Program Televisi Layak Tonton

Sirikit Syah

Sebetulnya saya lebih suka membaca buku. Saya juga suka menonton film. Tapi, karena saya memilih profesi yang pekerjaannya antara lain mengamati media massa, saya menonton televisi. Saya menonton apa saja, siaran berita, sinetron, reality show, talk show, misteri, film kartun, bahkan iklan. Saya juga sering switching channel, dari TV swasta nasional sampai TV lokal dan TV “liar” (tak jelas izinnya).

Penonton di Indonesia memang paling dimanjakan, dibanding pemirsa televisi di banyak negara lain. Di Inggris misalnya, hanya ada 5 saluran televisi yang menggunakan ranah publik (frekuensi udara), yang bebas masuk rumah. Selebihnya masuk lewat sistem kabel, pemirsa harus membayar (berlangganan). Begitu juga di Amerika Serikat. Secara tardisional, hanya ada tiga saluran TV nasional: ABC, NBC, CBS, yang di negara bagian atau tingkat kota berafiliasi dengan TV setempat. Selebihnya lewat kabel, termasuk Fox, CNN, MTV.

Meskipun demikian, program tayangan televisi Indonesia sangat tidak bervariasi, bahkan cenderung membosankan. Dalam dunia pemrograman televisi ada yang disebut strategi head to head, yaitu menayangkan program yang sama dengan kompetitor pada jam yang sama. Sebetulnya strategi ini didasari dorongan membuat program yang sama yang lebih bagus kualitasnya. Tujuannya agar pemirsa pada jam itu menjadi terpecah konsentrasinya dan switching channel (pindah saluran).

Namun tak tampak konsep seperti itu di televisi Indonesia. Program TV Indonesia yang dijadualkan dengan strategi head to head hanya menunjukkan kemiskinan kreativitas. Yang menonjol adalah jiplak menjiplak, tiru meniru, latah. Yang paling kentara dalam hal ini adalah tayangan infotainment. Bukan saja jam tayangnya sama persis di banyak stasion, bahkan visual dan narasinyapun seperti “kloning” (istilah penjiplakan total di kalangan media massa).

Para progammer televisi di Indonesia belum siap menerapkan strategi counter programming, di mana sebuah stasiun televisi menayangkan program yang sama sekali berbeda. Satu-satunya stasiun TV di Indonesia yang menayangkan program berbeda hanya Lativi (didominasi film kartun). Namun itu bukan dengan semangat counter programming, melainkan cermin kemiskinan program siaran.

Strategi counter programming memang berisiko. Bisa dibayangkan, ketika semua stasiun menayangkan sinetron pada jam prime time, tiba-tiba kita menayangkan talk show serius tentang RAPBN 2006 atau musik unplugged Alicia Keys? Sangat berisiko. Para pemirsa Indonesia gemar sinetron. Maukah beralih ke program lain? Bisa sepi pemirsa. Ancaman gagal di perolehan iklan. Namun, ada peluang besar juga, bukan? Bagaimana bila para pemirsa Indonesia sesungguhnya jenuh pada sinetron dan menunggu-nunggu sesuatu yang lain pada jam 7 – 9 malam? Programmer yang berani menerapkan counter programming akan menjadi leader, trendsetter. Kesuksesannya akan diikuti stasiun lain. Bila sudah jenuh, tiba waktunya untuk melakukan counter programming lagi. Dia selalu berada di depan.

Mengenai tayangan, saya paling suka Who Wants to be a Millionaire (RCTI). Saya menganjurkan pembaca dan keluarganya untuk menyaksikan tayangan yang mendidik dan menambah wawasan ini. Selain banyak pengetahuan baru, kita juga mengenal latar belakang para peserta yang beraneka ragam, karakternya ketika menghadapi tantangan. Saya sendiri sering ikut kuiz ini dari rumah secara jujur dan belum pernah mendapat lebih dari Rp 125 juta. Selalu gagal di pertanyaan sebelumnya. Program ini sangat menarik dan menantang.

Who Wants to be a Millionaire juga menunjukkan bahwa program lisensi asing tak selamanya buruk. Kegagalan RCTI adalah ketika menayangkan versi Indonesia Joe Millionaire. Tayangan yang melecehkan perempuan itu diprotes banyak orang. RCTI menghentikannya. Namun kini ada tayangan berlisensi, yang sejenis, yaitu The Swan. Di program ini, perempuan dibuat tidak menyukai dirinya sendiri, lalu disponsori untuk mengubah diri menjadi sosok lain (melalui operasi bedah). Segala proses ini dijadikan komoditas tayangan.

Saya juga menganjurkan pemirsa menonton Masquarade (RCTI), program permainan yang sangat lucu dan menarik dari Jepang. Pemainnya kadang-kadang anak-anak dan gurunya, sekumpulan anak muda, sebuah keluarga, bahkan pernah seorang nenek-nenek. Menakjubkan, bagaimana para peserta membuat selembar kain menjadi pergantian musim, atau gelombang pasang. Ada juga yang cuma memainkan telapak kaki dan kaus kaki, menjadikannya bermacam ekspresi. Bahkan, ada yang menjadi pakaian di dalam mesin cuci! Ini dapat mengilhami anak-anak Indonesia untuk kreatif. Pepsodent saja sudah meniru dalam sebuah iklan produknya.

Tayangan yang saya anjurkan untuk layak tonton juga adalah Jelajah (Trans) dan Jejak Petualang (TV7). Rasanya, program ini tak kalah menarik dengan tayangan dokumenter dari National Geographic dan Discovery Channel. Pemandu akan membawa kita bertualang di hutan, berlayar ke pulau terpencil, bermain-main dengan penyu-penyu yang baru menetas, merasakan makan ulat hidup dari pohon sagu bersama orang-orang suku pedalaman, memasak makanan khas, menyaksikan upacara adat yang sakral, dan seterusnya. Rasanya, Indonesia tak akan kekeringan obyek untuk tayangan dokumenter semacam ini.

Saya tahu program dokumenter mungkin tak terlalu laku di televisi Indonesia. Saya berharap produser tetap memproduksinya. Sebab, program semacam ini akan sangat laku di luar negeri. Seluruh dunia memutar feature dokumenter National Geographic. Saya kira, sudah tiba masanya para produser film dokumenter Indonesia memasuki pasar itu.

Oktober 2005

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s