Wajah media dunia, wajah Murdoch?

Akhirnya Rupert Murdoch berhasil mengambil alih perusahaan Dow Jones & Co, beserta The Wall Street Journal-nya, dengan harga US$5 milyar. Setelah bernegosiasi berbulan-bulan, menghadapi kecaman dan prasangka publik, Murdoch mendapatkan apa yang dia inginkan. Keluarga Bancroft, yang telah memegang kendali Dow Jones sejak 1902, sulit menolak tawaran sebagus itu, dalam keadaan perusahaan terus merosot secara finansial.

Ini sebuah gebrakan penting bagi Murdoch. Dikenal sebagai konglomerat media yang dipenuhi bias dan dibalut kepentingan/agenda politik, kesuksesan Murdoch dikagumi namun dia tak mendapatkan respek sepatutnya sebagai tokoh media, sebagaimana setidaknya Ted Turner –sesama konglomerat media- pernah mendapatkannya. Dengan memegang The Wall Street Journal, pamor Murdoch sebagai ‘orang media’ akan naik, selain mulusnya berbagai agenda politiknya yang lain.

Masuknya Murdoch ke Amerika Serikat pada awal tahun 90-an memang untuk memecahkan dominasi CNN sebagai saluran televisi berita 24 jam satu-satunya di AS. Tidak mudah bagi Murdoch masuk kancah bisnis media di AS, yang melarang orang asing memiliki bisnis media di sana. Tak kehilangan akal, Murdochpun melamar menjadi warga Negara AS. Fox News TV kemudian hadir di ruang-ruang keluarga AS sebagai alternative CNN. Sekarang, Murdoch berencana mengembangkannya suratkabar perstisius itu dengan membangun saluran berita khusus bisnis dan finansial 24 jam. Ini melanjutkan tradisi The Wall Street Journal di bidangnya, sekaligus menyaingi CNBC yang selama ini menjadi pemain tunggal di bidang berita bisnis & keuangan 24 jam.

Bagaimanapun, Murdoch dengan News Corpsnya, dikenal cukup kontroversial. Salah satu program talk show-nya, Talking Points, dipandu oleh seorang provokator Bill O’Reilly, yang kerap menjengkelkan tamu dan pemirsanya. Namun, Fox juga memiliki program-program popular seperti 24, The Simpsons, dan American Idol, yang diadopsi di banyak negara termasuk Indonesia. AI –menurut ukuran program televisi- adalah program paling sukses karena untuk memasang iklan di acara ini, orang bersedia membayar Rp 5,5 milyar untuk setiap 30 detik spot iklan.

Bagaimana wajah media dunia setelah ini? Di Australia hanya ada dua kelompok media besar, yang dikuasai oleh nama-nama Murdoch dan Packers (Murdoch mengawali kerajaan bisnis medianya dari Australia, tanah kelahirannya). Di Indonesia hanya ada 4-5 orang yang menguasai media, namun itu lebih baik daripada di negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, dimana media dikuasai oleh pemerintah atau pejabat pemerintah sebagai pribadi (Thaksin di Thailand). Di Amerika Serikat, media juga telah terkelompokkan menjadi kelompok General Electric, Time-Warner, NewsCorps, Viacom.

Murdoch sendiri menguasai semua lini media: suratkabar, majalah, film/hiburan, internet (MySpace); dan merambah 4 benua dengan satellite-nya: Sky News dan Sky Sports di Inggris, Sky Italia di Italia, Star TV di Asia (Hong Kong, India, Singapura). Murdoch bahkan memiliki majalah dan saluran National Geographic. Penerbitan bukunya, HarperCollins, berhasil menempatkan 100 bukunya ke catatan best sellers The New York Times cuma dalam tahun 2005, 15 di antaranya menduduki peringkat pertama.

Dan Rather, tokoh media AS, pada wawancara dengan Bill Moyers di PBS belum lama ini mengatakan, “Media telah menjadi begitu homogen, karena sistem kepemilikan membuatnya demikian. Tak ada lagi persaingan. Wartawan tak berani melaporkan hal-hal yang berbeda.” Dalam kata lain, berita menjadi seragam, karena mereka semua terikat dalam kelompok yang sama. Tak ada lagi semangat bersaing, tak ada efforts. Perusahaan media memang berkembang pesat, tapi jurnalisme sedang sekarat.

Bila kita ingat tokoh antagonis di film Tomorrow Never Dies (James Bond), seorang ambisius ICT yang ingin menguasai dunia, sosok itu diilhami oleh Rupert Murdoch. Pengarang/seniman selalu mendahului jamannya. Film itu dibuat tahun 90-an, dan sekarang Murdoch betul-betul telah menjadi penguasa media dunia.

Bagaimana wajah media dunia setelah ini? Seragam? Terarah? Arah kemana? Mudah-mudahan kita semua sadar akan dampaknya. Kemana opini kita –audience- hendak diarahkan, kita sebaiknya waspada.

Sirikit Syah (penulis adalah pengamat media dan jurnalisme)
Agustus 2007

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s