Jurnalisme Perang: Siapa Mengancam Siapa

Oleh: Sirikit Syah

Paranoid. Begitulah kondisi media massa belakangan ini. Juga kondisi para elit politik yang berada di seberang Presiden Wahied, dan warga Jakarta yang tak berdosa. Semuanya dicekam ketakutan yang berlebihan. Faktanya adalah: ada kelompok menamakan diri Front Pembela Kebenaran (FPK) yang mendukung kepemimpinan Presiden Wahied hingga 2004. Di antara mereka kemudian terdaftar ribuan orang yang tergabung dalam Pasukan Berani Mati (PBM) yang siap membela pemimpinnya hingga mati. Sebagaimana kebiasaan para santri dan anggota perguruan bela diri lainnya, mereka berlatih membekali diri (media massa menyebutnya “latihan perang”) untuk berangkat ke Jakarta. Tujuan ke Jakarta apa? Dengan jelas mereka mengatakan: berdoa (Istiqosah) dan mendukung Presidennya.

Tidak pernah ada pernyataan resmi maupun tersembunyi, dari pemimpin tertinggi sampai terendah, bahwa mereka (PBM) akan mengancam dengan kekerasan, baik kepada para elit politik (anggota DPR RI), maupun kepada para warga Jakarta. Memang ada kabar atau isu tentang surat kaleng dan telepon gelap yang menteror dan mengancam, tetapi sulit dibuktikan siapa yang melakukan.

Realitas media massa kemudian “memlintir” fakta tersebut menjadi sebuah peristiwa yang bakal “menyeramkan”. Kepanikan dan kecemasan disebar melalui segmen pertama di semua program berita televisi, sebagian bahkan meneruskannya hingga segmen kedua dan ketiga. Seolah-olah tak ada berita lain yang lebih penting daripada rencana datangnya massa pro Gus Dur ke Jakarta. Jurnalis televisi juga sibuk mewawancarai warga Betawi, yang mungkin menjadi panik dan cemas ketika akan diambil gambarnya, lalu berkata dengan garang: “Massa pro Gus Dur jangan sombong, jangan arogan, jangan macam-macam di rumah orang. Kami akan hadapi.” Lo, memangnya ada apa? Siapa mengancam siapa?

Lebih lanjut, setelah mewawancarai 2-3 orang yang “cemas” dengan kalimat-kalimat seperti “Mungkin kami akan usul pimpinan agar kantor diliburkan”, di akhir narasinya jurnalis televisi membuka rahasia bahwa “Sebagian rakyat lain mengatakan tidak cemas dan tidak terpengaruh. Demikian laporan Si Anu dari Jakarta”. Jurnalis televisi telah memilih fakta: ada yang cemas dan ada yang tidak. Dipilihlah tiga yang cemas. Berapa banyak rakyat yang tidak cemas, tidak panik, dan tidak terpengaruh, dan tidak diakomodasi suaranya?

Selama berhari-hari televisi dan koran menyiarkan kabar ketakutan ini: dari kompleks rumah DPR yang kelihatan tenang tetapi narasinya dibuat menyeramkan; dari mal-mal (pertokoan) yang tetap ramai pengunjung tetapi diambil gambar satpam sambil diberi narasi “Para petugas pengamanan menyatakan siap menghadapi kerusuhan”; dan tentu saja dari Senayan dimana semua anggota DPR dan Ketua MPR seperti tengah mengidap paranoid (rasa ketakutan yang berlebihan).

Ketika Menkeh & HAM Baharudin Lopa mengunjungi DPR RI untuk mengimbau munculnya kearifan DPR RI, para wartawan bertanya kepada para anggota DPR dengan pertanyaan menjurus: “Apakah ini bentuk intervensi pemerintah?”. Jurnalis damai akan bertanya: “Bagaimana tanggapan Bapak atas imbauan yang simpatik itu?” Ketika Kejagung mengumumkan bahwa Gus Dur secara hukum tidak terlibat Bulogate & Bruneigate, media massa menulis “adanya kesepakatan untuk mengumumkan ketidakterlibatan Gus Dur”. Pemakaian kosa kata “sepakat” untuk sebuah kesimpulan hukum ini menunjukkan adanya konspirasi memanipulasi hukum. Suatu prasangka yang serius. Lalu, seorang anggota DPR kepada wartawan di kamera televisi mengatakan, “Baharudin Lopa jangan jadi bunglon! Tulis itu!”. Sebuah penghinaan pribadi di depan publik.

Ada apa sebenarnya? Media massa dan elit politik seperti terlibat kosnpirasi untuk mendiskreditkan masyarakat pro Gus Dur. Apa salahnya dengan pro Gus Dur? Mereka rakyat Indoensia juga, bukan? Apa bedanya mereka dengan mahasiswa BEM UI yang pro DPR, massa pro Fuad Bawazir, kelompok pro Amien Rais? Bukankah niat mereka (yang tersurat) untuk berdoa (Istiqosah) jauh lebih sejuk daripada niat mahasiswa BEM UI (tersurat juga) untuk mengajak mogok nasional –yang tidak ditanggapi masyarakat?

Pilihan foto di halaman satu surat-surat kabar atau cover majalah dan tabloid menggambarkan semangat perang; wajah-wajah beringas, senjata tajam, dari anggota PBM yang tengah berlatih. Pilihan bahasa yang berbau provokasi, disfemisme (pengerasan), prasangka, tafsir, dan opini menyebar mulai dari judul sampai isi berita. Jurnalisme perang benar-benar tengah diterapkan oleh media massa Indonesia belakangan ini.

Selain pilihan bahasa, pilihan nara sumber juga mencerminkan semangat jurnalisme perang. Seolah-olah hanya ada dua kubu: pro Gus Dur dan anti Gus Dur. Seolah-olah hanya ada persoalan: Gus Dur salah dan DPR RI benar. Hanya ada kemungkinan: menang atau kalah. Di atas semuanya, hanya suara elit politik (kalangan paling atas) yang dikutip media. Bagaimana sebenarnya rakyat mensikapi perseteruan politik ini, kemelut bangsa ini, dan masa depan negara ini, tidak benar-benar menjadi perhatian media massa.

Paranoid. Bukan hanya warga Jakarta yang tak berdosa menjadi panik. Bukan hanya anggota DPR RI yang ketakutan. Media massa juga –dan mula-mula- yang merasakan kecemasan itu –berdasar atau tidak- dan menyebarkannya. Ini bisa jadi karena tuntutan fungsi ekonomi (agar menarik di pasaran) atau bisa juga titipan golongan (fungsi partisan). Apakah rakyat membutuhkan informasi kecemasan, kepanikan, dan ketakutan ini selama hampir satu bulan? Saya sendiri ingin tahu bagaimana kabar perundingan RI dan GAM, benarkah ekspor Jatim malah naik 55% (what a good news!), dan bagaimana penyelesaian masalah kota Surabaya yang bertumpuk-tumpuk.

Koran Tempo, April 2001

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s