Ujian Bagi Pers Indonesia

Pers Indonesia sedang diuji. Saat ini banyak sorotan (dari kalangan pengamat media, pejuang HAM, dan kelompok anti-militerisme) yang mengatakan pers Indonesia berat sebelah, memihak, bahkan menjadi ‘corong militer’. Menilik pemberitaan konflik Aceh sejak era reformasi, sesungguhnya pers Indonesia lebih menyerupai saluran propaganda pihak GAM, yang artinya juga sangat berat sebelah. Pelanggaran oleh TNI/Polri mendominasi headlines dan laporan utama surat kabar/majalah, sementara pelanggaran oleh GAM tidak menjadi bahan liputan, meskipun korbannya rakyat sipil. Polisi menangkapi orang-orang yang diduga GAM, beritanya masuk halaman satu; polisi tewas kena tembak (sedang bertugas maupun hanya pergi ke pasar), beritanya dimuat 1-2 kolom di halaman dalam atau belakang. Selama 4-5 tahun belakangan ini, demikianlah kondisi pemberitaan konflik Aceh, dan tidak ada yang protes. Kini, banyak pihak protes. Pers diuji obyektivitasnya.

Saya kerap mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada jurnalisme patriotik, terlepas makna jurnalisme patriotik itu baik atau buruk bagi negara seperti Indonesia. Ketika pada bulan Desember 1998 Suara Timor Timur diserbu dan diporakporandakan oleh para pejuang pro-integrasi karena dianggap berat sebelah, seluruh media massa di Indonesia memusuhi pejuang pro-integrasi. Nyatanya, pada masa itu, hampir semua media di Indonesia berat sebelah. Mereka mengabaikan suara pro-integrasi, memotret para pejuang pro-integrasi sebagai ‘gerombolan preman’. Media bahkan terkesan ‘menutup mata’ pada berbagai kecurangan saat referendum (recruitment panitia, pemilih, pelaksanaan, dan pelarangan wartawan meliput referendum). Suara media Indonesia cenderung mengekor suara media asing, yang jelas bersemangat memerdekakan Timor Timur. Beberapa media di Jawa Timur mengutip mentah-mentah Sydney Morning Herald yang menuduh tangan Jendral Wiranto berlumuran darah, dengan nara sumber tersembunyi dan berita dipenuhi asumsi dan rumor, tanpa konfirmasi atau cek dan ricek.

Kecenderungan ini berlanjut pada peliputan di Papua dan Aceh. Banyak media Indonesia mengikuti pola pemberitaan media asing soal keterlibatan jendral TNI di Jakarta atas terbunuhnya Theys, pejuang kemerdekaan Papua. Di Aceh, media punya nara sumber favorit, yaitu Panglima GAM, atau Kontras, HDC, JSC, dan LSM sejenis lainnya.

Puncak ‘ketidakadilan’ pers terjadi ketika sekitar 3000 orang menyerbu kantor JSC di Aceh yang mengakibatkan beberapa mobil dibakar dan beberapa wakil GAM di JSC melarikan diri. Berita yang keluar adalah tindakan penyerbuan dan pembakaran, yang dikesankan ‘brutal’. ‘The Why’ jarang diungkap, yaitu bahwa rakyat kesal karena penculikan dan pemerasan oleh GAM yang telah berkali-kali dilaporkan kepada JSC, diabaikan.

Ketika wacana Operasi Militer digulirkan, pers memberitakan dengan ‘sinis’ bahwa pemerintah tak punya cukup dana untuk operasi militer. Ada juga yang memberitakan kemungkinan terjadinya ‘korupsi’ dana operasi militer di Aceh. Bahkan kata-kata ‘menyeramkan’ kerap digunakan, baik oleh nara sumber yang dipilih maupun oleh pers sendiri (dalam judul berita) seperti ‘Aceh banjir darah’, ‘rakyat jadi korban’, ‘TNI siap perang’, dan sebagainya.

Dibanding pers Amerika Serikat, pers Indonesia jelas kalah patriotik. Bahkan pers Inggris dan Serbia tergolong patriotik. Insan pers Inggris beramai-ramai mengecam BBC ketika BBC dalam laporan Perang Falkland menyebut tentara Inggris sebagai ‘the British Army’ bukannya ‘our Army’. Para wartawan Serbia juga mengaku, ‘Kalau pilihannya antara obyektivitas atau bela negara, kami pilih bela negara’ (Forging War, 2000).

Namun, sejak perundingan Tokyo gagal pekan lalu, nada pemberitaan pers Indonesia tentang Aceh berubah. Pers lebih terang-terangan menyuarakan suara TNI/pemerintah. Akhirnya, pers Indonesiapun terpanggil untuk ‘bela negara’. Jadi, kalau ada suara-suara yang ribut mengecam pers Indonesia berat sebelah, kemana suara mereka beberapa kurun waktu yang lalu? Mengapa baru sekarang mengkritik pers? Dimunculkannya suara pemerintah Indonesia justru merupakan ‘penyeimbangan’ setelah sekian lama pers berkonsentarsi pada suara anggota GAM. Sebetulnya, yang lebih ingin kita (konsumen media) ketahui adalah suara rakyat Aceh sendiri, orang-orang biasa, para pegawai, pedagang, guru, petani, pelajar, dll, dan bukan suara para aktivis HAM, tokoh mahasiswa, pimpinan ormas, tentara GAM, komandan TNI/Polri.

Sayang, semangat ini terganggu ‘imbauan’ Penguasa Darurat Militer NAD kepada pers agar mereka ‘tidak membesar-besarkan GAM’, dan adanya pembatasan-pembatasan pada gerak liputan pers di lapangan. Imbauan itu seharusnya tidak perlu. Kearifan dan patriotisme telah muncul dengan sendirinya, dan ini patut kita hargai. Imbauan yang memancing reaksi keras kalangan pers itu justru counter productive. Patriotisme jelas tidak dapat dipaksakan. Pemaksaan hanya menunjukkan kelemahan. TNI dan pemerintah Indonesia sudah kalah dalam perang opini dengan pihak GAM, di luar negeri maupun di dalam negeri (milis-milis kita kebanjiran propaganda GAM, bukan?). Bukannya menjadikan pers sebagai sasaran, mestinya TNI dan pemerintah Indonesia lebih meningkatkan ketrampilan ke-PR-annya untuk meraih simpati rakyat dan pers. Terus terang, dalam hal ini memang GAM terbukti lebih unggul.

Bahwa pers kadang-kadang masih ‘mengekor’ media asing (kasus isu anggota TNI membunuh warga sipil), ini menjadi ujian bagi pers. Pers boleh saja patriotis atau tidak patriotis, tetapi pers harus obyektif. Jangan sampai kasus the Washington Post vs Jendral TNI Endriartono Soetarto (terbukti pemberitaannya tidak berdasarkan fakta di lapangan) terulang. Pers kini diuji dalam menggunakan kebebasannya, dan diuji dalam menghadapi tekanan, baik dari TNI/pemerintah, GAM, maupun dari para kritikus media, terutama kalangan anti-militerisme.

Sirikit Syah (lupa tahunnya, pernah dimuat di Gatra)

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s