yang diperlukan.

Tidak sedikit jurnalis merasa ‘risih’ dengan ulah teman-temannya para crew program infotainment. Kemudian berkembang diskusi yang menjurus ke perdebatan: apakah crew infotainment tergolong jurnalis atau bukan? Pihak yang mengatakan mereka adalah wartawan, mendasarkan argumentasinya pada adanya seksi hiburan di setiap perusahaan media dan dengan demikian ada wartawan hiburan. Bahwa wartawan hiburan ini dianggap tidak menjalankan kode etik jurnalistik, itu pelanggaran crew yang mungkin sifatnya individual. Legitimasi dari kelompok ini adalah diakuinya crew infotainment sebagai wartawan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam acara Hari Pers Nasional di Riau Februari lalu. Di PWI dibentuk seksi baru ‘wartawan infotainment’.

Pihak yang tidak setuju crew infotainment dianggap sebagai wartawan mendasarkan argumentasi pada fakta di lapangan bahwa kebanyakan awak infotainment itu bekerja untuk PH (Production House) yang memproduksi program infotainment secara massal. Mereka bukan pegawai stasiun televisi, apalagi masuk dalam jajaran awak newsroom (ruang redaksi). Ilham Bintang, misalnya, adalah nama produser dan pemilik PH yang menghasilkan beberapa program infotainment yang ditayangkan di beberapa saluran televisi swasta. Kinerja mereka adalah kinerja kejar tayang. Setiap hari diproduksi rata-rata –sedikitnya- 6 jam program infotainment (dengan perhitungan @ 30 menit kali 12 stasiun televisi, 1 kali tayang 1 hari). Dalam seminggu perlu 42 jam produksi infotainment, minimal.

Hasil dari kinerja kejar tayang ini adalah seragamnya semua liputan infotainment dan rendahnya mutu informasi. Seragamnya liputan bisa jadi karena produser atau rumah produksinya sama, sehingga satu crew liputan bisa menghasilkan 4 program di 4 stasiun TV berbeda (betapa efisien!). Bisa juga karena di Jakarta sekarang ada yang namanya Pusat Berita Infotainment Jakarta (PBIJ), yang mengatur semua wawancara dengan para selebritis bagi crew/wartawan infotainment. Hegemoni? Bisa jadi.

Rendahnya mutu informasi dunia selebritas misalnya, kita jarang menerima informasi mengenai album atau komposisi baru para penyanyi, atau bagaimana Rachel Maryam yang berdarah Sunda ‘dipaksa’ main film oleh Bobby Sandhi sebagai ‘perempuan Jawa keturunan Belanda’. Hal-hal itu tentu menarik bagi pemirsa televisi, penggemar musik dan film. Namun yang disuguhkan program infotainment adalah berita tentang B’jah yang sesungguhnya tidak terkenal dan tidak jelas apa prestasinya di dunia hiburan; berita tentang rencana dan batalnya perkawinan dia. Juga tentang artis sinetron yang tidak terlalu terkenal, yang mengadakan jumpa pers hanya untuk bilang dia dipukuli pacarnya. Sementara wajahnya tampak mulus dan bukti hanya berupa foto dia dan pacar di layar handphone. Dia bahkan tidak berniat melapor ke polisi. What’s the point? Hanya untuk statement pada pacarnya bahwa dia bisa ‘memberitakan’ sang pacar? Atau untuk mendongkrak popularitasnya yang masih redup?

Kita mesti menyampaikan pesan kepada para produser infotainment itu bahwa kita memerlukan informasi dunia selebritis yang lebih bermutu, betul-betul menghibur (bukan terhibur oleh derita kasus perceraian), dan materi yang lebih bervariasi. Kita mesti menolak keseragaman dan hegemoni berita dunia hiburan.

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s