Jurnalisme Copy Paste, Kering Tak Berjiwa

Kemajuan teknologi di dunia media massa dapat memudahkan pekerjaan. Kejadian nun jauh di sana dapat disaksikan pada hari, bahkan jam yang sama. Manfaatnya bagi publik luar biasa. Namun ada kalanya kemajuan teknologi membuat informasi menjadi abundant, berlebihan, sehingga mengurangi nilai/kadar kualitas informasi. Di banyak ruang redaksi, kesulitan para redaktur tak lagi kekeringan atau kekurangan bahan, melainkan kelebihan. Bagi konsumen media, banjir informasi tak lagi mencerahkan, melainkan membingungkan, bahkan menyesatkan.

Salah satu kemudahan dalam penggunaan komputer menyebabkan tumbuhnya -belakangan ini- jurnalisme ”copy paste”. Berita copy paste biasanya mengambil dari kantor-kantor berita dalam dan luar negeri, atau dari media online (dotcom), untuk digunakan di media cetak surat kabar maupun majalah. Tanpa menyebutkan sumbernya, perilaku ini sama saja dengan plagiat. Dalam kode etik PWI, AJI, maupun KEJ versi Dewan Pers yang ditandatangani 29 organisasi wartawan, jelas-jelas adanya larangan plagiarism atau penjiplakan. Namun wartawan masa kini tetap saja mengcopy-paste, kadang-kadang tanpa ijin, namun tak jarang pula atas seijin pemilik berita aslinya.

Pada awal tahun 2004, LKM-Media Watch menemukan dua berita yang sama persis, judul, lead, titik koma, bahkan kesalahan ejaan dari nama narasumber. Yang satu koran pagi, satunya koran sore. Setelah diselidiki, memang ini produk copy-paste tingkat tinggi, bahkan tergolong kloning. Seorang wartawan mengetik berita di sebuah newsroom gedung DPR, mengejar deadline koran sore. Usai mengirim lewat internet, dia mempersilakan kawannya yang antre menggunakan komputer, mengcopy tulisannya. ”Tidak apa-apa, berita dia kan terbit besok, beda kota pula,” demikian alasan wartawan yang baik hati tadi.

Apa hendak dikata, wartawan kedua begitu ’gebleg’nya, tidak sekadar menjiplak sebagian, lalu mengubah judul atau lead, atau mengurangi atau menambahi dengan kalimat atau kosa kata sendiri. Yang dia lakukan cuma mengubah kode nama wartawan di bagian akhir berita, lalu mengirimkannya lewat internet, komplet dengan pilihan judul dan kesalahan ejaan yang sama.

Mengapa ada wartawan yang demikian baik hati mengijinkan laporannya dicuri? Karena mereka saling membutuhkan. Bagi konsumen, pelanggan yang membayar, betapa ruginya. Berlangganan dua koran, isinya sama persis. Padahal tujuan berlangganan dua koran adalah untuk membaca perspektif yang berbeda.

Persoalan lain selain copy paste di antara kawan sendiri adalah dengan kantor berita atau media online (dotcom). Tindakan ini tergolong curang. Perusahaan media tak mau membayar langganan kantor berita, namun sesuka hati mencuplik informasinya, dan diramu seolah-olah buatannya sendiri. Padahal wartawannya tidak pernah berada di tempat kejadian.

Perilaku di atas selain merugikan perusahaan kantor berita, juga sebetulnya riskan bagi si penjiplak. Tahun 2000-an sebuah koran besar di Jawa Timur memuat berita menghebohkan tentang tokoh politik, yang ternyata keliru. Ketika wartawan diinterogasi oleh atasannya (redaktur), dia mengaku menjiplak berita di koran kecil Jakarta, tentu saja tanpa permisi, seolah-olah itu hasil murni liputannya sendiri. Yang dia tidak tahu, koran kecil tidak terkenal itu telah meralat beritanya. Ini luput dari perhatian si penjiplak. Al hasil, tokoh yang merasa dirugikan menuntut koran besar Jatim ini. Kesalahan media ini bertumpuk: keliru memberitakan, beritanya dapat dari menjiplak, tidak menyebut sumbernya pula.

Koran yang sama juga pernah mengutip majalah mingguan berita, dan salah. Menurut catatan LKM, kesalahannya bertumpuk pula: a) koran harian mengutip majalah mingguan adalah tindakan terbalik karena harian jelas lebih updated daripada majalah, b) tak hanya mengutip berita yang salah, si pengutip bahkan menambahi dengan foto, yang tentu saja salah, c) yang dikutip sudah meralat, yang mengutip tidak tahu sehingga tidak ikut meralat.

Dalam kasus seperti di atas, dimana obyek pemberitaan kemudian merasa dicemarkan nama baiknya, yang terkena dampak hukum mestinya semua media yang menyebarluaskannya, yang dikutip maupun yang mengutip. Namun bila yang mengutip –karena curang- tidak menyebutkan sumber awalnya, maka sumber kekeliruan bisa saja lolos dari tuntutan hukum. Pengalaman detikcom dapat menjadi pelajaran.

Budiono Darsono sang pencipta detikcom, dalam sebuah perbincangan dengan penulis, mengungkap bahwa pihaknya kerap disangkutpautkan dalam tuntutan pencemaran nama baik. Biasanya yang dituntut media cetak yang mengutipnya, namun karena media tersebut tidak menyebutkan sumber dari detikcom, detikcom akan lolos dari tuntutan. Selain itu, karakter dotcom yang beritanya berubah dalam siklus menit dan detik, seringkali menyelamatkannya. ”Pembelaan kami gampang sekali. Kalau pengutip lalai tidak meralat atau meng-update informasi kami, mereka akan kena jerat. Kami memaparkan bukti-bukti bahwa kami tidak sengaja mencemarkan nama baik, yaitu dengan menunjukkan berita-berita update-nya, sebagai ralat.” Kesalahan without malice ini menyelematkannya berkali-kali.

”Apalagi”, kata Budiono, ”banyak media menjiplak kami begitu saja. Ya kami biarkan saja. Terserah. Hal-hal seperti ini sudah sulit dibendung. Bagaimanapun kalau ada apa-apa di belakang hari, risiko tanggung sendiri.”

Selain urusan persaingan bisnis antar media, kebiasaan copy paste dan kloning sangat tidak baik bagi perkembangan kualitas dan profesionalisme wartawan. Wartawan yang maunya serba instan, tanpa berpikir, tanpa ikut mengajukan pertanyaan, tanpa merasakan hawa panas di lokasi kebakaran, tanpa merasakan hujan debu di dekat gunung meletus, tanpa basah kaki celananya di wilayah banjir; wartawan semacam ini akan menghasilkan tulisan yang kering, tak berjiwa, bahkan tidak meyakinkan alias kurang terpercaya.

Sirikit Syah
06 Maret 2009

Cat:
Artikel ini dimuat di Rubrik Sorot Media – Majalah Sabili edisi 09 Maret 2009

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s