Jurnalisme Perasaan

Sirikit Syah

Seorang anak kurus kering di Sudan jatuh tertelungkup dalam perjalanan menuju posko bantuan pangan. Negara itu, tahun 1993, dilanda bencana kekeringan dan kelaparan. Di dekat anak yang jatuh tak berdaya tadi, seekor vulture (burung pemakan bangkai) menunggu kematian sang anak. Bakal santapan yang lezat. Sebuah foto jurnalistik yang hebat.

Benar juga. Tahun 1994, foto yang dimuat di harian the New York Times itu memenangkan Pulitzer Prize, sebuah hadiah bergengsi, untuk foto jurnalistik. Namun tak ada yang menduga bahwa Kevin Carter, sang fotografer, mengalami depresi berat karena foto itu dan karena pekerjaannya meliput begitu banyak penderitaan di Afrika. Fotografer Reuters dan Sygma Photos ini berkata pada teman-temannya, dia merasa berdosa telah meninggalkan anak kecil itu.

Foto itu dipuji-puji, tetapi Kevin Carter mendapat kecaman dari banyak kalangan. Dua bulan kemudian, dia ditemukan mati bunuh diri di tempat tugasnya, Johannesburg, Afrika Selatan. Dalam surat yang ditinggalkannya, dia mengaku mengalami penderitaan batin akibat terlalu mementingkan pekerjaannya dibandingkan kewajiban kemanusiaan. Yang menarik, anak kecil yang ‘ditinggalkan’ Kevin Carter itu sama sekali tidak menjadi santapan vulture. Dia ditemukan dalam kekadaan baik di sebuah kamp pengungsian.

Itu sebuah kisah ekstrim dari jurnalis yang melibatkan perasaannya. Dia merasa ‘bukan manusia yang baik’, meskipun dia terbukti dan diakui sebagai ‘jurnalis yang hebat’.

Di kelas-kelas jurnalistik selalu ditanyakan dan diajarkan, bahwa wartawan tidak boleh memasukkan opininya dalam karyanya. Fakta dan opini harus dibedakan. Namun, tak banyak yang mempersoalkan, “Bagaimana kalau wartawan melibatkan perasaannya? Bolehkah?” Tahun 90-an, ketika SCTV masih berpusat di Surabaya dan berita Seputar Indonesia di SCTV-RCTI antara lain diproduksi di Surabaya, seorang kameraman yang cukup gagah saya dapati mengusap airmata ketika mengedit gambar.
“Kasihan, Mbak. Nggak tega …” katanya, agak malu. Laki-laki, wartawan pula, menangis. Suatu hal yang dianggap tidak lazim.

Tapi sejak Martin Bell, wartawan BBC, menularkan apa yang kini dikenal sebagai ‘journalism of attachment’ (saya terjemahkan menjadi ‘jurnalisme perasaan’), hal seperti itu mulai ditolerir. Setelah meliput belasan perang, di antaranya di Bosnia, Perang Teluk, dan Israel-Palestina, Martin Bell sampai pada kesimpulan bahwa ‘mustahil’ wartawan tidak melibatkan perasaan dalam melakukan liputan. Dalam bukunya In Harm’s Way, ada sebuah kisah yang memiriskan hati. Seorang wartawan asing di Sarajevo berniat membuat laporan tentang profil ‘snipper’. Tak penting benar ‘snipper’ pihak mana yang dia ikuti, karena kedua belah pihak sama-sama memiliki ‘snipper’. Sang ‘snipper’ dan sang wartawan tengah mengintai dari balik lobang dinding, ketika dua orang berjalan melewati persembunyian mereka.
“Apa yang Anda lihat?” tanya ‘snipper’ pada wartawan.
“Dua orang lewat.”
“Silakan Anda pilih mana yang harus saya tembak.”
Wartawan itu terkejut, tapi terlambat, dia tengah berada di sebuah wilayah yang bukan saja secara fisik berbahaya, tetapi secara moral juga. Dia menolak memilih. Lalu terdengar dua tembakan, dan dua pejalan kaki itu tewas diterjang peluru ‘snipper’.
“Sayang Anda tak menggunakan hak pilih Anda. Terpaksa saya tembak dua-duanya. Mestinya kan bisa selamat satu orang,” kata sang ‘snipper’ enteng.

