Wartawan AS Bisa Dipenjara Karena Beritanya

Sirikit Syah

Di Amerika Serikat saat ini terjadi perdebatan yang sangat runcing mengenai apakah wartawan patut dihukum karena menolak permintaan pengadilan membuka identitas narasumbernya. Perdebatan ini memang tidak pernah selesai. Keliru besar ketika para tokoh pers di Indonesia secara membabi-buta berkampanye tentang kebebasan pers dengan merujuk pada praktik di AS. Shield Law atau hukum perlindungan saksi itu baru dalam taraf diperjuangkan di tingkat federal, meskipun di beberapa negara bagian sudah diterapkan.

Kasus terhangat adalah penolakan Mahkamah Agung atas permintaan pembatalan hukuman 18 penjara bagi dua wartawan AS karena menolak membuka identitas narasumbernya. Judith Miller adalah wartawan top the New York Times, bintang Perang Irak. Reputasinya merosot sejak 2004 ketika semakin banyak orang sadar bahwa Perang Irak is useless. Miller bahkan dijuluki provokator, corong pemerintah, dan seterusnya. Terakhir, Miller yang sangat pro pemerintahan Bush malah dikhianati oleh pemerintah. Dia diseret ke pengadilan dengan tuntutan untuk membuka narasumbernya, yang membocorkan identitas agen CIA. Agen CIA itu, Valerie Plame, adalah istri Dubes AS di Afrika Selatan, Joseph Wilson, yang mengkritik kebijakan Bush dalam Perang Irak.

Bersama Judith Miller, Mathew Cooper, wartawan majalah Time, juga dituntut penjara 18 bulan. Yang menimbulkan kontroversi, manajemen majalah Time merelakan catatan Mathew Cooper disita oleh pengadilan, yang berarti kemungkinan terbukanya identitas sumber berita. Time memilih melakukan itu dengan dalih “Pers tidak berada di atas hukum. Sebagaimana warga negara AS yang lain, kami harus patuh pada pengadilan.”

Tentu saja Time dikecam oleh kalangan pers sendiri dan kalangan aktivis pro Amandemen Pertama. Mungkin ada interpertasi yang berbeda pada bunyi Amandemen Pertama. Amandemen yang ditasbihkan menjadi “ayat sakti kebebasan pers” itu sesungguhnya berbunyi: “Conggress shall not make any law regarding the press ….” Dan selama beratus tahun, AS memang tidak memiliki UU atau peraturan apapun yang mengatur pers. Namun, sebagian ahli mengatakan, itu tidak berarti the press is untouchable by the law, bukan? Bila pers melanggar hukum sebagaimana umumnya, pers mesti dihukum dengan hukum yang berlaku umum.

Tidak sedikit media massa di AS yang mesti membayar ganti rugi jutaan dollar untuk kasus-kasus pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi. Beberapa kasus juga membuktikan wartawan bisa dipenjara, namun yang paling terkenal saat ini memang kasus Judith Miller dan Mathew Cooper, karena berkaitan dengan Perang Irak dan pemerintahan Bush.

Keluhan kalangan pers di Indonesia mengenai tidak digunakannya UU Pers dalam perkara-perkara pencemaran nama baik, hanya bisa dijawab bila UU Pers disempurnakan. Saat ini UU Pers tidak memuat pasal-pasal delik pers (pencemaran nama baik, penghinaan, provokasi, penyebaran kebencian, pornografi, hasutan, dll) seperti yang tercantum dalam KUHP. Padahal hal-hal itu terus terjadi di media massa.

Di AS, dalam hal penyebutan identitas nara sumber, pers memiliki pilihan: membuka identitasnya, menyelamatkan diri dari hukuman, kehilangan kepercayaan masyarakat; atau tetap menyembunyikan, siap dihukum/dipenjara, dianggap pahlawan oleh masyarakat. Di Indonesia, pers menterjemahkan Pasal Hak Tolak dalam UU Pers sebagai “tidak perlu membuka identitas sumber” dan “tidak mau dihukum”. Pers Indonesia mau semuanya.

Dalam hal ini, kemudian, siapa yang melindungi masyarakat dari sumber-sumber yang tak bertanggungjawab, yang mudah melempar fitnah dan menyebabkan pencemaran nama baik? Saya kira, ini Pekerjaan Rumah bagi para pemikir pers dan hukum media massa.

2006

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s