Bencana dan bagaimana manusia menghadapinya

Kolom Bulan Maret

Kita semua menyaksikan dan berduka atas musibah bencana alam yang terjadi di Jepang. Karena kemajuan teknologi komunikasi, peristiwa itu terekam dan tersiar hampir secepat terjadinya. Pada hari-hari pertama, yang kita rasakan adalah kengerian. Pada hari-hari berikutnya, kita dibuat tercengang oleh bagaimana warga Jepang menghadapi dan mensikapi bencana yang melanda mereka.

Setelah hantaman gelombang Tsunami  yang memporakporandakan infrastruktur dan berbagai sarana transportasi, kini Jepang dihadapkan pada momok radiasi akibat bocornya reaktor nukilir Fukushima. Kerusakan yang akan diakibatkan bukan sekadar fisik (bangunan, infrastruktur), tetapi juga rusaknya alam dan lingkungan serta ancaman gangguan kesehatan manusia.  Skala kerusakan dan ancaman Fukushima sungguh memiriskan hati siapapun yang mendengarnya. Dampak gangguan terhadap kesehatan baru akan dirasakan sekian tahun lagi. Seperti bencana Chernobyl (Ukraina), korban terpaan radiasi dapat mengidap kanker, dan dapat terjadi mutasi (perubahan struktur anatomi) pada janin dalam kandungan. Dalam bahasa sederhananya: bayi lahir cacat. Ini bencana kemanusiaan yang amat serius.

Namun kita di Indonesia terkesima melihat bagaimana warga Jepang yang tertimpa bencana tetap menegakkan disiplin, ketertiban, dan kepatuhan terhadap pemerintahnya. Tak ada tangisan, lolongan, atau kecaman kepada pemerintah. Para warga dengan tertib mematuhi semua anjuran dan panduan pemerintah.  Para pegawai reaktor nuklir tetap menjalankan tugas. Keluarganya ikhlas, dan bangga akan keputusan “harakiri” itu. Ya, bertugas di reaktor nuklir saat ini sama dengan mendapatkan vonis mati. Namun mereka rela berkorban demi mencegah kerusakan lebih besar. Bangsa Jepang memang sudah pernah mengalami  bencana alam berkali-kali. Bahkan mereka pernah mengalami tragedi bom atom. Cepatnya mereka bangkit, pulih dari keterpurukan, mungkin karena filosofi mereka: “gambaru”, berjuang sekeras-kerasnya hingga titik darah penghabisan.

Kekaguman kita pada karakter bangsa Jepang tentu tak luput dari kemampuan manajerial dan leadership para pemimpin Jepang dalam mengelola negara, khususnya dalam situasi darurat. Ketika Kaisar Hiro Hito berpidato pascar bom atom yang meluluh-lantakkan Hiroshima dan Nagasaki, yang pertamakali diminta untuk dicari/ditemukan adalah: guru. Ya, dalam kondisi perang, kalah, hancur, Sang Kaisar mengais sisa modal bangsa untuk membangun negara. Modalnya adalah guru.

Kepatuhan warga Jepang seperti kita saksikan di layar televisi tentu tidak terjadi secara sepihak. Mengapa mereka patuh pada anjuran dan panduan pemerintah? Karena pemerintahnya dapat diandalkan, dapat dipercaya. Kalau ada departemen di pemerintahan yang keliru menangani pekerjaannya, menterinya mengundurkan diri. Rasa malu yang tinggi ditambah rasa harga diri membuat pejabat Jepang tak segan-segan meletakkan jabatan. Mereka berpikir: “Kalau aku tidak becus mengelola negara ini, rakyat akan merugi. Lebih baik aku mundur.”

Nabi Muhammad SAW, junjungna kita yang memiliki visi ke depan (vioner), pada abad ke 6 sudah menyarankan umatnya untuk belajar hingga ke negeri China. Baru abad 21 orang-orang percaya dan mulai menengok ke China. Tertinggal 15 abad dari pandangan Nabi Muhammad SAW! Tentu tak semuanya indah tentang China. Banyak pembangunan di kota-kota besar, tetapi juga masih banyak rakyat miskin. Hal yang dapat dimaklumi mengingat jumlah penduduknya yang 1,2 milyar dan wilayahnya yang luas. Namun dalam hal kepulihan pasca-bencana, dan kesungguh-sungguhan dalam pemberantasan korupsi, bangsa Indonesia patut belajar dari China. Kini kita juga mesti belajar dari bangsa Jepang, sebagai warga negara, maupun –dan terutama- sebagai pengelola negara. Bagaimana negara tanpa sumber daya alam bisa makmur dan sejahtera?

Jati diri dan kedaulatan bangsa, agaknya itulah yang tak kita miliki namun dipeluk erat-erat oleh bangsa Jepang. Tahun 1980-an, ketika warga Jepang sedang amat kebarat-baratan (semua orang menggunakan benda-benda made in Amerika dan Eropah), pemerintah memberlakukan kebijakan “Gunakan/Beli produk dalam negeri!” Dalam jangka 10 tahun, ekonomi Jepang bangkit, tak lagi sebagai pasar penampung barang-barang impor, namun sudah menjadi salah satu negara eksportir yang diperhitungkan. “Gambaru”, semangat berjuang; dan harga diri, membuat bangsa Jepang berdaulat sepenuhnya. Menjalani kehidupan di Indonesia  belakangan ini, sulit bagi kita untuk mempercayai para pemimpin. Terlalu banyak retorika, wacana, citra. Tak ada kerja nyata. Konflik horisontal terus terjadi; sementara di tingkat elit putusan lembaga tertinggi (DPR, KPK) tak pernah ditindaklanjuti.  Rapat para petinggi hanya menjadi sarana dagang sapi. Sembako makin mahal, bahkan cabe tak terbeli. Lulusan SMA kebingungan mau melanjutkan studi dimana, karena biaya Perguruan Tinggi Negeri sama mahalnya bahkan lebih mahal daripada PTS.

Mungkin berat bagi para pemimpin kita untuk meniru Jepang, karena rakyat Jepang  yang homogen dan berada di daratan (utamanya 4 pulau) yang tak terlalu luas. Rakyat Indonesia amat heterogen dan terpencar-pencar dalam ribuan pulau. Kalau saja para pejabat menunjukkan kinerja yang sungguh-sungguh, kesulitan untuk mencapai kesejahteraan & kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia itu mungkin kita maklumi. Namun menjadi sulit bagi kita memaklumi nasib buruk kita, melihat perangai para pejabat yang korup, memperkaya diri sendiri, tak peduli pada rakyat.

Sementara di Aceh dan di beberapa kawasan lain di Indonesia juga mengalami bencana alam, di Jakarta orang-orang sibuk memperdebatkan Ahmadiyah, bom buku, dan bantahan SBY atas berita suratkabar Australia. Semoga Allah SWT segera memberikan nur dan hidayah bagi para pemimpin kita agar kembali pada apa yang menjadi amanatnya.

Sirikit Syah

Maret 2011

 

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s