Apa pentingnya Bahasa?

Seseorang ditembak mati karena penggunaan bahasa. Seorang menteri di pemerintahan Israel itu sebelumnya berpidato yang dikutip media massa, bahwa “Bangsa Arab itu adalah two-legged beasts (binatang berkaki dua). Bahkan melihat caranya beranak pinak, mereka sama dengan lice (kutu).” Tak berapa lama kemudian, dia ditembak mati oleh gerilyawan Palestina.

Tak terhitung perang antar suku, antar bangsa, kerusuhan di kota besar yang plural, disebabkan oleh penggunaan bahasa. Hate speech. Pernyataan kebencian. Di Pasuruan, misalnya, tahun 1996, seorang pendeta menerbitkan selebaran gereja yang mengatakan “Nabi Muhammad adalah buta huruf penghuni goa.” Maka terjadilah kerusuhan dan pembakaran sejumlah gereja di wilayah Pasuruan hingga ke Situbondo, yang tentu saja pemberitaannya tak seheboh di era reformasi, karena kami –para redaktur- dipanggil Bakortanasda dan diwanti-wanti untuk tidak melaporkannya. Atau kalau terpaksa dimuat, muatlah di halaman belakang, tanpa foto. Crew TV, jangan ekspos wajah sang pendeta, dst.

Sampai sekarang surat kabar prestisius The Christian Science Monitor tak mau menggunakan kata “insurgent” untuk me-label gerilyawan Irak. Kata redakturnya, “Insurgent itu artinya pemberontak pada pemerintahan yang sah. Lha, di Irak ini, mana pemerintahannya yang sah?” Sementara itu, ketika terjadi serangan 9/11 2001, CNN dalam pemberitaannya menggunakan banner “America under Attack”. Ketika menyerang Afghanistan, CNN menggunakan banner “War on Terrorism”. Betapa tidak adilnya. Mengapa tidak “America Attacks Back”, atau “Afghanistan Also Under Attack”.

Kalau saja semua media berperilaku santun dan menghormatti bahasa seperti the Christian Science Monitor, mungkin Jake Lynch dan Annabel McGoldryck tak perlu meneruskan kampanye Johan Galtung tentang perlunya Peace Journalism. Dalam ajaran mereka (kami telah melatih lebih dari 200 wartawan di wilayah konflik di Indonesia dalam kurun waktu 2000-2002), penggunaan bahasa merupakan salah satu faktor penting pemicu konflik. Peace Journalism menganjurkan wartawan menghilangkan sterotye (seperti contoh di atas tentang bangsa Arab), membuang label (Tomy Winata marah besar kepada Tempo ketika disebut pemulung), menghilangkan kata sifat, tidak menggunakan kata-kata konotatif atau bermakna ganda, tidak hiperbola, dan seterusnya.

Media massa suka menulis adanya massacre (pembantaian) untuk sebuah pertempuran antar suku atau bahkan sekadar pembunuhan. Padahal yang dimaksud pembantaian hanya bila korban berjumlah banyak, dan para korban itu sedang tidak sadar akan diserang, dan tidak bersenjata. Kalau para korban itu tengah berjaga-jaga dengan membawa senjata, itu bukan pembantaian, itu pertempuran. Apalagi kalau sopir angkot Kristen berkelahi dengan preman Islam, lalu keduanya terbunuh. Ini bukan pembantaian Islam atas Kristen atau sebaliknya (kasus konflik Ambon), melainkan perkelahian antar preman. Agamanya tidak penting.

Media massa juga suka menggunakan kata ‘sadis’. Misalnya, “Perempuan itu membunuh pemerkosanya dengan sadis.” Perempuan itu korban perkosaan dan dia membunuh karena membela diri. Tentu tidak sama dengan perbuatan yang dapat dikatagorikan ‘sadis’, seperti membunuh karena merampok, mencuri, atau balas dendam, melakukan mutilasi pada tubuh korban dengan penuh kesadaran, menikmati proses pembunuhan, dst.

Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Merdeka Jakarta divonis bersalah oleh pengadilan dan dihukum penjara hanya karena penggunaan bahasa yang ceroboh (menggunakan metafor untuk tokoh riil). RM menulis “Mulut Mega Bau Solar” dan “Mega Lebih Kejam daripada Sumanto”.

