Sisi Lain Pahlawan Watergate

Oleh Sirikit Syah

                Hampir semua wartawan atau mahasiswa yang belajar jurnalistik mengenal nama Bob Woodward dan Carl Bernstein. Atau mungkin perlu diingatkan bahwa mereka adalah tokoh di balik terbongkarnya skandal Watergate, yang berujung mundurnya Nixon dari kepresidenan AS. Lebih populer lagi, mereka menulis buku All the President’s Men, yang kemudian menjadi film dengan bintang Robert Redford dan Dustin Hoffman.

                Banyak cerita menarik, mencengangkan, mengagumkan tentang mereka berdua. Dalam buku dan filmnya pun orang dapat ikut merasakan bagaimana mereka bekerja secara profesional, tak mengenal lelah, untuk mencari suatu kebenaran. Skandal Watergate membawa dampak yang sangat besar di dunia jurnalisme, khususnya di Amerika Serikat, terutama dalam tata cara wartawan mencari berita. Kisah itu sebetulnya mula-mula tak digubris oleh wartawan dan media lain. Selama berbulan-bulan (Juni – November 1972) Washington Post melaporkan kisah itu sendirian. Katherine Graham almarhum, pemilik Wahington Post, bahkan pernah menanyai redaktur Ben Bradley, “Kalau cerita ini begitu penting, mana yang lainnya …?” (Maksudnya, kok pers lain adem ayem saja?).

Dari 433 koresponden di Washington pada tahun 1972 itu, hanya 15 yang benar-benar menulis tentang skandal Watergate pada bulan-bulan pertama, tapi kemudian menghilang pada bulan-bulan berikutnya. Hanya beberapa media selain Washington Post, yang cukup rajin menulis tentang Watergate, yaitu LA Times, New York Times, dan majalah Time. Selebihnya, bungkam seribu bahasa. Di dalam Washington Post pun, banyak anggota redaksi yang skeptis, terutama para wartawan Gedung Putih dan redaktur nasional. Mereka berusaha melemahkan semangat Woodward dan Bernstein. Namun ketika Nixon turun, Katherine Graham dapat bercerita dengan bangga. “Banyak orang bertanya kepada saya, bagaimana posisi saya pada masa itu. Tentu saja saya sering dipanggil oleh Presiden. Apakah saya takut? Saya lebih takut turun ke lantai lima.” (Catatan: lantai lima adalah ruang redaksi. Katherine Graham secara implisit mengatakan, dia lebih takut bertentangan dengan kehendak tim redaksi dibanding menentang permohonan seorang Presiden!).

Wartawan Gedung Putih

                Setelah peristiwa Watergate (1972) hubungan wartawan Gedung Putih dengan Presiden AS tidak sama lagi. Sebelumnya, para wartawan Gedung Putih adalah pers yang pasif. Setelahnya, mereka menjadi pers yang ‘marah’, meskipun tetap pasif. Para wartawan Gedung Putih itu merasa frustrasi karena ‘kecolongan’ oleh Woodward dan Bernstein yang ‘membongkar skandal itu tanpa pernah masuk pintu pagar Gedung Putih’. Mereka kehilangan kepercayaan pada para staf pers kepresidenan. Mereka menganggap para staf pers itu telah mengkhianati mereka. Lalu mereka memutuskan untuk ikut-ikutan menjadi wartawan investigasi, tak lagi sekadar menerima briefing, mencatat informasi dari press secretary (sebagian pengamat jurnalisme menandai Peristiwa Watergate sebagai bangkitnya investigative journalism). Caranya? Mereka bertanya lebih gencar, lebih tajam, dan seperti kata wartawan senior David Broder ‘lebih seperti jaksa’. Itu terjadi dalam pemerintahan Presiden Ford.

                Pemerintahan Presiden Reagan lebih pandai mengurus pers (dalam studi ilmu komunikasi, Reagan tercatat sebagai tokoh publik yang pandai memanfaatkan kamera televisi). Pada masanya, muncul ‘Deaver Rule’ (dari nama Michael Deaver, pembantu pers Reagan), yaitu bahwa wartawan yang melompat ke atas kursi, mendesak ke depan, bertanya sambil berteriak, pada saat konferensi pers, tak akan dilayani. “Wartawan harus duduk di kursi masing-masing dan angkat tangan kalau mau bertanya, atau konferensi pers dibatalkan,” begitu ancam Deaver.

                Apa yang dilakukan Woodward dan Bernstein, dua wartawan non-gedung Putih yang menjatuhkan seorang Presiden AS, cukup membuat gemas dan iri rekan seprofesinya. Apalagi kemudian mereka menjadi kaya raya karena penjualan buku dan filmnya. Beberapa kalangan yang sinis mengatakan, Watergate meluncurkan wartawan tak dikenal ke dunia ketenaran dan kekayaan, membuat mereka menjadi celebrities. Bagaimana tidak? Buku All the President’s Men yang diluncurkan bulan Mei 1974 menjadi buku non-fiksi terlaris sepanjang sejarah penerbitan di Amerika. Robert Redford langsung membeli hak filmnya.

