Penyesatan Melalui Film

Belakangan ini ada beberapa film dan sinetron yang menjadi topik bahasan di kalangan para penggemar dan pengamat perfilman. Yang pertama adalah sinetron berjudul Hareem yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi nasional. Yang kedua adalah film Perempuan Berkalung Sorban (PBS); dan yang ketiga adalah film Defiance yang dibintangi Daniel ‘James Bond’ Craig.

Mula-mula saya mendapat masukan bahwa film PBS lumayan bagus dari segi penggarapannya, lebih serius dibanding mayoritas film Indonesia yang terkesan asal jadi. Ceritanya agak berbau feminis, meskipun dibalut nilai-nilai keislaman. Rekan yang pernah menonton bersama saya film berjudul Mengaku Rasul ini juga menyetarakan dua film ini sebagai “sama kualitasnya”. (Catatan: saya agak heran bahwa film bagus Mengaku Rasul yang dibintangi Ray Sahetapy tidak tahan lama di bioskop).

Namun belakangan, banyak sekali keluhan dan protes terhadap film PBS. Ini salah satunya: “Film ini banyak adegan joroknya: suara-suara mendesah dan merintih, adegan ciuman penuh nafsu, adegan perempuan bertelanjang dada walaupun telungkup, adegan suami istri di ranjang dan di kamar mandi.” Film dengan setting di pesantren ini, menampilkan para perempuan berjilbab dan laki-laki berpeci hitam dari awal sampai akhir. “Namun film ini telah menyakitiku, karena merusak nama baik agamaku. Kalau mau bikin film bertema kebebasan, mengapa mesti dalam selubung agama islam?”

Ada lagi yang begini keluhannya: “Saya menemukan banyak kecerobohan dan kejanggalan, disengaja maupun tidak, akibat ketidakmengertian tentang Islam. Ajaran Islam menjadi rusak karena perilaku yang ditunjukkan oleh umatnya. Di sini digambarkan bahwa Islam itu tidak adil, Islam mendiskreditkan wanita, Islam itu kasar, kejam.” Lalu, seorang penonton lain menambahkan: “Hanung (sutradara) terlalu vulgar, kasar, dan emosional dalam mengemas film Perempuan Berkalung Sorban ini.”

Sinetron Hareem juga mengalami reaksi sejenis. Film yang mengisahkan kehidupan rumah tangga poligami ini mulai dikecam oleh banyak umat Islam, tak terkecuali kaum perempuan. Di sinetron ini digambarkan praktik poligami yang justru tidak islami: suami yang lemah dan kurang bijaksana, istri-istri yang iri dan dengki, kekerasan dalam rumah tangga, dll. Potret semacam ini dapat menyesatkan pandangan publik. Umat Islam pelaku poligami akan mendapatkan justifikasi bila menerapkan poligami secara serampangan. Umat non-Muslim akan tersesatkan pengetahuannya tentang praktik poligami yang syarat-syaratnya tidak mudah itu.

Dua film dan sinetron tersebut di atas bisa dianggap sebagai upaya mengkritik perilaku sejumlah “oknum” umat Islam yang salah menginterpretasi dan menerapkan syariat Islam. Namun dampaknya, yang terjadi adalah dekonstruksi ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya tentang kewajiban menutup aurat/berjilbab, pergaulan lelaki-perempuan, hak dan kedudukan kaum perempuan, dan poligami. Tokoh dalam film PBS mempertanyakan kewajiban perempuan menutup tubuhnya “seperti guling” dan menganggap hubungan dengan lelaki bukan muhrimnya sebagai “cinta sejati”. Di sinetron Hareem, para istri tak memiliki keikhlasan tulus, hanya pura-pura, kemudian melampiaskan kedengkiannya dalam tindakan sehari-hari.

Dekonstruksi bisa jadi juga terjadi dalam film barat berjudul Defiance yang mengisahkan penderitaan dan perjuangan kaum Yahudi dikejar-kejar tentara Nazi Jerman di tengah hutan pedalaman Eropah di tahun 1940an. Mungkin saja memang terjadi fakta itu. Seperti promosi filmnya ‘True story that never been told”, ini sebuah kisah yang tak pernah diekspose di media massa atau di buku sejarah. Persoalannya, film yang memotret kaum Yahudi sebagai victims (korban) ini direlease (muncul) ada saat kaum Yahudi Zionist melakukan tindakan tak berperikemanusiaan pada bangsa Arab di Palestina. Pertanyaannya: mengapa sekarang? Patut diduga, ini untuk mengalihkan perhatian masyarakat dunia dari kebiadaban Israel, ke memori atas penderitaan kaum Yahudi.

Dua fakta ini, fakta sekarang dan fakta sejarah, menjadikan kisah David and Goliath berganti-ganti peran. Siapa David, siapa Goliath? Seperti tercantum di Kitab Suci, David adalah Sang Yahudi, yang melawan Goliath hanya dengan ketapel. Begitu juga dalam sejarah seperti dikisahkan di film Defiance, pengungsi Yahudi adalah sang David yang melawan untuk bertahan hidup. Namun kini, di depan mata kita, siapa yang melempar batu dengan ketapel? Siapa Goliath dengan pasukan tank dan pesawat tempur di udara? Peran telah berganti.

Boleh jadi film Defiance memiliki agenda setting untuk meraih simpati dunia atas penderitaan umat Yahudi, agar kita paham kebutuhan mereka akan sebuah negara. Namun atas kehendak Tuhan, tujuan menyesatkan itu dapat berbalik menjadi boomerang: masyarakat dunia membandingkan peristiwa sejarah dalam film dan kenyataan di depan mata. Mereka akan menuding kaum Zionist Israel: ”Jadi, Anda kemudian memperlakukan bangsa Arab, yang tanahnya Anda rebut ini, seperti binatang? Seperti pengalaman Anda di hutan pedalaman Eropah diburu seperti binatang oleh Nazi?” Seharusnya mereka malu.

Ridley Scott pernah membuat film tentang perebutan Jerusalem, berjudul Kingdon of Heavens. Dia berusaha keras untuk netral dengan mengungkap cerita dari semua sudut pandang (kristen, yahudi, islam). Tapi apa boleh buat, entah disadari atau tidak, Scott memihak pada kaum Muslim dan menyentil keserakahan kaum Perang Salib.

Film dan sinetron bisa menjadi media dakwah untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan Islam. Namun bisa juga film dan sinetron digunakan untuk menyesatkan opini atau pengetahuan publik mengenai islam. Lebih menyedihkan, pelakunya kadang-kadang juga kaum Muslim sendiri. Sebaiknya kita betul-betul waspada dan berhati-hati mengkonsumsi media hiburan kita.

Sirikit Syah
5 Februari 2009

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s