History

ORGANIZATION PROFILE

Lembaga Konsumen Media (Media Consumers’ Board) – Media Watch!

Toward Better Quality of Journalism, Media Professionalism,
and Media Consumers’ Empowerment

A. Latar Belakang
Lembaga Konsumen Media berdiri pada tahun 1999 untuk merespon perkembangan pers bebas dan politik bebas, pada saat masyarakat Indonesia belum berpengalaman dalam hal itu. Pada saat itu Indonesia dalam masa transisi, ada periode kampanye politik, dan pemilihan umum. LKM sangat beruntung dapat meneliti bagaimana media di Indonesia menjalani kebebasannya meliput dan menyoroti partai-partai politik di Indonesia. Hasil pemantauan dan penelitian kemudian diterbitkan di Buletin MediaWatch, yang terbit setiap bulan dan disiarkan dalam program interactive di Radio Suara Surabaya setiap minggu (siaran setiap Selasa pukul 3-4 sore, http://www.suarasurabaya.net).

Selain melaksanakan program-program riset/pemantauan media dan menerbitkan Bulletin Media Watch secara reguler sebulan sekali, LKM juga melakukan pelatihan/workshop dan seminar bagi kalangan jurnalis dan narasumber dalam hubungannya dengan menghadapi dan menjalani pers bebas secara dewasa dan bertanggungjawab. Dalam pandangan LKM, pers tak boleh menggunakan kebebasannya sesuka hati, dan konsumen media tak boleh mudah marah/terprovokasi oleh produk pers yang dikonsumsinya. Selain menyoroti dan mengkritik produk dan perilaku pers, LKM juga mengapresiasi karya jurnalistik dengan memberikan penghargaan kepada media massa; FAIR (Fairness and Accuracy in Reporting) Award tahun 1999 dan Peace Journalism Award tahun 2000.

Bulletin MediaWatch disebarkan ke para pelanggan, di antaranya kantor-kantor Dinas Informasi dan Komunikasi di seluruh provinsi Jawa Timur, beberapa anggota DPR/D dan masyarakat umum, beberapa perpustakaan sekolah, kampus, maupun perpustakaan umum, dan kantor-kantor media massa di seluruh Indonesia.

Sejak 1999, dalam kurun waktu 8 tahun, LKM tak hanya merupakan lembaga pemantau media yang pertama di Indonesia, namun juga satu di antara sedikit yang masih bertahan. Dedikasi dan konsistensi para pengurus membuat LKM bertahan. LKM telah memberikan pelatihan kepada ratusan jurnalis-jurnalis Indonesia sejak Reformasi, ratusan narasumber (Humas, politis, NGO, pejabat pemerintah, dll), dan membuat masyarakat ’melek media’. LKM juga telah menginspirasi dan membantu berdirinya lembaga sejenis (pemantau media) di beberapa propinsi: Bali, Maluku Utara, dimana mereka datang untuk belajar di LKM atau LKM datang ke tempat mereka membantu proses pendirian lembaga. Pada kurun waktu tahun 2000-2002, LKM bersama the British Council memberi pelatihan Jurnalisme Damai pada ratusan jurnalis di wilayah-wilayah konflik.

B. Deskripsi Program
Program kerja LKM meliputi:
1. Riset Media Massa. Kajian riset meliputi media massa besar di Indonesia dengan asumsi signifikansi pembaca secara kuantitas dan segmentasi. Media tersebut meliputi Kompas, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan (harian nasional), Jawa Pos, Surya, Surabaya Post (harian Jawa Timur), Suara Merdeka (representasi wilayah Jawa Tengah), Kedaulatan Rakyat (representasi wilayah DIY), Bali Post (representasi wilayah Indonesia Timur).
Objek riset fleksibel, bergantung topik-topik yang sedang aktual di masyarakat. Tema-tema besar yang pernah dan akan selalu diteliti meliputi:

  • Kajian tentang Peace Journalism (peran media dalam meredam konflik melalui konsep jurnalisme damai). Tema ini dipilih karena hingga kini masih banyak terjadi konflik di daerah.
  • Analisis tentang kualitas karya jurnalistik dalam berita-berita mengenai lembaga/institusional yang berhubungan dengan publik.

Hal ini didasari hasil temuan mengenai rendahnya kualitas tulisan jurnalis dalam memberitakan sebuah institusi. Padahal, apa yang disampaikan sebenarnya berhubungan dengan kebutuhan publik. Selain itu, tulisan jurnalis dapat menentukan citra institusi ybs. dalam benak masyarakat.

