Menghadang Gelombang Seks Merdeka

Tadi malam di Galeri DKS, Balai Pemuda, diluncurkan sebuah novel baru berjudul The Road to the Empire karya Sinta Yudisia. Menurut pembedahnya, Rusdi Zaki, karya Sinta ini telah memenuhi semua kaidah novel sastra secara lengkap. Pendek kata, Rusdi mengatakan novel berlatar sejarah Mongol ini patut dibaca. Kisahnya menarik, yaitu tentang perjuangan mencapai tahta, dengan tokoh utama Pangeran Mongol beragama Islam. Menurut Sinta, tokohnya nyata berdasarkan fakta sejarah, demikian juga settingnya berdasarkan data berbagai sumber tentang negara di Asia Utara itu. “Namun dialog-dialognya, alur ceritanya, sepenuhnya fiksi,” imbuhnya.

Mengherankan, Sinta Yudisia yang sudah menulis hampir 40 buku, luput dari perhatian media massa. Karya-karyanya memenangkan lomba penulisan dan beberapa di antaranya mencapai best-seller ketika diterbitkan (Lafadz Cinta, Pink). Inilah yang membuat saya mendorongnya untuk tampil ke permukaan. Sudah waktunya jagad sastra kita diisi karya-karya mendidik, bermanfaat, dan bermutu; setelah lebih dari satu dekade didominasi sastra kebebasan yang dimulai dari kelahiran novel Saman (Ayu Utami).

Sastra yang banyak mengandung elemen seks di Indonesia telah cukup marak pada tahun 60-70an dengan karya-karya Motinggo Busye. Di sela-sela karya Motinggo Busye yang amat populer pada masa itu, terselip karya-karya berorientasi kemelut perkawinan seperti Titis Basino, La Rose, Titi Said. Di sisi yang lain, sastra serius (merujuk istilah yang digunakan Rusdi Zaki sebagai lawan dari sastra pop) terus mempertahankan eksistensinya dengan karya-karya Budi Darma, Romo Mangun Wijaya, Putu Wijaya, NH. Dini.

Sejalan dengan arus kebebasan yang masuk ke Indonesia menjelang runtuhnya Soeharto, periode 90an diakhiri dengan meledaknya karya Ayu Utami berjudul Saman di jagad sastra tanah air. Novel yang mengumbar kebebasan seks (termasuk kebebasan menggunakan kosa kata yang ‘saru’) itu dielu-elukan oleh empu sastra Indonesia seperti Gunawan Muhammad dan Sapardi Djoko Damono. Gaya Ayu Utami kemudian diikuti oleh Djenar Maesa Ayu (Jangan Main-Main dengan Kelaminku), Herliatiens (Garis Tepi Seorang Lesbian), yang amat “permisif” terhadap hal-hal seperti seks bebas dan homoseksualitas. Karya Seno Gumiro Adjidarma dan Dee (Dewi Lestari) juga mendapatkan perhatian, di sela-sela gegap gempita sastra liberal.

Sastrawan Taufik Ismail mengamati, sastra generasi tahun 2000an didominasi oleh Gerakan Syahwat Merdeka (GSM), yang melahirkan karya-karya Fiksi Alat Kelamin (FAK) atau Sastra Madzab Selangkang (SMS). Kecaman Taufik Ismail ini tentu saja menuai kecaman balik. Di mata kalangan sastrawan liberal, madzab Taufik Ismail ini dianggap sok moralis, sudah kuno, dan tidak laku.

Kenyataannya, karya-karya anggota Forum Lingkar Pena, laku keras. Diketuai sastrawan Helvy Tiana Rosa, yang pernah menjadi Ketua Biro Sastra Dewan Kesenian Jakarta, organisasi berbasis dunia maya ini telah merambah ke manca negara dan beranggotakan sekitar 30 ribu orang, penulis aktif maupun pasif, yang beraliran pendidikan, moral, sejarah, dan agama. Salah satu anggota FLP yang amat berhasil adalah Habibur Rachman, penulis novel Ayat-Ayat Cinta.

