Bahasa Membentuk Dunia

Kolom antaranews.com

Ya. Bahasa membentuk dunia, tidak mencerminkannya. Bahasa tak lagi sekadar alat menyampaikan kabar, pesan, informasi. Bahasa adalah pesan itu sendiri. Bahasa dapat menyampaikan peristiwa konflik secara damai (membentuk dunia yang damai) atau secara penuh kebencian (menciptakan dunia yang saling bermusuhan). Roger Fowler, dosen bahasa di Universitas East Anglia, mengingatkan para mahasiswanya, pembaca media, dan juga para jurnalis, bahwa “Language can shape, rather than mirror, the world”.

Fowler memang melakukan studi yang cukup intens tentang bagaimana bahasa digunakan oleh media massa untuk membangun gagasan dan kepercayaan. “Language is not neutral, but a highly constructive mediator,” katanya dalam pengantar bukunya Language in the News, Discourse and Ideology in the Press (1991). Sebetulnya studi ini bukan hal baru di kalangan linguist (ahli linguistik). Noam Chomsky sudah lama menyoroti bagaimana media membelokkan makna sebenarnya dari realita, bagaimana media dipenuhi agenda setting dari para pemiliknya, dan bagaimana media –melalui bahasa yang digunakan- dapat menyesatkan pengetahuan atau opini publik (misleading).

Contoh paling jelas untuk teori ini di masa kini adalah kasus Ahmadinejad. Dalam sebuah jumpa pers dia menyebutkan bahwa Iran akan membangun sebuah reaktor nuklir sebagai rekayasa teknologi demi kepentingan rakyat Iran: sumber daya untuk pengadaan listrik, misalnya. Namun wartawan CNN menterjemahkan “teknologi nuklir” itu dengan istilah lain, yakni “senjata nuklir”. Perbedaan makna dua kata itu amat besar dan besar pula dampaknya. Akibatnya dapat diduga. Berita “Iran membangun senjata nuklir” merebak tak terkendali, banyak media di seluruh dunia mengutip demikian dan pembaca atau pemirsa televisi di seluruh dunia dibuat percaya bahwa itulah yang terjadi.

Kesalahan pilihan kata, susunan kalimat, sengaja atau tidak, dapat menyimpangkan makna sesungguhnya dari realita. Ahmadinejad diserang dari berbagai penjuru dunia, dikecam, dikutuk, didatangi badan dunia untuk memeriksa dugaan pembangunan senjata nuklir, dst. Ahmadinejad langsung melakukan banning (pelarangan) pada CNN untuk meliput di Iran. Sengketa ini akhirnya disudahi setelah CNN mengakui kesalahannya (dengan alasan, kurang paham beda kedua kata itu dalam bahasa Parsi), dan CNN kembali meliput di Iran. Namun mengubah pandangan khalayak dunia tentang Iran dan senjata nuklir, tak semudah proses dama Ahmadinejad-CNN, bukan?

Di Indonesia, kerap kita jumpai istilah-istilah yang juga membentuk dunia kita. Karena banyaknya kata “teroris” dan “jihadis” digunakan oleh kepolisian, yang dikutip media begitu saja; rakyat berpikiran bahwa Indonesia adalah dunia yang mencekam. Indonesia adalah sarang teroris dan jihadis. Dunia yang terbentuk di kepala khalayak tentang “Islam radikal” dan “Islam fundamentalis”, akhirnya membuat kita kerap curiga pada orang yang memelihara jenggot, yang celananya cekak/cingkrang, yang pakai gamis. Bahkan kita jengah melihat orang membawa-bawa Al Quran; tetapi biasa saja melihat orang membawa botol minuman keras atau majalah porno. Inilah dunia yang diciptakan media melalui bahasa: bahwa Al Quran lebih mencurigakan/membahayakan daripada majalah porno.

