Peristiwa yang tak diberitakan media

Oleh: Rasamala Putri*

Belakangan ini ada gejala media tak lagi memilih informasi penting untuk disajikan pada publik, melainkan memilih informasi yang dianggap menarik. Bila kita melirik sejenak pemberitaan sebulan yang lalu, maka puluhan berita Ponari menghiasi media massa kita. Namun, pada waktu yang sama, kejadian yang menewaskan mahasiswa Indonesia di Singapura lepas dari kawalan media.

Untungnya, beberapa mailing list dan blog pribadi di dunia maya terus membahas dan mengulas kasus tewasnya David ini. Tampak ini bukan pertama kalinya media tidak mengulas secara tuntas kejadian yang seharusnya diketahui oleh publik. Misalnya, pencurian arca di museum Solo yang melibatkan adik Prabowo dan menewaskan seorang staf museum (karena kecelakaan jalan raya), kematian wartawan Udin, dan kasus penculikan mahasiswa 1998.

Media massa memang memiliki kriteria tentang peristiwa layak muat/siar. Namun yang menjadi masalah adalah, kebutuhan publik akan informasi tak selalu sejalan dengan kriteria tersebut. Dampaknya, publik hanya mengkonsumsi berita-berita yang sesungguhnya bukan kebutuhannya. Publik seakan dipaksa untuk menelan apapun yang disuguhkan media.

Di Chili, seseorang menggugat media karena tidak memberitakan (=menutup-nutupi) peristiwa kekejaman yang terjadi pada keluarganya. Kejadian tahun 1975 itu baru dibongkar tahun 2008 lalu. Gugatan itu membuahkan hasil. Asosiasi jurnalis di negara itu meminta maaf pada penggugat dan jurnalis yang ditengarai melakukan ‘pembungkaman’ informasi dihukum.

Beberapa pekan terakhir ini media massa menyediakan banyak ruang bagi pemberitaan (dan iklan) politik. Ini memang informasi penting bagi publik. Namun proporsi iklan, yang adalah propaganda/promosi, sudah mencapai taraf berlebihan (tidak proporsional). Karena ruang dan waktu didominasi iklan politik, berita buatan wartawan kekurangan tempat/waktu. Padahal, berita lebih bisa dipercaya daripada iklan.

Kembali pada kebutuhan dan hak konsumen media untuk mengkonsumsi informasi yang diperlukannya, sudah waktunya pers/media kita kembali pada prinsip pertamanya, yaitu sebagai pelayan publik. Isi media tak boleh hanya sekadar selera pemilik/investor, atau tekanan politik/penguasa. Isi emdia harus sesuatu yang berguna bagi publiknya. Berita kematian David, mahasiswa Indonesia di Singapura, perlu diketahui oleh masyarakat Indonesia agar para mahasiswa dan orangtua mahasiswa waspada.

* Penulis adalah mahasiswi Stikosa AWS, pemagang di LKM-Media Watch

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s