Pasukan Berani Mati di Mata Media

“Kenangan Era Gus Dur”

Wacana kekerasan tak pernah lepas dalam konstruksi berita, bahkan dapat dikatakan telah menjadi hegemoni media massa. Berbagai permasalahan di kaji dalam wacana kekerasan, dan telah membentuk steroptip dalam masyarakat. Termaksuk dalam hal ini perilaku pers dalam konstruksi fenomena Pasukan Berani Mati.

•••••••••••••••••••••••

ADANYA isu dijatuhkannya Memorandum oleh DPR mendapat reaksi keras masyarakat, terutama para pendukung Gus Dur. Akibatnya, beberapa ulama membentuk Front Pembela sebagai Pasukan Berani Mati. Kelompok ini dibentuk untuk mendukung kepimpinan Presiden Abdurrahman Wahid dan melindunginya dari usaha orang-orang yang ingin menjatuhkannya. Mereka berasal dari kota-kota Jawa Timur seperti Banyu Wangi, Jember, Malang dan Surabaya. Sebagai kelompok pembela Gus Dur mereka dilatih ala militer, dan dibekali kemampuan “khusus” untuk menghadapi para musuh Gus Dur.

Yang menjadi fokus kajian kali ini adalah bagaimana pers memotret keberadaan Pasukan Berani Mati yang sebenrnya adalah Front Pembela Kebenaran.

Dari hasil penelitian MediaWatch terhadap empat media yaitu Jawa Pos, Surabaya Post, Kompas, dan Surya atas judul, foto, grafis, diksi dan posisi berita, tampak media massa cendrung mengkonstruksikan Pasuka Berani Mati sebagai sosok yang menakutkan, garang, dan memiliki kekuatan yang luar biasa.

Pers cendrung menulis berita yang sifatnya provokatif, dengan menggabarkan Pasukan Berani Mati sebagai sebuah pasukan yang memang dibentuk untuk melawan siapa pun yang berusaha menjatuhkan Gus Dur.

Dari hasil pantauan MediaWatch terhadap empat media tersebut dalam kuru waktu 2-30 April 2001, Jawa Pos paling banyak menulis tentang PBM, yaitu 28 judul , disusul Surya dengan 23 judul , Kompas dengan 22 judul, dan Surabaya Post dengan 11 judul. Tingkat provokasi dari judul tertinggi diraih oleh harian Surya , yaitu 70% (16 judul). Jawa Pos menyusul dengan 46% (13 judul), lalu SurabayaPost dengan 45 % (5 judul) dan Kompas di urutan terendah tingkat provokasinya dengan 23% (5 judul dari 22)

Penelitian juga dilakukan di atas grafis/foto, dengan menggunakan dua variabel tanda yaitu sintagma dan paradigma. Ke dua variabel a ini merupakan cabang semiotik dengan menggunakan ikon-ikon gambar untuk menjelaskan makna sebuah gambar.
Dalam sebuah gambar terdapat elemen-elemen gambar yang membentuk makna secara keseluruhan.

Dari hasil penelitian terhadap grafis/foto, Syrya menduduki tempat pertama surat kabar yang paling provokatif 72% (13 dari 18 foto yang di muat ) mengandung unsur provokasi . Tempat kedua di duduki Syrabaya Post 67% (2 dari 3 foto), Jawa Pos 45% (10 dari 22 foto/grafis ), sedangkan Kompas lagi-lagi memiliki persentase terkecil 18% (2 dari 17 foto/grafis).

SURYA
Kekerasan simbolik dalam Surya terlihat jelaas dalam grafis yang di muat mulai edisi 20-30 April 2001. Surya menampilkan suasana mencekang dalam tanggal terbit dengan ikon bom siap meledak pada tanggal 30 April. Inilah saat MPR bersidang untuk memutuskan turunnya memorandum II terhadap Gus Dur. Grafis (gambar Bom) ini menggambarkan seolah-olah pada tanggal 30 April akan terjadi kekerasan fisik dan bukan lagi kekerasan simbolik.

Dibandingkan media yang lain, Surya lebih berani menampilkan sosok “Pasukan Berani Mati”. Padahal awal pemberitaanya, Surya menyebutkan kelompok Front Pembela Kebenaran (FPK), sesuai nama sebenarnya. Kemudian pada edisi 5 April 2001, pada berita berjudul “Gus Dur tak setuju “Pasukan Berani Mati” baru disebut nama pasukan berani mati , namun masih dalam tanda kutip. Kemudian pemberitaan selanjutnya, tanda kutip terrsebut dihilangkan.

Ini menandakan Surya secara tidak langsung melakukan labeling, karena sebenarnya nama kelompok pendukung Gus Dur adalah Front Pembela Kebenaran bukan pasukan Berani Mati. Dalam membuat judul, Surya terkesan Provokatif , di antaranya menggambarkan PBM sebagai kelompok yag siap melakukan teror dan bersikap militeristik. Bahkan Surya memberitakan rencana PBM yang akan melakukan target pembunuhan terhadap 40 anggota DPR yang selalu bersuara keras terhadap Gus Dur. Isu tersebut telah menimbulkan keresahan masyarakat, khususnya anggota DPR. Sebagian dari mereka bersiap menghadapi teror tersebut dengan mempersenjatai diri dengan pistol. Beberapa rumah anggota DPR juga dijaga polisi.