Sinyalemen bahwa sastra relijius atau setidaknya sastra yang menjunjung moral sebagai kuno dan tidak laku, amat menyesatkan. Karya-karya para penulis dari FLP tidak kalah laris dibanding karya Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu; bahkan ketika para sastrawan beraliran liberal itu mendapatkan dukungan sepenuhnya dari media massa dan organisasi kebudayaan, sementara sastrawan FLP kurang mendapat perhatian. Di tataran pasar buku, saya menengarai, penulis-penulis FLP sama sekali tak perlu berkecil hati.

Mengapa saya merasa perlu mempromosikan karya-karya sastra alternatif semacam karya Sinta Yudisia? Salah satu pendorongnya adalah kondisi gelontoran pornografi pada generasi muda kita, yang sudah nyaris dalam kondisi “tak tertolong”. Saat ini terdapat sekitar 4.200.000 (empat koma dua juta) situs porno dunia dan 100.000 (seratus ribu) situs porno Indonesia, yang dengan mudah dapat diakses di internet. Selain itu, Indonesia kini menjadi sorga pornografi paling murah di dunia, dulu Rp 30.000, sekarang Rp 3.000 sekeping. Data yang disampaikan Taufik Ismail dalam sebuah pidatonya ini menyebutkan jumlah video porno bajakan satu juta keping setahun. Ini artinya setiap 25 detik diproduksi satu keping VCD porno.

Pornografi tentu saja merambah dunia sastra. Banyak penerbit dan pengedar komik cabul bermunculan, dengan sasaran anak-anak sekolah. Dan seperti kata Taufik Ismail, para penulis penulis novel dan cerpen semakin asyik dengan alat kelamin. “Patut ditangisi, kebanyakan dari mereka adalah perempuan, fanatikus narsis dan ekshibisionis, yang rasa malunya sudah terkikis habis.” Menumbuhkan kembali budaya malu, itulah tantangan para orangtua, pendidik, dan sastrawan saat ini, agar generasi muda kita menjadi bangsa yang lebih bermartabat di masa depan.

Kira-kira sebulan yang lalu saya mengikuti Kongres Kebudayaan Indonesia di Bogor, dan salah satu sesinya menampilkan sastrawan Djenar Maesa Ayu bersama Budi Darma, Taufik Ismail, Zawawi Imron, dll (di Sesi Sastra). Banyak peserta kongres dari luar pulau (Makasar, Maluku) yang mengkritik panitia mengapa menghadirkan Maesa Djenar di forum serius itu. “Kalau hendak dicari unsur generasi muda, banyak pengarang muda lain yang lebih berbobot,” kata seorang peserta di forum diskusi. Yang lain membandingkan karya Maesa Djenar dengan karya Habibur Rachman.

Mungkin merasa kesal dibanding-bandingkan, Djenar menjawab: “Bagaimanapun, menurut saya, poligami itu tindakan tidak bermoral.” Pernyataan itu merupakan sindiran pada novel Ayat-Ayat Cinta (Habibur Rachman). Beberapa peserta bereaksi keras, menuntut Djenar mencabut statement itu. Saya kemudian merenung: Apakah sastra yang berkisah tentang kehidupan seks bebas dan homoseksualitas lebih bermoral dibanding kisah poligami? Ini betul-betul absurd. Sebelumnya Djenar mengeluhkan banyaknya polisi moral yang menghakimi karya-karya pengarang seperti dia dan kawan-kawannya. Terjadilah paradoks liberalisme seperti yang saya tulis pekan lalu di kolom ini: Djenar mengecam eksistensi ‘polisi moral’, lalu sesaat kemudian dia menjadi ‘polisi moral’ itu sendiri dengan menyebut poligami sebagai tindakan amoral.

Saya kira, hal-hal seperti inilah yang membuat saya dan kita smua mesti mendorong lahirnya karya-karya sastra baru yang lebih bermanfaat. Menurut istilah Rusdi Zaki “karya sastra yang membuatmu berkontemplasi, mengkonfirmasi, dan mengidentifikasi diri.”

Sirikit Syah
17 Januari 2009

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s