Pers Pastilah Berpihak, dan Itu Tidak Apa-apa

Akhir pekan ini, tak bisa tidak, kita mesti membahas peristiwa serangan Israel ke Gaza dan bagaimana media massa memotretnya. Ini menjadi perdebatan di berbagai komunitas pers dan para pengajar jurnalistik. Konvensi dan paradigma jurnalistik yang lama dianut, diuji.

Secara teori, pers tak boleh berpihak. Cover both sides, balance, adalah istilah-istilah yang mesti dihafal di luar kepala oleh para mahasiswa jurnalistik dan diterapkan oleh para wartawan. Namun di lapangan, situasinya berbeda. Ada kalanya wartawan berada dalam situasi, dimana melakukan cover both sides malah memperuncing konflik (mempetakan konflik ke dalam dua kubu yang berseberangan). Ketika DOM di Aceh, meliput kubu ABRI vs GAM adalah contohnya. Di Timtim tahun 1999, meliput kubu pro-integrasi vs pro-kemerdekaan adalah contoh yang lain. Dalam situasi semacam ini, wartawan mesti melakukan cover many sides, many angles: ada pihak ketiga yang netral dan tak terlibat konflik, pihak berwenang, pengamat, dan terutama: mereka yang terkena dampak konflik.

Dalam konflik Islam-Kristen di Maluku dan Poso, pers seharusnya memihak para pejuang perdamaian, meski jumlahnya sedikit dibanding jumlah penganjur perang. Juga, meski itu hanya suara rakyat kecil, bukan suara tokoh/pemimpin kelompok. Ini tentu saja menyalahi konvensi jurnalistik lama yang mensyaratkan magnitude (berskala besar) atau prominence/elite (hanya para tokoh yang dikutip). Tapi tak apa. Paham saya yang baru, dipengaruhi Jurnalisme Damai, adalah “small thing matters” dan “grass-root pun layak jadi sumber berita, kalau kondisi yang diperbincangkan menyangkut kehidupan mereka”.

Maka, tentang konflik Islam-Kristen di Ambon atau Dayak-Madura di Kalimantan, lebih baik dengarkan dan sebarluaskan suara para penduduk di Ambon dan/atau Kalimantan. Bukan statement komandan Lsjkar Jihad, Pendeta Tibo, atau Alex Manuputy (yang kini kabur ke AS). Tak perlu juga Gus Dur atau Amien Rais.

Media pastilah berpihak, dan itu tak apa-apa. Trend jurnalisme sekarang di Eropah malah one-sided. Bila Anda membaca the Independent, the Guardian, atau mendengarkan BBC, para wartawan sudah meninggalkan konvensi lama itu. Ketika meliput di Palestina atau di Irak, dan melihat tentara Israel atau Amerika menembaki atau menggebugi penduduk setempat, dan korban berjatuhan di depan mata, wartawan tak mungkin menunda pemberitaan sampai tentara Israel/AS bersedia diwawancarai, bukan? Wartawan Jerusalem Post, Larry Derfner, bahkan tak segan-segan menulis: ”Ini gila. Kita menghabiskan banyak waktu memerangi musuh-musuh kita, seolah-olah kita masih dikejar-kejar Nazi atau Firaun.”

Serangan Israel ke wilayah Gaza adalah tindakan brutal karena tak lagi menerapkan aturan perang. Rumah sakit, sekolah, masjid, dan kantor-kantor media dibom. Tentara Israel juga membawa awak televisi untuk memotret kemenangan mereka: wajah-wajah penduduk sipil yang kedinginan di reruntuhan rumah mereka, para korban tewas dan terluka. Seorang Humas Tentara, seorang wanita, memberi statement dengan senyum dan wajah penuh kebanggaan: “Tentara kami telah berhasil mengebom masjid anu dan sekolah anu, menewaskan sekian ratus teroris, melumpuhkan instalasi listrik …. bla bla bla …. .” Bisa membayangkan orang Dayak memberi keterangan pers: “Kami berhasil mengusir ribuan orang Madura dan menewaskan yang tersisa.” Jurnalisme apa ini? Pers yang menayangkan ini atas dasar cover both sides, menurut saya, telah kehilangan hati nuraninya.

