Siapakah Publik?

Sirikit Syah

Niat baik Komisi Penyiaran Indonesia untuk membahas secara terbuka “apakah infotainment itu karya jurnalistik atau bukan”, pekan lalu di Jakarta, kandas. Diskusi itu berubah menjadi ajang serangan pada anggota KPI Ade Armando, yang dinilai terlalu membela Sarah Azhari, salah satu narasumber diskusi. Maklum hadirin terdiri atas para wartawan, khususnya yang mengaku sebagai “wartawan” infotainment.

Karena penyebutan “wartawan” bagi awak infotainment masih dalam perdebatan, dalam tulisan ini saya menyebut mereka sebagai awak (crew). Awak infotainment tersinggung karena Ade Armando, yang sebelum menjadi anggot KPI adalah aktivis media watch, menonjolkan perlunya dilindungi dan dihargai hak privasi Sarah Azhari, meskipun dia seorang selebriti.

Substansi dari diskusi ini, selain apakah infotainment itu karya jurnalistik atau bukan, adalah “siapa sebetulnya yang disebut publik, dalam hubungannya dengan media massa?” Apakah Sarah Azhari adalah publik yang perlu dilindungi? Saya sependapat dengan Ade Armando bahwa jawabannya adalah “ya”. Meskipun Ade dan saya bukan penggemar Sarah Azhari, dan mungkin bahkan menganggap nilai-nilai yang dianut Sarah Azhari tidak patut, kami berdua menganggap bahwa Sarah Azhari adalah anggota atau bagian dari publik yang mesti dilindungi. Jangankan Sarah Azhari, bintang film porno sekalipun, bila privasinya diobok-obok oleh media dan namanya dicemarkan, mesti mendapat perlakuan yang sama dengan korban lain yang bukan bintang terkenal.

Berapa kali bintang film porno membuat film porno dalam setahun adalah urusan media massa dan publik. Namun berapa kali dia berhubungan seks dalam sehari adalah urusan pribadinya yang bukan hak rakyat untuk tahu. Di sinilah jargon “the people has the right to know” sering diselewengkan oleh media masa.

Saya pernah mengalami hal yang sama dengan Ade Armando. Ketika tulisan saya di Kompas dan Surabaya Post pada tahun 2003 menganalisis kesalahan jurnalistik Tempo dalam kasus Tomy Winata dan Tanah Abang, semua insan pers di Indonesia mengecam saya. Mereka tidak habis pikir, bagaimana saya menyamakan TW dengan publik. Menurut mereka, TW bukan publik, bahkan TW adalah “musuh bersama”.

Meskipun saya memaparkan kesalahan jurnalistik Tempo secara terbuka, saya menolak tawaran tim pengacara TW untuk menjadi saksi ahli di pengadilan (memberatkan Bambang Harimurti dan Tempo, tentu saja). Bukan saya takut berhadapan dengan pers, melainkan karena saya memang tak ingin terlalu aktif membela TW. Tulisan-tulisan saya di media massa sudah cukup baginya untuk memenangkan kasusnya di pengadilan. Tak perlu saya menambah-nambahi kemenangannya dengan kesaksian saya.

John Stuart Mill, bapak demokrasi yang menulis On Liberty, mengatakan, “Jika seluruh umat manusia berpendapat sama dan hanya ada satu orang saja yang berpendapat beda, maka seluruh umat manusia itu tidak boleh membungkam satu orang yang berpendapat beda itu. Sebaliknya, satu orang yang berpendapat beda itu, sekalipun dia penguasa, tidak dibenarkan membungkam suara banyak orang yang dikuasainya.” Inilah esensi demokrasi. Dalam kasus Tomy Winata vs Tempo, suara saya jelas beda dari suara mainstream media dan masyarakat Indonesia. Saya mesti berterimakasih pada media massa di Indonesia, karena suara saya tidak dibungkam.

Dalam hukum, seorang yang dikenal sebagai maling tidak dapat ditolak hak hukumnya ketika dia melaporkan dirinya kemalingan. Mungkin TW benar seorang “maling besar”, namun tindakannya melaporkan Tempo melalui jalur hukum, tidak dapat disalahkan, dan dia harus diperlakukan sama dengan warga negara lain di hadapan hukum. Tidak ada diskriminasi dalam hukum. Victor Hugo dalam Les Misarables mengisahkan dengan sangat tepat, seorang dermawan, tokoh panutan dan teladan, tetap harus menjalani hukuman atas kesalahannya di masa lalu, meskipun seluruh penduduk kota bersedih untuknya.

Bahkan tokoh politik, pemimpin negara, seperti Gerard Schroeder (Jerman), dianggap sebagai anggota publik, dan memenangkan gugatan kepada pers, hanya karena dia tidak suka rahasia rambut palsunya diungkap di media massa. Padahal media bisa saja berkilah, dia kan presiden, kita boleh menulis apa saja tentang presiden. Pada kenyataannya, di negara yang kehidupan persnya sudah bebas dan maju, hal seperti itu tak dapat dilakukan.

Tomy Winata dan Sarah Azhari, betapapun buruknya citra mereka, adalah anggota dan bagian dari publik yang punya hak untuk dilindungi secara hukum. Kalangan pers yang “gemas” dengan ulah orang-orang semacam Sarah Azhari bisa saja berhenti meliputnya dan berhenti membantunya menaiki tangga popularitas. Yang “gemas” dengan peran-peran invisible TW di kalangan birokrat dan aparat, mengapa tidak melakukan investigative reporting dan menjebloskannya ke penjara dengan bukti-bukti valid dan akurat?

Memang, di negeri yang masih bernama Indonesia ini, kita mesti menerima kenyataan bahwa orang-orang yang “dapat dirasakan” berlaku jahat, tetapi sulit dibuktikan, akan memenangkan pertarungan saat ini. Tugas kita adalah mempersiapkan kemenangan di masa depan. Mungkin ini tujuan jangka panjang, memerlukan pergantian satu atau dua generasi, tetapi berharga untuk dilakukan. Tugas kita adalah mempersiapkan selebriti-selebriti yang kualitasnya lebih baik daripada Sarah Azhari, pedagang yang lebih jujur daripada Tommy Winata, aparat dan birokrat yang tidak perlu beli ijazah palsu. Tugas kita jauh lebih panjang dan lebih mulia daripada sekadar bertarung membela atau memusuhi orang-orang seperti Sarah Azhari dan Tomy Winata.

September 2005

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s