Malpraktik Siaran Televisi Indonesia

Siaran televisi Indonesia belakangan ini semakin menunjukkan kebebasannya. Bila disebut kebablasan, para pekerja televisi bisa tersinggung. Lihat saja, polisi mengepung dan menyergap teroris, ditayangkan non-stop puluhan jam. Apa dipikir semua pemirsa suka tontonan membosankan itu? Apakah boleh, menyiarkan langsung pekerjaan polisi? Rasanya hanya di Indonesia, polisi menyergap penjahat atau membekuk teroris, didampingi pekerja televisi. Bahkan lightingnya diset-up lebih dulu, begitu juga angle kamera. Di luar negeri, kinerja polisi jarang ditayangkan. Kalau ditayangkan, formatnya documentary, bukan siaran langsung.

Selain keanehan liputan terorisme, ada juga malpraktik yang lain: ghibah meraja lela, dari bangun pagi sampai tidur lagi (malam hari) program infotainment muncul hampir setiap 3-4 jam sekali. Reality show dan sinetron yang menyesatkan dan membodohkan. Talkshow yang mengadu domba. Lihat “Debat TV One”, perdebatan isu penting kok pakai tepuk tangan dan teriakan-teriakan. Lihat juga “Curhat Anjasmara”, “Masihkah Kau Mencintaiku”, dan sebangsanya, dimana naluri dan perilaku terendah manusia digali dan diekspos. Yang terakhir kemarin, saya dikejutkan siaran langsung pengadilan Antasari Ashar. Kok bisa kamera televisi merekam gambar dan suara sebuah proses pengadilan segamblang itu? Di luar negeri, kamera dilarang masuk. Itu sebabnya ada pelukis pengadilan, yang melaporkan proses pengadilan melalui sketsa-sketsa yang dibuatnya. Katanya media Indonesia mengacu media barat yang sudah maju? Tapi yang kita tiru itu sudah mempraktikkan etika liputan dan tayangan, kok kita belum?

Yang paling seru adalah pertarungan merebut simpati pemrisa yang dilakukan oleh TV One dan Metro TV. Ada dua event penting yang bisa dicatat: pemenangan Ketua Umum Golkar dan gempa Sumatra Barat. Pada isu pertama, dua stasiun televisi ini jor-joran mendukung pemiliknya masing-masing, yang bersaing ketat untuk Ketua Umum Golkar. Alhasil, siaran mereka dipenuhi berbagai propaganda, terselubung (Kick Andy) maupun terang-terangan (Surya Paloh klaim dukungan). Propaganda yang mereka lakukan vulgar dan cenderung memuakkan. Tidak layak tonton lagi. Sangat banal. Apalagi, rakyat tak ada urusan dengan siapa yang akan menjadi Ketua Golkar. Itu kan urusan 400-an pengurus Partai Golkar saja. Sama sekali tak ada signifikansinya dengan rakyat. Karena remote control di tangan kita, kita switch ke channel lain yang lebih netral. Inilah yang kurang disadari kedua pemilik televisi itu: ulah mereka membuat mereka ditinggalkan pemirsanya. Mungkin saking mabuknya mereka.

Isu kedua adalah gempa di Sumatra Barat. Betapa konyol dan kekanak-kanakan, ketika reporter dari dua televisi itu on camera dan meng-klaim “Kamilah televisi yang pertamakali tiba di wilayah ini”. What’s the point? Apa pentingnya? Bagi pemirsa, sangat tidak penting persoalan mereka datang lebih awal atau kemudian. Itu hanya ekspresi ego dan ambisi sang pengelola/pemilik siaran. Bagi pemirsa, berita yang valid dan kredibel lebih penting.

Stasiun televisi juga berlomba-lomba mengumumkan perolehan dana sumbangan. Makin banyak memperoleh sumbangan pemirsa, merasa paling top. Stasiun televisi lupa bahwa ada aturan di P3-SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran), bahwa untuk tragedi/bencana alam, tak hanya perolehan dana yang mesti dipublikasikan. Lebih penting dari itu adalah: kemana dan bagaimana dana itu disalurkan/dipertanggungjawabkan?

Betapa enaknya kalau berhasil mengumpulkan milyaran uang pemirsa, menyombongkannya pula demi kepentingan gengsi televisi; namun mereka tak pernah mempublikasikan/mengekspos penggunaannya. Kasus Tsunami Aceh 2004-2005 bisa terulang: banyak media menghimpun dana, hampir semua lupa melaporkan pada publik. Sampai ada rumor, dana digunakan untuk membangun stasiun relay, atau menyewa helikopter, atau membiayai liputan lapangan. Hal yang tak dapat dibenarkan. Saat ini kita menunggu laporan: bagaimana dana yang dihimpun itu dipertanggungjawabkan.

Dalam diskusi akhir bulan lalu di Hotel Sultan Jakarta, yang diselenggarakan oleh Indonesia Media Watch (afiliasi dengan LKM-Media Watch), para pembicara menyoroti malpraktik televisi ini. Akademisi (Ade Armando) dan Aktivis LSM (Agus Sudibyo) misalnya, menyatakan bahwa dua stasiun ini jelas-jelas telah melanggar hukum, melanggar undang-undang penyiaran. Mereka bersiaran dengan menggunakan ranah publik yang tidak dibeli dan tidak disewa. Mereka adalah segelintir orang yang beruntung mendapatkan ranah yang jumlahnya terbatas dan pemohonnya banyak. Seharusnya mereka memanfaatkannya untuk kemaslahatan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi/golongan.

Ini tentu berbeda dengan koran. Koran perjuangan, koran partisan, itu tidak menyalahi aturan manapun, karena koran menggunakan kertas milik sendiri. Kalau konsumen tidak suka arah beritanya, mereka tak akan membeli. Pengusaha akan bangkrut dengan sendirinya.

Karena aturannya sudah jelas, di UU Penyiaran No 32/2002 dan P3-SPS yang mengikutinya, mestinya sanksi dapat segera ditegakkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia. Stasiun televisi yang menyiarkan program demi kepentingannya sendiri, mestinya disemprit. Kalau bandel, lisensinya dibekukan atau dicabut. Masih banyak yang antri pinjam kanal siaran. Mereka juga perlu diberi kesempatan.

Saya sendiri sebagai konsumen media sebenarnya tidak keberatan dengan siaran politik di televisi. Semakin bervariasi juga semakin baik, tidak seragam seperti jaman Orba dulu. Dengan siaran politik yang berbeda-beda, pemirsa mendapatkan pembelajaran politik, fungsi pendidikan berjalan. Ini sebuah selingan positif dari gerojogan sinetron, reality show dan musik yang mendominasi siaran televisi. Ini jelas lebih bermanfaat daripada “Termehek-mehek” atau “Bukan Empat Mata”. Siaran politik akan mempengaruhi sikap kita sebagai warga negara. Hanya, stasiun televisi mesti lebih memperhatikan porsi dan keseimbangan. Jangan berlebihan dan jangan gunakan untuk kepentingan ego dan ambisi pribadi para pemilik.

Sirikit Syah, 2008

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s