Bahasa dan logika

Salah satu syarat utama menjadi wartawan seharusnya penguasaannya atas bahasa, bukan sekadar ketrampilannya melakukan wawancara (lihat hasilnya di talk show TV dan radio, bagaimana mereka menjadikan diri mereka pusat perhatian dengan kelincahannya ‘menginterogasi’ narasumber). Masih sering kita baca: “Pencuri itu berhasil ditangkap polisi”. Siapa yang berhasil? Kalau pencuri berhasil, dia tak akan ditangkap polisi, bukan? Pernah juga saya dengar di televisi: “Sistem lalu lintas yang baru ini dapat memperlancar kemacetan.” Kemacetan kok diperlancar?

Beberapa suratkabar menuai gugatan hanya karena menulis “koruptor”, bukannya “diduga korupsi”. Untuk kasus Laksamana Sukardi, beberapa media menulis “Lari”, atau “Kabur”. Harian Nusa menulis judul “Laks Diisukan Kabur”. Bahasa yang digunakan Nusa sudah benar, tapi karena Laks terlanjur marah, Nusa digugat juga.

Noam Chomsky, linguist yang sangat kritis terhadap media barat, terus menerus mencatat penggunaan bahasa yang menyesatkan oleh media barat. Salah satu bukunya “International Terrorism” banyak mengupas pilihan kata media barat yang justru menimbulkan kekisruhan dunia. Dia menandai bagaimana seorang anak pelempar batu di Palestina disebut “teroris” dan tentara Israel yang menggempur kamp pengungsian disebut “tindakan pencegahan”. Siapa pula yang diberi label “Negara Arab Moderat” (tentu saja yang setuju dengan kebijakan AS!) dan siapa yang “fundamentalis”.

Filsuf China Kong Hu Cu (Confusius, 1551-479 SM), ketika ditanya “Apa yang pertama kali dilakukan, seandainya terpilih menjadi pemimpin negara?”, menjawab, “Tentu saja meluruskan bahasa.” Jawaban ini mengejutkan. Lalu dia menjabarkan: “Jika bahasa tidak lurus, apa yang dikatakan bukanlah apa yang dimaksudkan. Jika yang dikatakan bukan yang dimaksudkan, apa yang seharusnya diperbuat tidak diperbuat. Jika tidak diperbuat, moral dan seni merosot. Jika moral dan seni merosot, keadilan akan tidak jelas arahnya. Jika keadilan tidak jelas arahnya, rakyat hanya berdiri dalam kebingungan yang tak tertolong. Maka, tak boleh ada kesewnang-wenangan dengan apa yang dikatan. Ini paling penting di atas segala-galanya.”

Pada akhir tahun 2002, sebuah perhelatan Miss World membuat 200 orang tewas dan puluhan bangunan hancur di Nigeria. Pasalnya, publik yang mayoritas Islam telah menolak penyelenggaraan Miss World itu. Apalagi di bulan Ramadhan. Namun pemerintah tetap mengizinkan pelaksanannya. Mengkritik para pemrotes kontes Miss World itu, seorang penulis menulis di harian Today. “Seandainya Nabi Muhammad masih hidup, mungkin dia akan memilih satu di antara kontestan untuk menjadi istrinya.” Rakya marah, terjadi kerusuhan, bentrokan dengan tentara, 200 orang tewas, puluhan mobil dan bangunan dibakar. Contoh ini menggambarkan apa yang dimaksudkan oleh Kong Hu Cu. Kepala negara, penulis yang berpengaruh, jurnalis, mesti hati-hati menggunakan bahasa. Bila bahasa tidak lurus (Nabi Muhammad tidak pernah memperistri orang karena daya tarik fisik!), dunia kisruh dan porak poranda. Nigeria telah mengalaminya.

Seorang kawan mengatakan, “Bahasa adalah dasar peradaban. Pembentuk karakter. Alat ukur logika. Persoalan pendidikan di Indonesia adalah lemahnya pengajaran bahasa. Tanpa penguasaan bahasa, sains dan tehnologi mustahil berkembang.” Anda tentu mengira kawan saya itu seorang ahli atau sarjana bahasa. Bukan. Dia seorang insinyur. Menurutnya, insinyur adalah manager, dan manager mesti menggunakan bahasa yang benar agar komunikasi efektif dan pekerjaan berjalan lancar. Tulisan ini saya persembahkan untuk dia sebagai penghormatan saya atas penghormatannya terhadap bahasa.

Desember 2004

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s