Di Balik Kepahlawanan Itu

                Titik balik kepahlawanan Woodward dan Bernstein dimulai ketika segera setelah sukses film dan buku pertama mereka, mereka menerbitkan buku kedua The Final Days, tentang hari-hari terakhir Nixon di kursi kepresidenan. Buku itu juga laris, tapi sebagian pengamat menganggapnya ‘too much’ (berlebihan), terlalu detil menggambarkan keterpurukan Nixon. Eric Sevareid, komentator CBS News, mengatakan, “Kalau Presiden Nixon tak tahu di mana dia harus berhenti memburu kekuasaan (power), dua wartawan ini sama saja, mereka tak tahu kapan harus berhenti mengejar ketenaran dan uang. Bahkan kanibal-pun tak menyantap daging hidup.”

Buku The Final Days menjadi kontroversial. Beberapa nama yang dikutip di buku, seperti Henry Kissinger, David Eisenhower, dan Edward Cox (menantu Nixon) membantah bagian buku yang dikatakan dikonfirmasi dari mereka. Para wartawan Gedung Putih pun angkat tangan, atas kemungkinan mereka dikira sebagai ‘sumber tanpa nama’ yang memberi ketarangan dalam buku itu.

                Woodward tidak berhenti di situ. Dia kemudian menerbitkan beberapa buku lagi: The Brethren (bersama Scott Armstrong), Wired (tentang John Belushi), Veil (tentang William Casey dan CIA), serta The Commanders (tentang Pentagon). Semuanya menjadi buku terlaris dan membuat Woodward semakin tenar dan kaya, tetapi di lain pihak, semakin banyak kritik diarahkan padanya. Cara-cara Woodward yang kerap mengutip pernyataan tanpa nara sumber, nara sumber yang tak jelas, berdasarkan ingatan beberapa saksi mata (bukan Woodward sendiri), dan sejenisnya, menodai idealisme investigative journalism yang semakin banyak diterapkan oleh para wartawan.

                Beberapa skandal memalukan juga melibatkan Bob Woodward. Di antaranya yang paling terkenal adalah tulisan Janet Cooke tentang kisah Jimmy, anak 8 tahun yang kecanduan narkotik. Janet adalah wartawan baru di Washington Post. Pada saat itu, editor yang meloloskan tulisannya adalah Woodward. Tulisan itu mendapatkan hadiah Pulitzer tahun 1981, namun kemudian terbukti semua nara sumber di tulisan itu palsu dan kisah itu fiktif belaka. Hadiah Pulitzer dikembalikan, Janet Cooke dipecat, Washington Post dan Woodward harus menahan malu.

                Sebagai editor Woodward juga meloloskan cerita yang kemudian dituntut sebagai kasus libel, pencemaran nama baik, oleh William Tavoulareas, salah seorang pimpinan Mobil Oil. Tavoulareas dituduh tidak bertanggungjawab terhadap para pemegang saham Mobil Oil ketika ‘menempatkan’ (setting up) anak laki-lakinya bekerja di perusahaan yang menjalin hubungan bisnis dengan Mobil Oil. Yang menarik, dalam sidang pengadilan, Woodward ingin menjadi saksi dan mengungkapkan bahwa dialah si pengungkap skandal Watergate yang menjatuhkan Nixon, untuk menarik simpati para juri. Pengacaranya melarangnya. Menurut sang pengacara, Woodward sudah sangat terkenal, sehingga tak perlu terlalu kentara menyebutkan hal itu, para juri diperkirakan sudah tahu. Nyatanya, para juri tak tahu apa-apa soal Woodward atau All the President’s Men. Bahkan mereka juga tak menyebut-nyebut Watergate. Di mata mereka, tulisan itu memang merugikan Tavoulareas, dan mereka sepakat memenangkannya. Sekali lagi, Woodward dan Washington Post harus menanggung malu.

Absense of Malice

                Sementara film All The President’s Men yang disutradarai oleh Alan Pakula menyelamati dan mempopulerkan mitos journalism-in-watergate (cara jurnalisme yang digunakan dalam membongkar skandal Watregate), film Absence of Malice memunculkan mitos lain lagi yaitu watergate-in-journalism (cara-cara Watergate dalam jurnalisme). Film ini disutradari oleh Sidney Pollack, tahun 1981, dan memperoleh Oscar untuk aktor terbaik (Paul Newman) dan aktris pembantu terbaik (Melinda Dillon). Sally Field bermain sebagai wartawan investigasi yang bermaksud membongkar skandal (affair) seorang pengusaha besar.

                Bila All The President’s Men menunjukkan bahwa taktik reporting yang meragukan diperbolehkan untuk seorang tokoh publik (yang kebetulan terbukti bersalah), Absence of Malice sebaliknya, mengecam cara-cara ‘Watergate reporting’ untuk private person, orang biasa (yang ternyata memang tidak bersalah). Dalam film ini digambarkan efek dramatis dari kekeliruan wartawan: orang biasa yang terlanjur diberitakan dengan sangat buruk itu bunuh diri tak tahan menghadapi serangan pers.

                Kisah ini memberi pelajaran bagi kita mengenai jurnalisme investigasi yang sangat mudah dimanipulasi (keterangan palsu, nara sumber fiktif, tidak akurat, tidak valid, dll). Juga mengenai ketamakan atas ketenaran dan kekayaan yang dapat membuat wartawan lupa. Namun tak dapat kita lupakan bahwa Woodward dan Bernsterin telah melakukan sesuatu yang luar biasa: mengobrak-abrik Gedung Putih tanpa pernah masuk ke dalamnya. Ini sebuah ‘pukulan’ bagi para wartawan kepresidenan, di Amerika atau di mana saja. Juga di Indonesia.

London, 2002

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s