Media Memilih Fakta

Sirikit Syah

Saya heran kalau ada praktisi media yang mengatakan, “Kami menyajikan semua fakta”, atau “Kami menampilkan apa adanya”. Sesungguhnya, praktisi media, mulai dari wartawan si ujung tombak hingga ke redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi di dapur newsroom, selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Mereka dituntut membuat pilihan-pilihan dalam hitungan hari, jam, menit, bahkan detik.

Proses pemilihan dimulai dari para wartawan. Wartawan akan memilih narasumber mana yang lebih patut diwawancarai untuk sebuah kasus tertentu. Tentu saja, sebaiknya cover both sides, atau many sides. Namun, tetap saja dari sekian banyak narasumber tersedia, wartawan memilih mendatangi seseorang tertentu. Setelah mendapatkan 100 data, dia menyaring hingga tinggal 70 data, yang ditulisnya dalam tekanan deadline. Kemudian redaktur, dalam tekanan keterbatasan space atau duration, memilih lagi dari 70 fakta itu menjadi 30 atau 50 fakta. Pertanyaannya, fakta mana yang diplih selama proses itu?

Oke, kadang-kadang semua fakta bisa diangkat, karena perolehan data terbatas dan space memungkinkan. Atau, semua fakta yang didapat dianggap layak muat. Maka pilihannya adalah: mana fakta yang ditonjolkan, yang mendapat tempat istimewa di lead dan menjadi judul? Pada kasus pemberitaan Lisa pasien face off, mana lebih penting: Moelyono menyesal telah menyiramkan air keras ke wajah istrinya (Lisa), atau Moelyono menyesal telah membawa istrinya ke RS yang mengakibatkannya menjadi tersangka kejahatan? Dua-duanya harus diungkap, tetapi mana yang lebih patut ditonjolkan?

Para koki di dapur newsroom menggodhog perolehan informasi dari para “pembelanja” (wartawan) dengan sangat hati-hati. Lalu, ketikas emua bahan sudah siap disajikan, tiba-tiba ada bahan lain yang dianggap lebih baik dan lebih “fresh”, maka yang sudah siap saji tadi ditarik, diganti yang baru datang. Kadang-kadang yang telah dipasang dan yang baru datang sama bagusnya, lalu koki harus menimbang dan memutuskan dalam hitungan menit: yang mana lebih layak sebagai headline (berita utama)? Misalnya: pemogokan buruh atau Elpiji batal naik?

Ketika terjadi sebuah kecelakaan pesawat yang berpenumpang 4 orang, dua tewas dan dua selamat, sebuah koran akan memberi judul “Pesawat Jatuh, Dua Tewas”, sementara koran lain mungkin saja menulis “Dua Selamat dalam Kecelakaan Pesawat”.

Ribut-ribut majalah Playboy, misalnya, sebagian besar media memuat ulang gambar setengah telanjang Andhara Early, Surabaya Post memilih memuat ulang wawancara Playboy dengan sastrawan Pramoedya Anantar Toer. Surabaya Post juga memilih untuk tidak mengeksploitasi masa lalu Lisa, pasien face off, meskipun tidak sepenuhnya menyembunyikan fakta itu.

Dasar pemilihan fakta oleh setiap medium penerbitan adalah ideologi dan filosofinya ketika mendirikan perusahaan penerbitan. Institusi media tidak perlu gembar gembor bahwa dia medium netral atau mengusung suara partai anu, ras tertentu, atau agama itu, tak perlu; sebab dari pilihan beritanya, pembaca sudah tahu. Dan sebagaimana media memilih fakta, konsumen media memilih medianya. Pembaca akan memilih membaca Jawa Pos, Surya, Surabaya Post, atau Kompas, berdasarkan rasa pemenuhan kebutuhannya. Pembaca semakin cerdas, tak dapat dikelabui, dan sangat berdaya menentukan pilihan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab.

Mei 2006

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s