Menyorot Jurnalisme Televisi

Sirikit Syah

Seorang anak berusia 19 tahun mengerang di sebuah dipan UGD rumah sakit. Di kakinya terdapat luka tembakan. “Mengapa saya ditembak, pak? Kan saya sudah menyerah?” erangnya, yang didengar oleh seorang jurnalis televisi yang baru tiba untuk meliput beritanya. Ini sebuah berita kriminal tentang tertangkapnya penjambret kalung emas, di penghujung tahun. Sang jurnalis bertanya pada komandan polisi, “Tega amat, Bang, anak sudah menyerah, ditembak.” Jawab sang komandan, “Yah, untuk bonus akhir tahun anak buah-lah,” sambil menepuk bahu sang jurnalis seolah-olah saling mengerti. Belakangan jurnalis yang datang terlambat ini baru tahu bahwa penjambret yang telah menyerah itu dikondisikan ditembak kaki demi memenuhi tuntutan moncong kamera televisi, kawan-kawannya sendiri!

Di Papua, seorang jurnalis televisi juga merekayasa seorang tentara yang mengabdikan waktu luangnya dan kemampuannya untuk menjadi guru. Sang jurnalis menyutradarai sang tentara agar menunjuk-nunjuk papan tulis menggunakan senjata. Padahal ada penggaris di situ. Dramatis! Di Aceh, jurnalis televisi berkata pada tentara, “Tembak saja, pak, kalau tak mau mengaku,” ketika seorang yang diduga GAM tidak mengaku. Tentu, bagi sang jurnalis yang sudah jauh-jauh datang ke Aceh, tembakan, darah, dan mayat menjadi target utama. If it bleeds, it leads. Kalau beritanya berdarah-darah, bisa jadi lead (berita utama). Dan itulah berita televisi: kalau tak ada gambar, tak ada berita.

Saya pernah berdebat dengan seorang video editor di sebuah stasiun televisi, yang bersikeras bahwa the camera is the eye witness. Berita TV tak dapat menipu, karena gambarnya ada dan jelas, tidak dimainkan dengan kata-kata sebagaimana pekerjaan jurnalis media cetak. Menurut dia, rekayasa hanya bisa dilakukan di tahap penyuntingan. Saya tegaskan, “Justru karena dianggap eye witness, berita TV sangat mudah dimanipulasi. Orang mudah percaya. Padahal gambar-gambarnya diatur. Dan itu tidak di level editing, itu di tahap pengambilan gambar.” Saya berdebat sambil memberikan contoh-contoh pengakuan wartawan perang (koresponden) di Afghanistan, Irak, Israel, Rusia, yang mengambil gambar di tempat-tempat lain yang dibuat seolah-olah. Kisah wartawan Papua tadi mencontohkan bahwa media merekayasa gambar tentara mengajar dengan menggunakan senjata!

Bila berita media cetak terus menerus menunjukkan peningkatan kualitasnya, maksud saya sejak era reformasi tahun 1998 dan di luar pembahasan tabloid porno, maka berita televisi malah menunjukkan penurunan kualitas. Para koresponden televisi di luar wilayah kantor pusat atau pusat siaran, tidak jarang merekayasa berita agar ada berita dari daerahnya. Dan yang paling sering dan mudah diajak bekerjasama adalah kepolisian. Tak heran bila program-program reality show atau berita kriminal sangat banyak bahan. Lihat judul program yang serem-serem seperti Tikam, Brutal, Buser, Investigasi, Sigi, Patroli, dll. Lihat pula isinya: tembakan, darah, luka-luka, wajah bonyok-bonyok, mayat.

Michelle Wolf, profesor media dari San Fransisco University yang baru-baru ini menjadi tamu di UK Petra dan Unair, sempat menonton rekaman acara-acara televisi itu di rumah saya. Komentarnya, “Gila. Begitu banyak darah dan mayat. Gila. Di Amerika, gambar-gambar seperti ini tidak boleh tayang.”

Bak Selebriti

Sementara para koresponden di daerah mengejar para polisi untuk diajak berkolaborasi memproduksi tayangan paling heboh; di Jakarta, para petinggi stasiun televisi sibuk mencari bakat-bakat baru presenter televisi dengan tolok ukur yang tak ada hubungannya dengan jurnalistik. Jurinya, misalnya, Darwis Triadi dan Citra (yang lebih sering menjadi juri bidang modelling). Ujiannya di tahap awal: cantik, menarik, dengan tinggi badan tertentu. Tahap berikutnya: bisa berpenampilan dan berjalan seperti peragawati di cat walk. Anehnya lagi, keputusan juga diserahkan pada SMS bak pilihan AFI, Indonesian Idol atau KDI. Hasilnya? Reporter/presenter televisi yang berbau wangi dan sama sekali tidak teruji kemampuannya di bidang yang sangat diperlukan, misalnya: fotografi, menulis berita pendek dan/atau panjang, keahlian mewawancarai narasumber, dst. Jangan diharap ada ujian mengenai kode etik jurnalistik, pasal-pasal delik pers dalam KUHP, UU Pers, UU Penyiaran, atau P3-SPS. Para calon reporter/presenter itu bahkan tidak diuji pemahamannya mengenai apa yang disebut balance atau fairness dalam peliputan atau dalam memandu talk show.

Rosiana Silalahi saat ini sedang mengadukan Revrisond Bawsir ke pengadilan karena tuduhan pencemaran nama baik. Revrisond dituduh menyebarkan fitnah ke berbagai milis bahwa SCTV menerima sogokan sebesar Rp 350 juta untuk tayangan talk show Topik Minggu Ini, ditayangkan 2 Maret 2005, yang dipandu Rosiana Sillalahi. Dalam email yang tersebar di milis itu, Revrisond yang mewakili suara anti-kenaikan BBM mengaku hanya diberi 20% waktu bicara dibanding lawan debatnya, Kepala Bapenas Sri Mulyani, yang pro kenaikan BBM. Selain merasa diperlakukan tidak adil saat rekaman tanggal 1 Maret, dalam tayangan program tangal 2 Maret ditengarai banyak komentar Revrisond yang dipotong/diedit.

Mungkin Rosiana Silalahi dan SCTV tidak disuap siapapun. Mungkin benar tak ada agenda setting. Namun para pemandu talk show, pewawancara, produser program, mesti memiliki lebih banyak rasa keadilan dan kepedulian. Mereka mesti mengurangi arogansi sebagai ‘pengendali perdebatan dan pembentuk opini publik’, dan selalu mengingat standar jurnalisme A+B+C = C (Accuracy+Balance+Clarity = Credibility). Bila perdebatan dalam talk show dipandu secara tidak balance, bisa muncul persoalan kredibilitas.

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s