Memang sulit menghindari perlunya kutipan wawancara pihak lainnya. Namun media bisa menunjukkan keberpihakannya. Ketika Benjamin Rutland, jubir tentara Israel berkata: ”Target kami adalah siapa saja yang terlibat terorisme, mulai dari institusi militer, institusi politik, sampai penyedia logistik dan SDM,” media bisa mengutipnya sambil menunjukkan gambar korban rakyat sipil yang bergelimpangan. Bahasa gambarnya: inilah target tentara Israel, rakyat sipil.

Penulis buku Ahmadinejad on Palestine, Dina Y. Sulaeman, memuji gaya pemberitaan Kompas, yang jauh berbeda dari gaya pemberitaan sebelumnya. Kompas melengkapi laporannya dengan informasi latar belakang.: ”Penduduk Gaza yang hendak berobat di Israel dipaksa memberikan informasi seputar milisi di Palestina… . Pihak Palestina mengutip laporan itu dan menyatakan bahwa tekanan dimulai setelah kelompok
militan Hamas memperoleh kekuasaan di Jalur Gaza, tahun lalu.” Kompas juga menggunakan kata ”milisi” dan ”militan” untuk para pejuang Hamas, sementara masih ada media di Indonesia yang menyebut pejuang Hamas sebagai ”kelompok garis keras” atau ”pengacau perundingan perdamaian”.

Sikap media juga ditunjukkan dari cara mengakhiri (menyimpulkan) berita. Bila Kompas mengakhiri berita dengan menyebut jumlah korban Palestina yang spektakuler dibanding korban tewas Israel, RCTI secara tidak peka mengakhiri berita dengan ”Israel mengatakan akan bertempur habis-habisan sampai Hamas berhenti memusuhi Israel.”

Serangan Israel ke Gaza tak hanya menarik perhatian para politikus, negarawan, atau pers. Dunia hiburan dan olahraga pun pun tersentuh olehnya. Brian Eno, musikus dan produser musik Inggris menggambarkan kegilaan Israel dengan pernyataannya yang amat menarik. ”Gaza adalah sebuah uji coba provokasi. Taruh 1,5 juta orang di tempat yang sesak, putus akses air, listrik, pangan, dan obat-obatan, hancurkan kehidupan mereka, hinakan mereka setiap hari, dan …… surprise! … mereka menjadi jahat terhadapmu.” Ini sebuah sarkasme yang telak.

Di Australia, tim basket Israel ditimpuki dan disoraki oleh para penonton di lapangan pertandingan sehingga mereka menolak bermain; di Spanyol, pesepakbola kelahiran Perancis asal Mali, Frederick Kanoute, mengenakan kaus bertuliskan ’Palestina’ dalam lima bahasa di lapangan pertandingan, sehingga menuai kartu kuning.

Namun di tengah hiruk pikuk serangan Israel ke Gaza dan bagaimana media meliputnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan berita yang dimuat Surabaya Post Kamis 18/1, hal. 8. Sebuah majalah porno minta hak talangan dana pemerintah (bail out) karena nyaris bangkrut. Karena krisis ekonomi negara, tak banyak lagi orang membeli majalah Husler’s. Larry Flynt, sang penerbit, berargumen: ”Kami layak di’bail-out’, karena kebutuhan akan seks sama pentingnya dengan kebutuhan akan pangan. Rakyat yang tertekan dan tak melakukan aktivitas seks, tidak sehat bagi suatu bangsa.”

Ketika rakyat Palestina tengah memperjuangkan hak hidupnya, di Amerika, industri seks dan pornografi juga menuntut hak hidupnya.

Sirikit Syah
10 Januari 2009

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s