Lagi, Politik Bahasa

Sirikit Syah

                Sebulan yang lalu, CNN diganjar larangan meliput dan bersiaran di Iran. Penyebabnya, Presiden Iran Ahmadinejad merasa pernyataannya dalam sebuah konferensi pers sengaja diplintir oleh CNN. Dalam acara jumpa pers yang disiarkan dan diterjemahkan langsung itu (dari Bahasa Parsi ke Bahasa Inggris), CNN menggunakan kata “senjata nuklir” sebagai terjemahan bahasa Parsi “teknologi nuklir” yang diucapkan Ahmadinejad. Kita semua tahu, sejak itu, Iran diserang dan dipojokkan oleh masyarakat internasional.

                Betapa jauhnya perbedaan makna “teknologi” dan “senjata”, dan betapa besar dampaknya. Dengan kata “teknologi”, tak ada satu negara atau lembaga internasionalpun yang dapat melarang atau mencegah Iran. Selain Iran adalah salah satu penandatangan persetujuan perkembangan teknologi nuklir, Iran juga telah memfatwakan bahwa “senjata nuklir diharamkan oleh Islam”. Jadi, kalau terjemahan CNN benar, tak ada alasan untuk menentang dan memojokkan Iran.

                Persoalannya, CNN menyebarkan secara langsung ke seluruh dunia bahwa Iran akan mengembangkan “senjata nuklir”. Maka banyak negara kebakaran jenggot, terutama Israel dan Amerika Serikat. Lalu muncul ancaman-ancaman, mulai dari perlawanan nuklir oleh Israel sampai embargo dari PBB yang  diusulkan oleh AS. Persoalan lebih penting bagi dunia jurnalistik adalah: apakah CNN keliru atau sengaja? Sulit diterima akal bahwa koresponden CNN (tentunya orang Iran yang paham bahasa Parsi dan Inggris) tak tahu perbedaan kata “teknologi” dan “senjata”.

                Baru-baru ini media barat mengutip laporan Timor Leste atas tewasnya tiga orang NTT di wilayah Timor Leste. Tiga orang ini sedang memancing di wilayah RI, lalu karena hujan, mereka menyisir sungai mencari tempat berteduh. Karena orang awam, mereka masuk ke wilayah Timor Leste, melanggar perbatasan. Bukannya ditanyai dan dikembalikan ke NTT, mereka langsung ditembaki dan ditembaki dalam jarak dekat (artinya, mereka tidak lari!). Laporan negara tetangga itu, ketiga orang itu adalah “infiltrators”, penyusup, dan sah ditembak mati.

                Dari sudut pandang politik, mungkin dapat dipahami mengapa laporan Timor Leste menganggap mereka sebagai penyusup. Jelas, itu untuk menghindar dari tuduhan kesalahan. Namun media barat, yang seharusnya obyektif, check & recheck, verifikasi di lapangan, mewawancarai para saksi; menyebut mereka penyusup. Lebih ironis lagi, media di Indonesia, bukannya mengklarifikasi atau mengangkat isu itu secara nasional dan internasional –untuk menekan Timor Leste atau untuk menunjukkan empati pada keluarga korban, sebagian malah mengutip media barat dengan menyebut bangsa sendiri yang menjadi korban itu sebagai penyusup.

                Kesedihan para keluarga yang ‘displaced’ (terusir) dari tanah airnya ini tak cukup diberi perhatian oleh media kita. Bukan hanya dari segi humanis, dari segi politikpun, media Indonesia terkesan mengekor media barat. Tentang laporan “pembunuhan ratusan ribu orang Timtim oleh ABRI”, berita-berita di Indonesia mengutip mentah-mentah laporan itu. Tak muncul usaha mempertanyakan keabsahan data/angka korban, penyebab kematian, atau wawancara saksi-saksi. Para pengungsi Timtim di NTT adalah saksi mata dan saksi hidup, bagaimana sebenarnya perilaku Indonesia terhadap rakyat Timor Timur waktu itu.

                Media, bersama para politikus dunia, membuat frame bahwa kebenaran hanya datang dari rakyat Timor Leste atau rakyat Timtim yang pro-kemerdekaan. Suara rakyat Timtim pro-integrasi tidak didengar. Tidak ada suara lain selain suara anti pemerintah RI.

Politik memang kotor. Politik bermain-main dengan kebenaran. Tetapi tugas media adalah meluruskannya, dengan cara memaparkan pandangan kedua belah pihak, berlaku seimbang, adil, melakukan verifikasi, bersikap obyektif. Media tak perlu ikut bermain dengan menjadi pembela bangsa, tetapi cukup dengan menulis dan mengajukan pertanyaan secara cerdas.

                Kita menunggu pertanyan cerdas media tentang isu-isu ini. Misalnya pertanyaan: apa penyebab kematian ratusan ribu rakyat Timtim itu, sedikit lebih detil dari sekadar propaganda hitam “tewas dibunuh ABRI”. Juga pertanyaan: mengapa tiga orang nyasar itu ditembak dari jarak dekat, bukannya ditanyai lalu dikirim kembali ke kampungnya. Dan tentang kasus CNN vs Iran, tak ada media bertanya pada CNN, “Itu kekeliruan atau sengaja, sih?” Cukup CNN minta maaf, tanpa penjelasan, dan semua media menerimanya. Iran telah melarang CNN masuk ke negaranya. Dan kalau semua orang mengatakan Iran membatasi kebebasan pers; saya ingin mengingatkan kembali, bahwa kebebasan pers adalah kebebasan konsumen media untuk mengkonsumsi atau tidak mengkonsumsi beritanya. Bila rakyat Iran marah kepada CNN dan menolak mengkonsumsi CNN, kepentingan siapa lagi yang dipakai sebagai ‘atas nama’ oleh CNN dan para media barat untuk terus mengobok-obok kedaulatan negara orang?

Januari 2006

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s