Mitos Rating

Tidak mudah memang mengajarkan Jurnalisme Damai. Setelah membantu melatih lebih dari 200 wartawan di Indonesia yang bekerja di wilayah konflik, tantangan terbesar memang menjawab pertanyaan: apakah jurnalisme damai laku? Baik media cetak maupun media elektronik memiliki ‘shared problem’ (meminjam istilah dalam jurnalisme damai), yaitu adanya kepercayaan yang berlebihan terhadap rating (dalam hal media cetak, circulation). Sulit sekali menanamkan kepercayaan kepada wartawan bahwa mereka memiliki peranan untuk menentukan. Sebagian besar mengatakan, rating-lah yang menentukan apa yang harus mereka kerjakan, bukan sebaliknya.

Di salah satu kelas di Surabaya, di antara dua lusin wartawan dari berbagai kelompok Jawa Pos Group, bahkan ada seorang peserta yang sepanjang pelatihan (dua hari penuh) terus menerus menggeleng-gelengkan kepala atau menggoyang-goyangkan telapak tangan, tanda ‘tidak bisa, tidak mungkin’. Dia juga menginterupsi ketika pelatih, Annabel McGoldryck, baru berbicara dua kalimat, dan terus menginterupsi sampai kelas berakhir. Tidak cukup dengan itu, dia bahkan mengirim surat di sela-sela sesi pelatihan, yang isi pokoknya serba ‘TIDAK MUNGKIN!’. Wartawan ini berasal dari sebuah koran lokal di Surabaya yang tiras korannya berubah setiap hari di setiap wilayah, tergantung wilayah mana hari itu menjadi subyek berita di halaman pertama (biasanya pembunuhan, pemerkosaan, perkelahian, kecelakaan, dll).

Di SCTV, program Buser, yang isinya antara lain pencuri ditembak kakinya oleh polisi dan diseret ke kantor polisi dalam ekspresi kesakitan,  menjadi salah satu kebanggaan dalam hal rating. Di RCTI, meskipun dengan cara lebih sopan, hampir semua produser dan crew liputan mengatakan, ‘Kami terus menerus ditegor kalau ratingnya turun, dan rating naik kalau beritanya keras.’ Di kelas Antara, ketika disampaikan bahwa koran bertiras tebesar di Indonesia adalah ‘koran damai’ bernama Kompas, ada yang menyanggah, ‘Bukan, melainkan Pos Kota.’ Di kelompok Kompas, tidak sedikit yang masih skeptikal sampai akhir pelatihan.

Hampir semua praktisi jurnalistik yang dijumpai dan dilatih seperti sepakat mempercayai mitos rating. Rating adalah tanda bukti paling benar untuk mengukur selera masyarakat, dan rating menunjukkan bahwa selera masyarakat Indonesia adalah kekerasan, kekejaman, sadisme, atau pornografi. Padahal rating hanya mensurvai orang-orang yang menonton TV, mendengarkan radio, atau membaca koran. Berapa jumlahnya? Rating tidak memberi informasi tentang orang-orang yang berhenti berlangganan koran, mematikan siaran televisi, dan memutar musik di radio, bukannya siaran berita, yang jumlahnya tentu jauh lebih banyak. Bondan Winarno, Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan, menelepon sendiri pelanggan yang berhenti berlangganan dan mendapatkan jawaban, ‘Kami lelah dengan berita-berita politik dan kekerasan’.

Mitos rating membuat praktisi media lupa, bahwa bila ingin memperluas pasarnya, mereka harus mensurvai orang-orang yang bukan pembaca/penonton/pendengar, dan meneliti apa keinginan/kebutuhan mereka. Siapa bilang orang tidak suka menonton cerita humanis mengenai kehidupan keluarga prajurit, sesaat setelah berita bentrok Polisi vs TNI, seperti ditayangkan di Buletin Siang RCTI? Siapa bilang headline harian Surya ‘Semua Senjata Sudah Digudangkan’ (dalam berita bentrok TNI vs Polisi) yang jelas menimbulkan rasa aman masyarakat, tidak akan dibeli orang?  Siapa bilang bahwa berita kepala sekolah Alkitab Maranatha di Palu, yang sekolahnya baru saja dikenai ledakan bom mengatakan ‘Semoga Tuhan memaafkan pelaku dan kami warga kristen tidak akan balas dendam’ tidak laku? Siapa bilang berita di Papua bahwa rakyat tidak terprovokasi berbagai isu dan selebaran, tidak menarik?

Kepada para wartawan yang selalu berargumentasi bahwa mereka tak punya kesempatan lain selain mengikuti pola dan irama pemberitaan umumnya (yaitu kekerasan), Jake Lynch, pelatih Jurnalisme Damai, cuma menyampaikan, “Barangsiapa yang selalu berlindung dibalik rutinitas untuk menghindari usaha-usaha kreatif ke arah eksplorasi cara lain memberitakan konflik, dia dan perusahaan medianya akan segera ‘out of business’, karena di atas segalanya, bisnis media menabukan apa yang disebut ‘rutin’. Bisnis media adalah tentang ‘perubahan’, dan hanya mereka yang berubah, yang lain, yang beda, yang akan memimpin.”

Sirikit Syah, 2002

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s