The language is the message. Ini menggarisbawahi Marshal McLuhan, pakar media, yang mengatakan “The medium is the message” (medianya adalah pesannya). Media massa, dalam menyampaikan pesan, bisa menggunakan bahasa dan gambar. Gambar provokatif –misalnya karikatur Nabi Muhammad di koran-koran terbitan Eropah- adalah pesan yang akan ditangkap oleh umat Muslim sebagai “tidak damai”, alias “memancing kemarahan” dan “memicu kebencian”. Gambar-gambar mencekam dari Papua belakangan ini akan dengan mudah menghapus potret kemajuan pembangunan di kawasan itu.

Sebuah harian di Surabaya pernah membuat judul Headlines dengan banner berwarna merah darah “Lekok Masih Mencekam” (Lekok adalah suatu daerah di Pasuruan-Probolinggo yang sedang mengalami sengketa tanah antara penduduk yang mayoritas suku Madura dengan TNI AL). Judul itu tidak merefleksikan adanya negosiasi damai antara kedua belah pihak yang sedang berlangsung pada saat berita dibuat. Bahasa dalam judul itu ingin mendesakkan pesan, dan menciptakan gambaran ‘dunia’ pada pembacanya, bahwa wilayah itu masih mencekam. The language is not mirroring the reality, but shaping a new reality.

Media massa di Indonesia juga kerap menggunakan bahasa yang mengandung hate speech (kebencian) dan judgment (penghakiman). Untuk kerusuhan di Papua, tak jarang media menggunakan judul “Pengacau” atau “Separatis”, tanpa dapat memverifikasi makna kata-kata itu dalam definisi yang dapat dipertanggungjawabkan. Bisa jadi para “pengacau” itu tak bermaksud “separatis”, namun hanya “protes atas ketidakadilan ekonomi”.

Pada hari tulisan ini dibuat, Kompas memakai judul berita utama: “Jakarta Makin Menakutkan”. Bahasa ini melanggar standar jurnalistik presisi yang sudah lama dianut Kompas sendiri (precision journalism), yakni menggunakan kata/bahasa yang bermakna akurat. Adjective (kata sifat) jelas bukan pilihan baik untuk judul berita, apalagi HeadLines. Lebih jauh dari itu, melabel Jakarta sebagai “menakutkan” dalam sebuah judul HL, dapat membuat warga Jakarta ketakutan pergi keluar rumah. Apalagi gambar yang menyertai HL ini adalah sketsa kota Jakarta berwarna hitam gelap, dengan judul berwarna merah “Kejahatan mengincar warga Jakarta”. Ini terkesan menakut-nakuti.

Harian Jawa Pos memilih kata lain di Cover Story-nya, yang tak kalah “judgmental” (menghakimi). Judul Hlnya “”Dijajah” Sinyal Seluler Malaysia”. Kata “Dijajah” memang diletakkan dalam tanda petik, yang maksudnya “belum tentu”, ini masih praduga tim liputan atau narasumber liputan. Bagaimanapun, menempatkan hal yang masih meragukan dalam judul, berpotensi misleading (menyesatkan pemahaman publik). Ingat kasus judul berita Tempo “Ada Tomy di Tenabang?” (2003). Judul dengan tanda tanya itu menunjukkan wartawan atau redaktur memang belum pasti akan hal itu. Berita ini kemudian menimbulkan sengketa berkepanjangan antara Tempo dan Tomy Winata.

Bulan Bahasa telah lewat dan tak banyak temuan baru dalam hal kebahasaan di Indonesia. Sumpah Pemoeda juga telah banyak diperingati secara seremonial. Banyak sumpah dilakukan pada bulan ini (sumpah para menteri baru dalam Kabinet Reshufle, misalnya). Mudah-mudahan sumpah-sumpah itu tidak akan kehilangan maknanya.

November 2011
@ Sirikit Syah
http://www.sirikitsyah.wordpress.com

 

Perihal LKM Media Watch
Mass media are watchdogs. But who watch the media? Let's do it together. Watch this very powerful entity, for better journalism, better Indonesia, better world. http://www.sirikitsyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s