Ponari dalam Perspektif Media

Mau tidak mau, kita terpaksa ‘ngrasani’’ Ponari. Bagaimana tidak, dia baru saja dibawa ke panggung Thukul, yang nama programnya seperti mengejek KPI dan Dewan Pers, yaitu ’Bukan Empat Mata’. Fenomena Ponari yang menggegerkan jagad pengobatan di Indonesia ini patut kita bahas Malam Minggu ini, sambil merenung dan berintrospeksi. Apa yang salah dengan negeri ini? Anak ’kesamber’ petir dan punya ’mainan’ batu dipuja-puja laksana dukun sakti.

Pemberitaan yang dilakukan oleh media atas isu Ponari Sang Dukun Sakti, adalah proses publikasi yang luar biasa bagi masyarakat. Pada bulan Februari saja, terdapat 47 berita tentang Ponari di tiga surat kabar yang terbit di Surabaya. Harian Surya paling intens dalam memberitakan masalah Ponari, yaitu sebanyak 21 berita, enam di antaranya Head Line. Jawa Pos dan Surabaya Post hanya masing-masing 16 dan 10 berita, dan masing-masing hanya punya satu HL tentang Ponari. Apa maknanya ini dari sudut pandang media? Bisa jadi karena Surya lebih suka berita sensasional; tetapi bisa juga Surya lebih peduli pada isu-isu lokal dibanding dua surat kabar lainnya.

Yang agak meresahkan bagi saya adalah gegap gempitanya pemberitaan tanpa keseimbangan informasi tentang jumlah atau liputan atas pasien yang sembuh. Nalar saya mempertanyakan: ”Mengapa ribuan orang berduyun-duyun mendatangi Ponari, padahal nyaris tak ada berita pasien yang sembuh?” ”Mengapa media massa tidak berusaha mencari, menemukan, dan mengekspos pasien sembuh ini, kalau ada?”

Namun, meskipun kecil porsinya, setelah tim riset LKM-MediaWatch melakukan penelitian kecil-kecilan, ditemukan di tiga suratkabar itu adanya informasi kesembuhan pasien. Sebuah informasi muncul di suratkabar Surya, terselip dalam sebuah alinea dalam berita, bahwa seorang pasien sembuh setelah diobati oleh Ponari. Surabaya Post juga mengungkapkan ada dua pasien yang sembuh setelah meminum air yang dicelupi batu Ponari. Kisah dua pasien sembuh ini muncul di dua berita yang berbeda, terselip seperti informasi tidak penting, sekadar pelengkap, yang panjangnya kurang dari satu alinea. Pasien pertama menderita linu-linu pada sendi; dan setelah minum air Ponari tiga kali, dia merasa sembuh. Pasien lainnya menderita sakit hernia, sudah minum air Ponari dua kali, juga merasa sembuh.

Dari informasi kecil ini, seharusnya media mengeksplorasi lebih lanjut ’kisah kesembuhan pasien Ponari’, daripada ’kisah antre ribuan’ dan ’tewas terinjak-injak’. Dengan mengisahkan pasien sembuh, segala kehebohan berita Ponari menjadi make sense, masuk akal. Tanpa kabar kesembuhan, orang dibutakan oleh kepercayaan sugestif, bahkan cenderung syirik.

Bila narasumber yang dipilih sahih, dalam arti berkompeten, berita Ponari bisa saja menjadi pengetahuan yang mencerahkan. Seperti yang diulas oleh harian Surabaya Post saat mengutip seorang dokter yang mengatakan bahwa batu yang memiliki kandungan zat besi, lalu air yang telah dicelupi batu itu diminum oleh penderita kekurangan zat besi, maka pasien tersebut akan sembuh. Namun, bila pasien yang datang berpenyakit kelebihan zat besi, bukan kesembuhan yang diperoleh, melainkan akibat fatal hingga kematian akan dialami oleh pasien tersebut. Sumber Surabaya Post juga mengupas kemungkinan anak menjadi genius bila pernah tersambar petir, karena sentuhan listrik pada otaknya.

Harian Surya dan Jawa Pos juga mengutip beberapa narasumber yang cukup otoritatif, seperti Menteri Kesehatan (yang malah heran mengapa praktik Ponari dilarang); tokoh dari MUI, serta pemerhati anak Seto Mulyadi.

Ketika LKM-MediaWatch bersiaran interaktif di Radio Trijaya FM (acara rutin setiap Senin sore), banyak anggota masyarakat yang mempertanyakan pentingnya pemberitaan Ponari. Kami menjelaskan bahwa dari sudut pandang media massa, isu Ponari amat newsworthy karena memenuhi banyak sekali unsur kelayakan berita, mulai dari magnitude (banyaknya orang berobat), keunikan (petir dan batu ajaib), hingga ke signifikansi (kesehatan selalu signifikan bagi publik). Memang tadinya Ponari adalah no name, alias nobody. Unsur prominence tidak terpenuhi. Namun sekarang, apalagi sejak media televisi ikut-ikutan mengeskpos kisahnya, Ponari adalah tokoh.

Anggota masyarakat konsumen media yang sudah semakin cerdas, khususnya di Surabaya, mempertanyakan: “Bisa jadi keramaian pengobatan Ponari adalah dampak pemberitaan media massa?” Maksudnya, masyarakat yang awalnya tidak mengenal Ponari, menjadi tahu karena media massa. Jadi, magnitude Ponari dulu, atau liputan media dulu? Dan, pihak mana yang paling diuntungkan? Jelas ‘panitia’ Ponari diuntungkan, bahkan nilainya telah dibuka, sekitar Rp 1 milyar terkumpul dari rakyat miskin yang haus pengobatan murah. Sungguh ironis. Media juga diuntungkan, komoditas berita Ponari laku keras.

Apakah ada yang tidak diuntungkan? Saya kira publik secara umum berpotensi disesatkan oleh pemberitaan yang kurang bertanggungjawab. Namun secara khusus, Ponari adalah pihak yang paling mendapatkan dampak negatif. Dia tidak lagi bersekolah, kehilangan masa dan teman bermain, menjadi solitair, cenderung self-centered, kehilangan kebebasan kanak-kanaknya, dan jelas psikologi pertumbuhannya terganggu. Ponari sedang menjelang masa puber, masa usia yang sangat rawan dan riskan dari pengaruh lingkungan yang membentuknya. Saya kuatir dia akan terbentuk menjadi manusia yang merasa diri hebat, sombong, dan materialistis.

Seorang bernama Tony dari Balungpanggang mengatakan, ini semua cuma politik redaksi, kompetisi media, dengan obyek Ponari. Seorang bernama Soleh, sebaliknya, malah mendukung berita Ponari. Dia mengusulkan Ponari punya tim sukses atau PR yang hebat. Max, pendengar Trijaya yang lain, berkomentar agak sinis: “Sebetulnya masyarakatlah yang salah karena telah mempercayai Ponari, kitalah yang menjerumuskan Ponari.”

Sirikit Syah
Surabaya, 06 Maret 2009

Cat:
Artikel dimuat di Kolom Malem Minggon – Harian Sore Surabaya Post, edisi 07 Maret 2009

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s