  • Kajian tentang media-media Islam (subjektivitas media-media Islam dan kemungkinan pengaruhnya bagi konsumen /pembacanya). Tema ini dipilih dengan pertimbangan oplag media Islam terus meningkat. Artinya tingkat keterbacaannya semakin tinggi. Padahal, seringkali media Islam bersikap agresif dan subjektif sehingga dapat menimbulkan citra yang salah tentang salah satu pihak. Hasil riset AC Nielsen periode April 2005 menunjukkan bahwa pembaca majalah ‘Hidayah’ di sembilan kota besar di Indonesia mencapai hampir 1,5 juta orang. Ini adalah angka pembaca tertinggi untuk jenis media majalah (sumber: CAKRAM edisi Maret 2005).
  • Pengaruh media bagi anak-anak (terutama untuk program anak di TV, komik, dan games). Penelitian bertujuan menemukan ideologi tersembunyi di balik tayangan anak-anak, kekerasan, seks, dan sadisme.
  • Kajian tentang HIV/AIDS di media. Bagaimana framing media dalam memberitakan korban HIV/AIDS? Apakah media sudah memberikan pendidikan kesehatan dalam membantu upaya mengurangi bertambahnya penderita HIV/AIDS?
  • Isu lingkungan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dsb.

2. Penerbitan jurnal MediaWatch! Jurnal ini terbit bulanan. Berisi hasil-hasil riset, opini/kritikan/masukan dari masyarakat/konsumen media, iklan layanan masyarakat, dan sosialisasi tentang regulasi (UU Pers, UU Penyiaran, dll) dan kode etik jurnalistik. Jurnal MediaWatch! dicetak 1500 eksemplar dan didistribusikan ke berbagai jaringan: media massa, birokrat, lembaga publik, partai, perguruan tinggi, LSM, perwakilan asing, dan masyarakat umum. Untuk media massa, Bulletin ini berfungsi sebagai feedback atas produk media dan Litbang eksternal. Untuk non-media atau masyarakat umum, Bulletin ini sebagai wawasan mengenai media massa.

3. Workshop dan Seminar.

  • Workshop bagi jurnalis khususnya di Jawa Timur. Tema workshop berhubungan dengan tujuan meningkatkan kualitas tulisan jurnalis. Bagaimana menulis berita institusional tanpa kesan promotif, menarik, dan tetap melayani kepentingan publik yaitu memperoleh informasi yang benar.
  • Workshop bagi para humas atau public relation bertema “Mass Media Research; Konsep & Praktik”. Pelatihan bertujuan memberikan wawasan dan praktik bagaimana melakukan riset media massa yang hasilnya dapat digunakan sebagai feedback bagi institusi ybs.
  • Seminar hasil riset. Untuk seminar ini akan dipilih satu tema dari hasil riset yang paling mendesak dan signifikan untuk disampaikan pada publik.
  • Sosialisasi tentang peraturan/hukum media. Untuk kegiatan ini LKM akan mengundang terutama kalangan praktisi hukum untuk lebih mendorong digunakannya UU Pers dalam penyelesaian sengketa di bidang jurnalistik. Selain itu audiens dari kalangan masyarakat yang kerap menjadi narasumber dan praktisi media juga dibidik sebagai peserta aktif.

4. Siaran Interaktif di radio Suara Surabaya. Program ini merupakan hasil kerjasama LKM dan radio Suara Surabaya. Radio Suara Surabaya merupakan salah satu radio paling berpengaruh di Indonesia. Kesuksesannya menyiarkan program-program berbasis massa (misalnya dialog interaktif) turut mencerdaskan dan memberdayakan konsumen media dan menumbuhkan kesadaran hukum. Siaran ini telah berlangsung sejak Agustus 1999 dan tercatat sebagai program yang paling banyak menerima call-in pendengar (Riset AC Nielsen) di Radio SS.

5. Database. Divisi ini akan menyusun data-data yang berkaitan dengan produk dan perilaku media massa berdasarkan kliping media dan observasi periset. Termasuk data mengenai kasus-kasus pers di Indonesia dan catatan mengenai kasus kekerasan yang menimpa jurnalis.

6. Layanan informasi & Perpustakaan. Program ini dibuat untuk mengantisipasi kebutuhan konsumen akan informasi baik yang berkaitan dengan media massa maupun hukum khususnya hukum/regulasi di bidang media. Dengan koleksi buku/referensi di LKM, mahasiswa atau masyarakat dapat memanfaatkan layanan baca di tempat.

7. Diskusi. Secara berkala, LKM menyelenggarakan diskusi kecil bagi mahasiswa/masyarakat umum/jurnalis mengenai topik-topik yang berkaitan dengan media massa, komunikasi, sosial budaya, dan hukum.

8. Advokasi. Para pendiri, Pembina, dan pengurus LKM siap memberikan advokasi pada pihak-pihak yang mengalami sengketa pers.

C. Biaya Program

LKM membiayai program-programnya secara mandiri/swadaya, antara lain dari:

  1. Dukungan para pendiri dan anggota Yayasan LKM
  2. Income dari pelanggan Bulletin Media Watch
  3. Pendapatan dari pelatihan-pelatihan (publik maupun in-house).

Meskipun demikian, LKM juga pernah –secara insidental- menerima bantuan dana dari:

  1. USAID
  2. PT Semen Gresik
  3. Dukungan media massa berupa pemasangan iklan di Bulletin
  4. Kerjasama siaran radio tanpa biaya
  5. Sumber-sumber lain.

End of Profile,
Surabaya, Oktober 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s