Tanggungjawab Pewawancara Televisi

Sirikit Syah

Baru-baru ini di Amerika Serikat, seorang ibu menembak dirinya sendiri hingga tewas, hanya beberapa jam setelah dia diwawancarai oleh Nancy Grace dari CNN Headlines News. Ibu malang yang baru saja kehilangan anaknya itu diwawancarai oleh Nancy Grace, mantan jaksa yang kemudian menjadi host di CNN. Nancy, seperti kebiasaannya, lebih menginterogasi daripada mewawancarai. Pertanyaan-pertanyan Nancy ditengarai menyudutkan sang ibu, membuatnya depresi, sehingga dia memutuskan untuk bunuh diri.

Menurut para kerabat Nancy, Melinda Duckett kehilangan anak lelakinya dua minggu sebelumnya. Dia kemudian ditelepon oleh Nancy Grace, pewawancara terkenal dari CNN. Ibu yang tengah kalut itu dicecar pertanyaan-pertanyaan layaknya interogasi. Pada akhir wawancara bahkan Nancy menggebrag meja dan menyerang, “Anda dimana waktu anak Anda hilang itu? Mengapa Anda tak mau bilang?” dan “Mengapa Anda tak mau melakukan test kebohongan?”. Rupanya Nancy berhasil menambah kepanikan dan kekalutan Melinda hingga tak ada solusi tentang dimana anak hilang ini, malahan sang ibu bunuh diri.

Di AS, talk show menjadi ajang kebebasan berpendapat dan bereskpresi rakyatnya. Tak sedikit angka pembunuhan dan bunuh diri yang bisa dikaitkan dengan program talkshow. Tahun 1994, seorang narasumber menembak mati narasumber lainnya sesaat setelah talk show usai. Entah, ada juga masyarakat yang menganggap ukuran keberhasilan host adalah yang membuat narasumbernya ”melakukan sesuatu”, apapun itu, termasuk pembunuhan.

Bagaimana sesungguhnya peran dan tanggungjawab seorang host?

Saat ini banyak mahasiswi ilmu komunikasi atau jurnalistik bercita-cita menjadi presenter atau host program televisi. Memang sebuah profesi yang menggiurkan. Cepat terkenal, glamour, bergaji lumayan. Apa saja yang diperlukan untuk menjadi host yang populer? Cantik, kelihatan cerdas, dan pintar bertanya.

Namun tak jarang para host televisi ini kebablasan dalam mempraktikkan kepiawaiannya mewawancarai nara sumber. Kasus seperti Ira Kusno pada awal era reformasi, yang membuatnya ’lengser’ dari layar SCTV, adalah contohnya. Belakangan Rosiana Silalahi juga memiliki ”kegigihan” bertanya yang kadang-kadang menjengkelkan narasumbernya, bahkan pemirsanya. Pemirsa menginginkan kejelasan suatu persoalan dari sumber yang dipercaya.Tetapi program didominasi oleh pertanyan-pertanyaan host yang ingin kelihatan cerdas, sehingga lupa bahwa narasumbernya belum mendapat kesempatan menjawab atau menjelaskan.

Kecerdasan host sebetulnya dapat diukur dari seberapa efisien dan efektif pertanyaannya. Pertanyaan terbuka, berupa satu kalimat tanya yang tajam, sudah menunjukkan kecerdasan host. Pertanyaan yang seperti uraian latar belakang, rumusan permasalahan, ditambah analisis dan opini sang host sendiri, sangat tidak efisien (ingat: waktu tayang sangat berharga!), dan belum tentu efektif. Pertanyaan yang bertele-tele dapat menjengkelkan yang ditanyai dan yang mendengarkan perbincangan. Ujung-ujungnya pemirsa akan swtiching the channel, pencet tombol remore control, ganti saluran.

Bila kita saksikan Larry King atau Oprah Winfrey, kita lihat betapa efektif pertanyaan-pertanyaan mereka. Singkat, fokus, to the point, tidak kelihatan sok pintar. Bahkan veteran host seperti Mike Wallace (yang muncul sebagai dirinya sendiri dalam film The Insider bersama Al Pacino dan Russel Crowe) , masih mempertahankan reputasinya dengan bertanya efektif. Mike Wallace, pada usianya yang kira-kira 80 tahunan, sebulan lalu turun lagi ke lapangan, mewawancarai Presiden Iran Ahmadinejad. Dia bertanya sedikit, dan membiarkan Ahmadinejad bicara banyak. Tujuannya, agar rakyat Amerika lebih mengenal Ahmadinejad dan menangkap pesannya dengan lebih jelas.

Itulah peran dan tanggungjawab host televisi: membawa narasumber ke hadapan pemirsa. Biarkan mereka berbicara. Bertanya seperlunya. Host yang bertanya sambil menyerang, memutuskan sendiri jawabannya, membentak-bentak (seperti Nacy Grace), tidak menyelesaikan persoalan, malah menambah persoalan baru. Untuk host-host semacam ini, di program TV manca negara atau Indonesia, sebaiknya kita switch channel saja. Hidup sudah cukup sulit, kita tak perlu menambah kesulitan dengan dibuat jengkel oleh host yang sok pintar dan menghakimi. Kita mesti pandai memilih progam talk show dan host yang meningkatkan wawasan kita, bukan membuat kita merasa bodoh.

23 September 2006

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s