Dalam pilihan diksi, Surya terkesan provokatif dengan adanya sub judul “Deg-degan jelang sidang 30 April” , yang bermaksud menggambarkan (menafsirkan?) kekuatiran masyarakat terhadap PBM yang akan datang ke Jakarta. Beberapa diksi lain yang bersifat provokatif antara lain kata “teror” , ‘Pasukan Berani Mati’ , ‘Pasukan Siluman’, ‘ketar-ketir.

Surya juga provokatif keika menampilkan foto PBM yang sedang berlatih. Disitu PBM dikesankan militeristik dengan pakaian mirip tentara dan muka yang dicoreng warna hitam. Disamping itu, unjuk kekuatan juga ditampilkan dengan gambar anggota PBM yang sedang di lindaas mobil, memegang petasan besaryang hendak/sedang meledak dan seterusnya. Gambar tersebut menggabarkan begitu kuat dan menyeramkannya PBM yang akan datang ke Jakarta.

KOMPAS Sebagai media yang mempunyai moto “kata hati, mata hati”, dalam pemberitaan tentang PBM, Kompas tidak terlalu menempatkan PBM di halaman satu atau sebagai headline. Dari 22 judul beita, Kompas menempatkann hanya 8 judul di halaman 1, jumlah yang sama di halaman 17. Berita profokatif muncul lebih banyak pada halaman berita tentang situasi Jakarta, yang tampak demikian mencengkam dijelajahi pemberitaan-pemberitaan menyangkut memorandum II.

Berbeda dengan media yang lain, Kompas lebih banyak menyoroti PBM dari sisi kemanusiaan, dan dalam pemberitaannya cendrung lebih cover both sides. Hhhal ini terlihat dari banyaknya narrrasumber dalam satu judul pemberitaan.

Saat media lain beramai-ramai memberitakan apa yang dianggap media lain sebagai ‘Latihan Perang’, Kompas memuat dengan judul “ Melihat Latihan Pasukan Berani Mati” dengan foto yang tidak mengundang emosi massa. Ini di kuatkan dengan leadnya yang bergaya soft feature: “Kicau burung, semilir angin, dan gemericik air terjun di tengah hutan pada sebuah desa di kecamatan Songgo, Kabupaten Banyu Wangi, sayup-sayup terdengar diantara hiruk pikuk latihan sejumlah orang. Tidak kurang dari sekitar 70 orang berpakain kaus warna gelap dan celana loreng sedang ditempa dengan amat keras untuk mengikuti latihan ketahanan fisik. “ sebuah cerita yang faktual dan menarik, tanpa harus memprovokasi pembaaca.

Satu hari menjelang 30 April yang oleh berbagai media dianggap sebagai puncak kecemasan dan kepanikan, Kompas menerbitkan tulisan-tulisan dan foto yang memberiakan wacana perdamaian pada masyarakat.

JAWA POS
Sebagai media yang berbasis di Jawa Timur, pembeitaan tenatang PBM paling banyak di dominasi Jawa Pos dengan19 judul berita pada halaman 1, selisih satu dengan Surya. Wacana kekerasan tetap mendominasi pemberitaan-pemberitaan Jawa Pos denga Judul, lead, foto atau grafis yang mengundang reaksi.

Apalagi ketika pemberitaan “ Latihan perang” yang dikonstruksi Jawa Pos disusul berbagai pemberitaan tentang situasi Jakarta yang mulai memanas sebagi efek pemberitaan Latihan PBM di berbagai kota. Pemberitaan ini direspon /direaksi dengan maraknya pasukan tandingan PBM. Pilihan kata “Latihan perang” merupakan konstruksi wacana kekerasan media, seperti yang di tulis tanggal 14 April degan tulisan bersambung mengnai kegiatan latihan PBM. Jawa Pos memberi sub judul “Menyaksikan latihan perang pasukan berani mati di banyuwangi”.

Dalam foto easy yang diletakan sebagai headline Jawa Pos, 15 April, caption foto sangat profokatif, seperti “ada yang lebih dahsyat: latihan perang , mereka di latih menyerang, menyusup, dan menyergap lawan. Seru….”. Penulisan kata seru ini merupakan kekerasan media, karena berita yang menkutkan dan menimbulkan ketegangan di masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang mengaasyikan.

SURABAYA POST
Dalam memilih judul, Surabaya Post tidak terlalu bersifak provokatif, bahkan terkesan biasa-biasa saja. Namun ada juga judul yang provokatif yaitu “Pendekar KhusuS Latihan Kuasai DPR”. Disitu digambarkan bagaimana PBM berlatih menduduki dan menguasai gedung DPR.

Ada juga foto yang provokatif. Ditampilkan misalnya sosok anggota PBM yang sedang berlatih dengan pakaian militer dan membawa senjata, dengan wajah yang dicoreng waarna hitam dan sorot mata yang tajam,sehingga terkesan menakutkan. Surabaya Post juga sempat memakai kata “Gerombolan” di subjudul tetapi tidak jelas siapa yang di maksud secara langsung oleh Surabay Post sebagai gerombolan. Tetapi melihat beritanya, kata itu jelas di tunjukan untuk anggota PBM .

(Tim Riset LKM: Supri, Dhani)
Dimuat di Bulletin Media Watch Edisi 14, Mei 2001

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s