Praktik ‘journalism of attachment’ banyak saya temui pada pemberitaan BBC dan The Guardian. Ketika saya mengkonsumsi berita BBC dan The Guardian selama tahun 2001-2002 tinggal di London, saya menengarai liputan-liputan dan laporan-laporan yang bernada subyektif, one-sided, jelas-jelas memihak. Laporan BBC tentang konflik Israel-Palestina, misalnya, banyak diwarnai penderitaan rakyat Palestina dan kebrutalan tentara Israel. Sebagai penyeimbang, tentu ada satu dua narasumber dari Militer Israel, namun narasi dan visual didominasi pemihakan pada rakyat Palestina. The Guardian juga kerap memuat laporan mendalam (in-depth reporting) serta artikel opini dari para wartawan di Palestina yang jelas-jelas memihak pada perjuangan rakyat Palestina. Robert Fisk, salah satu wartawan Inggris yang kerap menulis dengan gaya ‘journalism of attachment’ mengatakan, “Kita memang harus memihak. Pada kebenaran, pada hati nurani.” Agaknya, dalam beberapa situasi, obyektivitas dan keseimbangan tidak sebanding, bahkan jauh, dari fairness (rasa keadilan), sehingga sekelompok wartawan –kebanyakan dari Inggris dan Eropah pada dekade ini- memutuskan untuk mengesampingkan dua standar utama jurnalistik itu (obyektivitas dan keseimbangan/balance), dan mengutamakan hal yang dianggap lebih penting: rasa keadilan.

Di Indonesia, liputan musibah Aceh mulai menampakkan keterlibatan perasaan para wartawan. Beberapa reporter dan presenter televisi menampakkan wajah sedih, bahkan tak segan-segan menangis, sambil melaporkan berita. Hal yang tak terpikirkan 10 tahun lalu, saat semua reporter dan presenter diajari: jangan melibatkan emosi. Jangan menaikkan alis, tanda meragukan teks yang dibaca, atau tersenyum sinis, tanda meremehkan berita yang baru disajikan. Jangan pernah tertawa dalam melaporkan berita lucu, atau menunjukkan wajah sedih ketika melaporkan berita duka. Itu dulu. Sekarang, para presenter bergurau mengomentari berita yang baru disajikan, atau meneteskan airmata dan bersuara terbata-bata.

Sebuah liputan televisi tentang anak-anak sekolah tawuran di Semarang, dipertanyakan: ‘Apakah ini ‘journalism of attachment’?’ Seorang kameraman yang melihat anak-anak berseragam itu akan melarikan diri, ikut-ikutan menangkap anak yang lari, bahkan ikut menendangnya. Perilaku kameraman tersebut tertangkap kameraman televisi lain, dan ditayangkan. Memang gemes juga melihat anak-anak sekolah tawuran dan setelah memukuli lawan, hendak melarikan diri. Tapi, apakah sejauh itu praktik ‘journalism of attachment’?

Seorang jurnalis televisi yang lain, di Aceh, berkata kepada komandan TNI yang menangani ‘orang yang diduga GAM’ yang belum mengaku juga:
“Tembak saja, Pak, kalau nggak mau ngaku!”
Beberapa jurnalis lain yang menjadi saksi mengatakan, jurnalis perempuan itu ‘capek’ menunggu ‘visual’ dan sangat memerlukan action yang bisa menjadi berita hebat. Sayang, skandal itu tidak cukup lama menjadi perdebatan di kalangan praktisi jurnalis; dan karena sesama media massa tidak akan mengungkap kejelekan rekannya (solidaritas keliru?), kasus itu tenggelam bersama waktu. ‘Journalism of attachment’, atau ‘without attachment’ (tak berperasaan)?

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s