Mouse Journalism

Sirikit Syah

Aneh-aneh saja Robert Fisk ini. Wartawan Inggris independen ini belakangan semakin terkenal karena kiprahnya dalam pelaporan-pelaporan dari kancah perang di Timur Tengah. Laporannya blak-blakan, jelas dia bukan wartawan embedded (yang nunut pasukan tentara agar aman dan terfasilitasi dengan baik). Fisk juga tak repot-repot menerapkan kaidah jurnalistik mengenai keseimbangan. Yang penting akurat, katanya. Itu sebabnya, beritanya memang sering terkesan subyektif dan memihak.

Robert Fisk-lah yang pernah mempopulerkan istilah hotel journalism, dalam kaitan Perang Irak. Maksudnya, jurnalisme yang dilakukan dari sebuah kamar hotel. Wartawan tinggal menyetel CNN atau Al-Jazeera, melakukan kontak telepon, lalu kirim berita. Aman dan nyaman.

Baru-baru ini dia muncul lagi dengan istilah mouse journalism. Saya kira ini jurnalisme on line. Wartawan tinggal nge-click, maka semua data yang diperlukan keluar. Tinggal merangkai kata, lalu menulis nama sendiri di bagian bawah, jadilah. Mouse journalism dalam pengertian yang saya asumsikan ini juga marak di kalangan wartawan ngepos (nge-beat) di Indonesia. Coba tengok di kantor-kantor yang ada kerumuman wartawan: DPR/D, Pemprov, Pemkot, Pemkab, Polres, Polda, MA, KPU, Kejagung, dll. Ada saja wartawan yang menerapkan mouse journalism: copy paste berita buatan rekan, ganti nama dengan nama sendiri, kirim ke redaksi. Tak heran, banyak berita seragam. Maksud saya, bukan hanya isunya atau topiknya yang seragam (seperti zaman Orba), tetapi juga angle peliputannya, pilihan narasumbernya, pertanyaan wartawannya, judul dan leadnya, bahkan kesalahan ejaan dan tanda bacanyapun seragam! Maklum yang menulis satu orang, yang lain meng-copypaste.

Itu mouse journalism yang ada di benak saya, wartawan menggunakan mouse lalu nge-click copy-paste untuk memproduksi berita, bukannya pergi ke lapangan, wawancara sungguhan dengan nara sumber, menulis sambil menghimpun data di file dokumentasi atau sambil berpikir keras. Sepertinya wartawan yang bekerja seperti itu tak ada lagi.

Robert Fisk menceriterakan pengalaman dan pengamatannya meliput perang Irak dalam buku “The Great War of Civilization” yang baru diterbitkan. Yang dimaksudkan Fisk dengan mouse journalism itu ya betul-betul jurnalis yang berulah seperti tikus. Dia mencontohkan dirinya sendiri. “Saya hanya bisa muncul seketika di sebuah kejadian, bertahan sekitar 5 menit, menjepret dua jepretan foto, menanyai satu dua orang, lalu segera menyingkir, sebelum orang-orang bersenjata mengerumuni atau mendekati saya,” kisahnya.

Dia pernah mendatangi sebuah keluarga di sebuah kampung di Irak, yang anaknya tewas  ditembak tentara Amerika. Belum lama dia di sana, rumah itu sudah dikepung gerilyawan bersenjata. “Paling lama saya beri waktu bagi diri saya sendiri 12 menit. Saya perkirakan itulah waktu yang dibutuhkan oleh seseorang untuk menelepon lalu membuat orang-orang berdatangan.” Fisk memaparkan, suasana di Irak tidak memungkinkan wartawan “terlalu rakus” dalam mencari berita. Satu dua jepretan foto dan satu dua pertanyaan sudah cukup.

                Diakuinya, dengan demikian, tak ada gambaran riil tentang bagaimana keadaan sesungguhnya. Para wartawan ketakutan. Praktik hotel journalism meningkat. Yang nekad, seperti Fisk, harus berlaku seperti tikus: muncul-mengendus-menyingkir. Dalam hitungan menit. Fisk dan beberapa rekannya malah sudah memulai perdebatan: “Is it worth it?” Apakah risiko itu cukup sebanding dengan yang didapatkan? Bahasa Jawanya “Sumbut gak sih?”

                Penuturan Fisk ini semakin mencemaskan kita semua, penduduk dunia. Bisa-bisa memang wartawan memutuskan “It’s not worth it”, lalu mereka meninggalkan Irak. Tak ada lagi laporan. Kita semua menunggu laporan wartawan: siapa yang tega mengebom masjid? Amerika dengan gampang menuduh “Pasti Al-Qaeda”. Suatu hal yang bukan saja tidak mungkin, tetapi juga tidak nalar, bertentangan dengan fanatisme agama yang diusung Al-Qaeda. Orang Irak sendiri? Bisa jadi. Tapi tanpa provokasi, sulit membayangkan orang Islam, apapun alirannya –Syiah, Sunni- atau orang Kurdi, tega mengebom masjid. Siapa dalangnya? Siapa yang merancang terjadinya perang saudara di Irak? Untuk kepentingan apa?

                Sayang, Robert Fisk dan kawan-kawannya masih harus meliput seperti tikus dan sedang dalam perdebatan apakah layak mempertaruhkan nyawa untuk sebuah liputan di Irak.

Februari 2006

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s