Selera dan Kepatutan

Sirikit Syah

Di Arab Saudi, seorang penyanyi pop ditangkap dan ditahan karena bersalaman dan dicium para penggemarnya saat jalan-jalan di sebuah mall –melanggar aturan negara. Aturan yang pasti akan dikecam para pembela HAM dan kebebasan berkespresi, terutama yang berkiblat ke barat.Tapi bagaimana dengan hukuman bagi lelaki yang mensiuli perempuan berpakaian minim dan seksi? Orang ini bahkan tidak menyentuhnya. Bila si perempuan berargumentasi bahwa ‘tubuhnya adalah miliknya sendiri, haknya sepenuhnya’, si lelaki bisa juga berkilah, ‘mulutnya yang bersiul adalah mulutnya sendiri’. Kata perempuan: tapi siulan itu mengganggu perempuan yang disiuli. Laki-laki bisa menjawab: busana seksi juga mengganggu kenyamanan laki-laki di sekitarnya.

Tulisan ini bukan membela laki-laki pengganggu atau mengecam perempuan berbusana minim. Lebih dari itu, ini tentang keadilan dan kesetaraan hukum. Bila negara-negara di Timur Tengah dikecam habis karena peraturannya (perempuan dilarang mengemudi, dilarang berciuman di tempat umum), mengapa kita tidak boleh mengecam aturan ‘sexual harrassement’ yang membuat banyak mahasiswa dan dosen di AS dipecat dari kampus mereka itu? Kalau mensiuli saja dianggap ‘bersalah’, mengapa hukuman terhadap ‘berciuman yang bukan muhrimnya di depan publik’ dianggap keterlaluan?

Baru-baru ini Putin, pemimpin negara Rusia, bicara di televisi Amerika. Dia mengecam demokrasi Amerika. Kata Putin, demokrasi di Amerika bohong-bohongan. Rakyat memilih partai/wakil, lalu partai/wakil itu memilih presiden. “Apalagi, pada tahun 2000, presiden Amerika ditentukan oleh keputusan pengadilan!” kecamnya. Menurut Putin, demokrasi yang benar adalah ketika rakyat memilih langsung pemimpinnya, seperti di Rusia (dia tidak menyebut Indonesia). Putin juga mengingatkan bahwa demokrasi tidak bisa diekspor, apalagi dipaksakan –lalu dia mencontohkan betapa kelirunya memaksakan demokrasi di Irak.

Tapi Amerika memang negara aneh. Mungkin sedang dalam persimpangan: antara liberalisme dan konservativisme atau bahkan fundamentalisme. Di negara bagian Virginia, pantai timur yang modern, tetangga District Columbia (tempat kota Washington, ibukota negara, berada), celana melorot dicekal! Kalau ada anak-anak muda pakai celana melorot sampai kelihatan celana dalam, atau pantat, atau perut bagian bawahnya, anak itu ditangkap! (Padahal penampilan itu sedang ngetrend di Indonesia!).

Di negara bagian Texas, lain lagi. Anggota DPR di sini sedang merancang undang-undang yang melarang penari cheer leaders berpakaian terlalu hot saat berpentas. Kata anggota DPR dari Partai Demokrat, Joe Deshotel, cewek-cewek itu berbusana dan menari seperti layaknya penari telanjang di klub-klub dewasa. Penentangnya bilang: “Mengapa tidak sekalian menyuruh mereka memakai burqa seperti kaum Taliban!”

Bila pemirsa televisi Indonesia melihat tayangan video klip musik Amerika yang isinya perempuan setengah telanjang menggoyang-goyangkan badannya dengan ekspresi seperti bersenggama (dengan lirik jorok yang dinyanyikan oleh laki-laki), jangan salah mengerti. Video klip itu memang buatan Amerika, dan yang menayangkan adalah MTV, jaringan stasiun televisi Amerika. Namun, di negara Amerika sendiri, MTV tidak dapat ditonton oleh sembarang orang secara bebas. MTV adalah jaringan TV Cable yang baru dapat ditonton bila orang berlangganan alias membayar. Tak beda dengan HBO bagi penggemar film atau ESPN penggemar sport. Bahkan serial populer ”Sex and the City” buatan HBO juga hanya dapat diakses bila penonton berlangganan. Di Indonesia, ”Sex and the City” serta video klip berisi lirik dan adegan jorok itu ditayangkan secara bebas di ranah publik. FCC bahkan memberlakukan kode busana/dress code untuk siaran langsung dan menerapkan penggunaan alat tunda siaran langsung di lembaga penyiaran. Udara Indonesia dipenuhi program-program yang bahkan di Amerika sendiri dibatasi dan disensor!

Pembicaraan mengenai apa yang pantas dan patut, mana yang berselera dan tak berselera (tasteless), apa yang dianggap pornografi dan karya seni, selalu menimbulkan perdebatan runcing. SBY mengimbau agar puser tidak diumbar di televisi, dia dikecam balik oleh para aktivis perempuan: “Puser SBY memang tidak menarik ditonton!”

2006

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s